Managib

MANAGIB SAYYIDINA AL-USTADZ AL-A’ZHAM AL-QUTB AL-GHAUTS AL-KARAM AL-FAQIH AL-MUQADDAM MUHAMMAD BIN ALI BA’ALAWI

Disusun oleh Assayyid al’allamah ad-Da’I Ilallah Alhabib Muhammad Rafiq bin Luqman Alkaff Gathmyr

Managib ini adalah riwayat hidup“Sayyidina Syech As-Syuyukh Min Ahli As-Syari’ah Wat Thariqah Wa Imam Ahli Al-Haqiqah, Wa Farid Dahrihi Wa Ghazali Ashrihi Sayyid Al-Fariqain, Sayyid Thaiqah As-Shufiyah Wa Markaz Dairah Al-Wilayah Ar-Rabbaniyah Qudwah Al-Ulama Al-Muhaqqiqin, Taj Al-Aimmah Al-Arifin” Guru dari segala guru Ahli Syari’ah dan Thariqah
Imam bagi para Ahli Hakekat Ulama yang tiada bandingan bagai Imam Al-Ghazali dizamannya
Pemimpin dua golongan; Figh dan Tasawuf Pemimpin para kaum Shufi, Sumber ke-Walian yang berasal dari Tuhan Panutan bagi seluruh Ulama’ Ahli Al-Haqeqat, Mahkota kepemimpinan kaum Al-‘Arifin, beliau adalah: Sayyidina Al-Ustadz Al-A’zham Al-Qutb Al-Ghauts Al-Karam Al-Faqih Al-Muqaddam “Abu Alwi”:  “Muhammad bin Ali Ba’alawi Ra.” Wanafa’ana bibarkatihi fi Dunyawiyyat Wal Ukhrawiyyat Amin.
I. TEMPAT LAHIR DAN WAFATNYA SAYYIDINA AL-FAQIH AL-MUQADDAM RA

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, dilahirkan pada tahun 574 H/1176 M di Tarim, Hadhramaut Yaman Selatan, Beliau wafat pada tahun 653 H pada usia 79 tahun, pada malam Jum’at Zulhijjah 653 H, atau malam minggu di akhir bulan Zulhijjah tahun 653 H /1255M, dan dikebumikan di “Zanbal”, penanggalan wafat beliau diikhtisarkan dengan hitungan abjad Hijaiyah pada kalimat “Abu Tarim”. Kota kelahiran beliau; Tarim yaitu satu kota kecil di Yaman Selatan, adalah kota yang dipenuhi keberkahan dari Allah SWT, makmur dengan orang-orang sholeh, ulama dan para wali Allah. (baca: Hadhramaut dan Tarim)

II.NASAB SAYYIDINA AL-FAQIH AL-MUQADDAM R.A

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, dibesarkan dalam lingkungan kaum Sholihin, beliau adalah keturunan Rasul Allah SAW, dari Sayyidina Al-Husain Ra (Al-Husainy) mengenai keabsahan nasab beliau ini telah dibenarkan oleh banyak para Ahli Nasab, nasab beliau ini bukan hanya sekedar tali keturunan belaka, tapi sekaligus juga sebagai mata rantai dari Thariqah Bani Alawi, yakni nara sumber yang diterima anak dari ayah dan terus ke kakek sampai seterusnya.
Nasab Sayyidina Al-Faqih Ra adalah sebagai berikut;

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zaenal Abidin bin Al-Imam Al-Husain As-Sibti bin Al-Imam Ali Karromallahu wajhah.

Tokoh-tokoh yang ada dalam rantai nasab Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, dari ayahanda dan kakek beliau dan terus sampai ke Sayyidina Al-Husain Ra, semuanya adalah para Wali Allah dan Ulama’ terbesar dizamannya dan mereka semua adalah Zurriyah Baginda Rasul Allah SAW.

III. ISTERI DAN ANAK-ANAK SAYYIDINA AL-FAQIH RA

Isteri Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra adalah seorang Syarifah yang mulia dan Sholehah sepupu beliau dari sebelah ayah yaitu; Ummul Fuqara’ Al-Hababah Zainab binti Ahmad bin Muhammad Sohib Marbath R.anha, yang juga merupakan Khalifah beliau, Al-Hababah Zainab adalah seorang “Waliyah” yang mempunyai kekeramatan yang banyak, diriwayatkan bahwa satu malam turun hujan yang sangat lebat di “Dammun”, hampir-hampir membuat banjir, para penduduk didaerah itu merasa sangat cemas karena hujan yang sedemikian derasnya bisa membuat rumah-rumah mereka menjadi roboh, (lazimnya rumah didaerah tersebut dan Jazirah Arab pada umumnya dibuat dari tanah liat dikarenakan musim hujan jarang hal ini menjadikan rumah mereka sangatlah rentan terhadap air) ,pada saat itu Al-Hababah Zainab meminta kepada para penduduk untuk tidak meninggalkan rumah mereka beliau berkata;
“Pulanglah kalian kerumah masing-masing karena aku telah mendengar suara Malaikat diawan berkata:”Qaydhun….Qaydhun”.Lalu para pendudukpun pulang kerumah masing-masing, taklama berselang ternyata yang tertimpa banjir adalah Wadi Qaydhun , persis seperti yang dikatakan Al-Hababah Zainab, padahal jarak Qaydhun dari Dammun ditempuh dalam tiga hari perjalanan, Al-Hababah Zainab berpulang ke Rahmat Allah hari Sabtu 12 Syawal 669H Hanya dari Al-Hababah Zainab R.anha Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra mendapatkan anak-anak yang ternyata seiring dengan berjalannya waktu menjadi pengayom Umat dan Ulama’ terbesar, semuanya berjumlah 5 orang dan semuanya laki-laki, yaitu:

  1. As-Syech ‘Alwi Al-Ghuyur
  2. As-Syech Abdullah
  3. As-Syech Abdurrahman
  4. As-Syech ‘Ali
  5. As-Syech Ahmad Radhiallahu Anhum Ajma’in

Mereka semuanya adalah Ulama’ dan para Wali Allah yang utama penerus dan pengganti ayahanda mereka Sayyidina Al-Faqih Ra.
IV. GURU-GURU SAYYIDINA AL-FAQIH AL-MUQADDAM R.A

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra dididik oleh para Ulama’ yang terkemuka dari berbagai prinsip Ilmu pengetahuan, seperti Figh, Lughah, Tasawuf, dan berbagai ilmu-ilmu lainnya yang beliau pelajari langsung dari para ahlinya masing-masing. Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra memperdalami ilmu Fiqh kepada: As-Syech Abdullah bin Abdurrahman Ba’ubayd As-Syech Abdullah bin Abdurrahman Ba’ubayd menghormati dan memuliakan Sayyidina Al-Faqih sekalipun beliau adalah muridnya. As-Syech Abdullah Ba’ubayd tidak akan mengajar sebelum dilihat oleh beliau Sayidina Al-Faqih telah hadir ke Majlis beliau, bilamana Sayidina Al-Faqih tidak datang beliaupun tidak akan mengajar. Perilaku beliau yang tidak lazim ini banyak ditanyakan orang, beliaupun lalu menjelaskan: ”Sesungguhnya aku menunggu izin untuk mengajar dari Allah SWT”. Jawaban beliau ini mengisyaratkan betapa mulianya derajat Sayidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra dalam pandangan beliau karena “Izin” dari Allah SWT seperti yang beliau maksud tak pelak lagi adalah “mesti hadirnya” murid beliau sendiri yaitu; Sayidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra. Selain beliau Sayyidina Al-Faqih juga memperdalami Fiqh kepada;Al-Qodhy Ahmad bin Muhammad Ba’isa  dan beliau memperdalami ilmu Ushul serta beberapa prinsip ilmu lainnya kepada: Al-Imam As-SyechAli bin Ahmad bin Salim Bamarwan dan
Al-Imam Muhammad bin Abu Al-Hub beliau memperdalami ilmu Tafsir dan Hadist dari: Al-Imam Al-Hafidz Al-Mujtahid As-Sayyid Ali bin Ahmad Bajudaid, dan memperdalami ilmu Tasawwuf dan Hakekat dari: Al-Imam Salim bin Basri dan Al-Imam Muhammad bin Ali Al-Khatib, dan paman beliau sendiri yaitu:  As-Syech Al-Habib Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath,dan As-Syech Sufyan Al-Yamani, dan masih banyak lagi Para Ulama’ dan Awliya’ yang telah membimbing beliau.As-Syech Sa’id bin Isa Al-‘Amudy, menurut riwayat didepan beliaulah Sayyidina Al-Faqih Ra meletakkan pedang.

Semua guru beliau telah sama mengisyaratkan bahwa Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Ra telah mencapai satu maqam yang sangat luar biasa, sehingga membuat kecil maqam-maqam lainnya bila dibandingkan dengan “Maqam” yang telah Allah SWT berikan kepada beliau.
Pada masa Sayyidina Al-Faqih Ra, ilmu yang sedang berkembang pesat di Tarim Hadhramaut adalah ilmu Fiqh, jadi kebanyakan para Ulama’ disana adalah para Faqih , sedangkan ilmu Tasawwuf di Tarim dikala itu, belum berkembang pesat, kelak pada akhirnya nanti Sayyidina Al-Faqih lah sendiri yang mempelopori dan menghidupkan dan sekaligus menjadi Imam untuk pertama kalinya, bagi kaum “Mutasawwifin” di Tarim Hadhramaut, hal ini ditegaskan lagi oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Attas; ”Beliaulah orang pertama yang menyandang gelar “Syech bagi kaum Sufi” di Hadhramaut”
V. RIWAYAT KHIRQAH SAYYIDINA AL-FAQIH RA.

Definisi Al-Khirqah menurut As-Syech Muhyiddin Ibn Al-‘Araby Ra didalam Kitabnya “Al-Futuhat”adalah: “Perlambang dari persahabatan, Ta‘addub dan Takhalluq” Selanjutnya Qaul Ibn Al-‘Araby ini dikomentari oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Athas Ra: “Sedangkan (kain) Khirqahnya sendiri (secara Majazi) terkadang memang tidak mesti dari Rasul Allah SAW secara langsung, Al-Libas itu sendiri sebenarnya adalah simbol dari Al-Libas yang Haqiqi yaitu Al-Libas At-Taqwa, telah menjadi kebiasaan dari para Wali Ash-Hab Al-Ahwal ,bilamana mereka mendapati kekurangan pada diri mereka maka merekapun akan mencari seorang guru atau Syech dari Jama’ah mereka untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan Lahiriyah maupun Bathyniyah pada diri mereka, dan bilamana segala kekurangan tersebut telah sempurna, maka merekapun diberikan “Al-Libas” sebagai simbol untuk penyempurnaan lebih lanjut, inilah Al-Libas yang dikenal dikalangan kita sebagaimana Nash Al-Manqul dari para Ulama’-ulama’ Ahli Haqeqat” Khirqah para Wali mempunyai nilai prestise tinggi bagi masing-masing Wali yang bersangkutan, begitu pula Al-Khirqah Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra mempunyai satu nilai keistimewaan yang telah melampaui dimensi pemikiran orang-orang yang dikatakan oleh kaum Sufi sebagai “Ahli Al-Khawwash”, Khirqah yang beliau terima adalah Khirqah “Imamah Qutb Al-Kubra” yang merupakan perlambang dari “pangkat kepemimpinan tertinggi bagi para Wali dimasa itu”. Khirqah ini beliau terima dari As-Syech Al-Kabir Al-Qutb Al-Syahir “Abu Madyan” Syu’aib bin Abu Al-Husain At-Tilamisany Al-Maghriby , perlu pembaca ketahui Khirqah ini diberikan kepada Sayyidina Al-Faqih Ra bukanlah dengan kebetulan dan bukan pula karena permintaan beliau, tapi Khirqah ini diberikan kepada Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra sesuai dengan Isyarah dari Ri’ayah Ilahiyah.

Mengenai kebesaran serta keutamaan As-Syech Abu Madyan, bisa kita bayangkan sekilas, berdasarkan perkataan As-Syech Ali As-Sakran, kata beliau: “As-Syech Abu Madyan adalah seorang “Pemimpin” para wali pada zamannya yang telah dizhohirkan oleh Allah SWT pada dirinya keajaiban-keajaiban sebagai tanda kebesaran-Nya, dan telah tersibak baginya rahasia-rahasia keghaiban dan namanya telah termasyhur di seluruh penjuru Negeri”. Dari Tarbiyah beliau, telah banyak lahir ulama-ulama besar, nama beliau sangat termasyhur dengan ketinggian Ilmunya sehingga banyak tokoh-tokoh Tasawwuf terkemuka yang meminta pengajaran dan fatwa-fatwa beliau; beliau sangat disegani dikalangan para Ulama’ dan Masyaikh-Masyaikh dari seluruh Mazhab Thariqah. Berkaitan mengenai Riwayat Khirqah Sayyidina Al-Faqih, diceritakan bahwa telah datang seorang Darwiys dari Syam (Syria) yang bernama Fadl menemui beliau (Sayyidina Al-Faqih Ra), Darwisy tersebut berkata kepada Sayyidina Al-Faqih: “Tidaklah aku datang (ke Tarim) kecuali semata-mata untuk menemuimu, tetapi aku mendapati As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad sedang bermukim di dalam hatimu. Jika berkumpul seluruh orang dari barat dan Timur untuk mengeluarkan dia dari hatimu maka tidak akan ada yang sanggup, bilamana ia telah datang kepadamu, perhatikanlah urusannya ia hanyalah seorang Muhtasab sedangkan engkau adalah seorang wali yang telah mempunyai nisbah”. Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam bertanya: “Apakah yang engkau maksud dengan nisbah?” Darwisy tersebut menjawab: “Sidrah Al-Muntaha”. Tak lama berselang setelah peristiwa datangnya Darwisy tersebut, dengan Qudrah dan Iradah Allah SWT, As-Syech Al-Kabir Al-Qutb Abu Madyan Syu’aib bin Abu Hasan At-Tilmisaniy Al-Maghriby yang pada saat itu sedang berada di Tilmisan Al-Jazair mengutus muridnya yang bernama As-Syech Abdurrahman bin Muhammad Al-Maq’ad seraya bertitah: “Sesungguhnya kami mempunyai seorang teman di Hadhramaut (Tarim), pergilah engkau menemuinya, dan pakaikanlah Al-Khirqah kepadanya, sesungguhnya aku melihatmu akan menemu ajal di tengah perjalanan, bilamana hal tersebut akan terjadi, maka titipkanlah (Al-Khirqah) ini kepada orang yang engkau percayai”, kemudian pergilah As-Syech Abdurrahman dari Tilmasan, dengan tujuan ke Hadhramaut, ketika ia sampai di kota Mekkah ia pun mendekati Sakratul maut kemudian ia menyerahkan Khirqah tadi kepada muridnya yaitu As-Syech Abdullah As-Sholeh Al-Maghriby seraya berpesan untuk menyerahkan Al-Khirqah tersebut. Dan beliau mengisyaratkan dengan ke kasyafannya; “Pada saat engkau masuk ke kota Tarim engkau akan mendapati As-Syech As-Syarif Muhammad bin Ali yang pada saat engkau temui nanti, dikala itu sedang belajar dengan As-Syech Ali Bamarwan, setelah engkau bertemu dengan beliau, lanjutkanlah perjalananmu ke Qoydun dan temui As-Syech Sa’id bin Isa Al-‘Amudy dan berikanlah juga sebagian Khirqah ini kepadanya”. Tak lama kemudian As-Syech Abdurrahman Al -Maq’ad wafat , lalu pergilah As-Syech Abdullah As Sholeh Al-Maghriby ke Tarim, ketika beliau sampai, ia pun langsung menemui Sayyidina Al-Faqih Muqaddam yang sedang belajar dengan As-Syech Ali Bamarwan persis seperti yang telah dikatakan oleh As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad, ia pun lalu duduk bersama Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam, lalu Sayyidina Al-Faqih Muqaddam (yang telah mengetahui akan khabarnya As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad dari Darwisy yang kami ceritakan tadi), dengan kekasyafan kewalian, bertanya kepada As-Syech Abdullah As-Sholeh dengan bahasa Isyarah: “Wahai saudara  permata apakah yang engkau bawa yang sedemikian cemerlangnya?” As-Syech Abdullah As-Sholeh lalu bertanya (dengan maksud menguji): “Apakah gerangan yang engkau maksud dengan cemerlang?” Al-Faqih Al-Muqaddam menjawab; “At-Tahkim Khirqah yang telah dititipkan kepadamu”

Lalu As-Syech Abdullah menceritakan perihal kedatangannya, dari awal sampai akhir lalu titipan “Khirqah” tersebut disambut dan diterima oleh Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam, dari semenjak itu dimulailah perjalanan Suluk beliau menuju Allah SWT, sibuklah Sayyidina Al-Faqih dengan Ibadah Zhahiriyah dan Batiniyah sehingga akhirnya terzhohirlah seluruh perkara-perkara yang Khafiy, dan mulailah Hal beliau sebagaimana Ahwal-nya orang-orang Khawas Al-Khawas, sebagai seorang Sufi dan Wali yang terbesar pada zamannya, beliau mulai menyibukkan diri beliau dengan ber-Taqarrub kepada Allah SWT dalam ber-Uzlah, guna menenggelamkan diri beliau dalam lautan Ma’rifah dan Asrar-Nya yang tak bertepi, dalam Ahwal ‘Asyiq Wal Ma’syuq dengan Rabb nya.
VI. SILSILAH KHIRQAH SAYYIDINA AL-FAQIH AL-MUQADDAM RA

Silsilah Khirqah Sayyidina Al-Faqih Ra ada dua, yang pertama berasal dari nasab beliau sendiri, dimulai dari ayahanda beliau, dan yang kedua dari As-Syech Abu Madyan Syu’aib Al-Maghriby. Silsilah yang pertama yaitu berasal dari ayahanda beliau sendiri yaitu Al-Imam Al-Habib Ali Ba’alawi silsilah tersebut adalah sebagai mana nasab Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra yang telah kami uraikan diatas. Adapun Silsilah yang kedua yaitu berasal dari As-Syech Abu Madyan Syu’aib Al-Maghriby dengan “Al-Wasithah” dua Syech yaitu

1.As-Syech Abdullah “As-Sholih” bin Ali Al-Maghriby yang diutus oleh

2.As-Syech Abdur Rahman bin Muhammad Al-Maq’ad yang diutus oleh As-Syech Abu Madyan Syua’aib Al-Maghriby.

Secara detail silsilah Khirqah Sayyidina Al-Faqih Ra adalah sebagai berikut secara berurutan

1. As-Syech Abu Madyan Syu’aib bin Abu Al-Husain Al-Maghriby dari:

2. Al-Imam Abu Ya’za dari:

3. Al-Imam Nur Ad-Din Abu Al-Hasan Ali bin Hirzihim (ada yg meriwayatkan;Ibn Hirazim) dari:

4. Al-Imam Al-Hafizd Al-Faqih Al-Qadhy Abu Bakar bin Abdullah Al-Ma’afiry dari:

. Al-Imam Al-Hujjah Al-Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazaly dari:

6. As-Syech Al-Islam Wal Muslimin Imam Al-Haramain Abdul Malik beliau mengambil dari ayahandanya sendiri yaitu:
7. As-Syech Muhammad bin Abdullah bin Yusuf Al-Juwainy dari:
8. As-Syech Al-Arif Billah Ta’ala Abu Thalib Al- Makky Muhammad bin Ali bin Athyyah dari:
9. Al-Imam Al-Kabir Abu Bakar Dullaf ibn Jahdar As-Syibly dari:
10. Al-Ustazd Ahli At-Thariqah Wa Imam Ahli Al-Haqiqah Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Baghdady beliau mengambil dari “Khalnya” yaitu;
11. As-Syech As-Syahir Abu Al-Hasan As-Sirry Al-Mughallis As-Siqty (As-Saqaty) dari:
12. As-Syech Al-Arif Billah Ta’ala Abu Mahfuzd Ma’ruf bin Fairuz Al-Karakhy dari:
13. Al-Imam Abu Sulaiman Daud bin Nushair At-Tha’iy dari:
14. As-Syech Abu Muhammad Habib bin Muhammad Al-Ajamy Al-Kharasany dari:
15. Al-Imam Al-Kabir As-Syahir Abu Sa’aid Al-Hasan bin Abu Al-Hasan Al-Bashry dari:
16. Al-Imam Ahli Al-Masyariq Wal Magharib Sayyidina Ali Bin Abu Thalib Ra
Al-Imam Ali bin Abu Thalib Ra dari Sayyidina Wa Habibana Rasul Allah SAW.
Dari Al-Imam Ma’ruf Al-Karakhy ada dua arah silsilah (bercabang dua arah), yang pertama seperti diatas dan silsilah beliau yang kedua dari Ahl Al-Bayt adalah sebagai berikut:

12. As-Syech Al-Arif Billah Ta’ala Abu Mahfuzd Ma’ruf bin Fairuz Al-Karakhy
13. Al-Imam Ali Ar-Ridha Ra, dari ayahnya;
14. Al-Imam Musa Al-Kazhim Ra dari ayahnya;
15. Al-Imam Ja’far As-Shodiq Ra dari ayahnya;
16. Al-Imam Muhammad Al-Bagir Ra dari ayahnya;
17. Al-Imam Ali Zainal Abidin Ra dari ayahnya;
18. Al-Imam Al-Husain As-Sibthy Ra dari ayahnya;
19. Al-Imam Ali bin Abu Thalib Ra, selanjutnya sama seperti yang kami uraikan diatas

Al-Imam Ahmad bin Isa Al – Muhajir

Al-Imam Ahmad Al-Muhajir – Isa Ar-Rumi – Muhammad An-Naqib – Ali Al-‘Uraidhi – Ja’far Ash-Shodiq – Muhammad Al-Baqir – Ali Zainal Abidin – Husain – Fatimah Az-Zahro – Muhammad SAW

Makam Imam Ahmad bin Isa

Al-Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, nasabnya bersambung sampai Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang yang tinggi di dalam keutamaan, kebaikan, kemuliaan, akhlak dan budi pekertinya, juga seorang yang sangat dermawan dan pemurah.

Al Imam Ahmad Al-Muhajir berasal dari negara Irak, tepatnya di kota Basrah. Ketika mencapai kesempurnaan di dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, bersinarlah mata batinnya dan memancarlah cahaya kewaliannya, sehingga tersingkaplah padanya hakekat kehidupan dunia dan akherat, mana hal-hal yang bersifat baik dan buruk.

Al-Imam Ahmad Al-Muhajir di Irak adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi dan kehidupan yang makmur. Akan tetapi ketika mulai melihat tanda-tanda menyebarnya racun hawa nafsu disana, beliau lebih mementingkan keselamatan agamanya dan kelezatan untuk tetap beribadah menghadap Allah SWT. Beliau mulai menjauhi itu semua dan membulatkan tekadnya untuk berhijrah, dengan niat mengikuti perintah Allah, “Bersegeralah kalian lari kepada Allah…”

Adapun sebab-sebab kenapa beliau memutuskan untuk berhijrah dan menyelamatkan agamanya dan keluarganya, dikarenakan tersebarnya para ahlul bid’ah dan munculnya gangguan kepada para Alawiyyin, serta begitu sengitnya intimidasi yang datang kepada mereka. Pada saat itu muncul sekumpulan manusia-manusia bengis yang suka membunuh dan menganiaya. Mereka menguasai kota Basrah dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka membunuh dengan sadis para kaum muslimin. Mereka juga mencela kaum perempuan muslimin dan menghargainya dengan harga 2 dirham. Mereka pernah membunuh sekitar 300.000 jiwa dalam waktu satu hari. Ash-Shuly menceritakan tentang hal ini bahwa jumlah total kaum muslimin yang terbunuh pada saat itu adalah sebanyak 1.500.000 jiwa.

Pemimpin besar mereka adalah seorang yang pandir dengan mengaku bahwa dirinya adalah Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zainal Abidin, padahal nasab itu tidak ada. Ia suka mencaci Utsman bin AffanAli bin Abu ThalibThalhah bin UbaidillahZubair bin AwwamSiti Aisyah dan Muawiyah. Ini termasuk salah satu golongan dalam Khawarij.

Karena sebab-sebab itu, Al-Imam Ahmad Al-Muhajir memutuskan untuk berhijrah. Kemudian pada tahun 317 H, berhijrahlah beliau bersama keluarga dan kerabatnya dari Basrah menuju ke Madinah. Termasuk di dalam rombongan tersebut adalah putra beliau yang bernama Ubaidillah dan anak-anaknya, yaitu Alwi (kakek keluarga Ba’alawy), Bashri (kakek keluarga Bashri), dan Jadid (kakek keluarga Jadid). Mereka semua adalah ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang sufi dan saleh. Termasuk juga yang ikut dalam rombongan beliau adalah para budak dan pembantu beliau, serta termasuk didalamnya adalah kakek dari keluarga Al-Ahdal. Dan juga ikut diantaranya adalah kakek keluarga Bani Qadim (Bani Ahdal dan Qadim adalah termasuk keturunan dari paman-paman beliau).

Pada tahun ke-2 hijrahnya beliau, beliau menunaikan ibadah haji beserta orang-orang yang ikut hijrah bersamanya. Kemudian setelah itu, melanjutkan perjalanan hijrahnya menuju ke Hadramaut. Masuklah beliau ke daerah Hajrain dan menetap disana untuk beberapa lama. Setelah itu melanjutkan ke desa Jusyair. Tak lama disana, lalu melanjutkan kembali perjalanannya dan akhirnya sampailah di daerah Husaisah (nama desa yang berlembah dekat Tarim). Akhirnya beliau memutuskan untuk menetap disana.

Makam Imam Ahmad bin Isa

Semenjak menetap disana, mulai terkenallah daerah tersebut. Disana beliau mulai menyebarkan-luaskan As-Sunnah. Banyak orang disana yang insyaf dan kembali kepada As-Sunnah berkat beliau. Beliau berhasil menyelamatkan keturunannya dari fitnah jaman.

Masuknya Al-Imam Ahmad Al-Muhajir ke Hadramaut dan menetap disana banyak mendatangkan jasa besar. Sehingga berkata seorang ulama besar, Al-Imam Fadhl bin Abdullah bin Fadhl, “Keluar dari mulutku ungkapan segala puji kepada Allah. Barangsiapa yang tidak menaruh rasa husnudz dzon kepada keluarga Ba’alawy, maka tidak ada kebaikan padanya.” Hadramaut menjadi mulia berkat keberadaan beliau dan keturunannya disana. Sulthanah binti Ali Az-Zabiidy (semoga Allah merahmatinya) telah bermimpi bertemu Rasulullah SAW, dimana di mimpi tersebut Rasulullah SAW masuk ke dalam kediaman salah seorang Saadah Ba’alawy, sambil berkata, “Ini rumah orang-orang tercinta. Ini rumah orang-orang tercinta.”

MANAQIB SYEKH ABD.QODIR JAILANI

Syekh Abdul Qadir al-Jaylani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia. Peringatan Haul waliyullah ini pun selalu dirayakan setiap tahun oleh umat Islam Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karamahnya dibandingkan ajaran spiritualnya.Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran karamahnya, Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban.
Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al-Jaylani. Al-Jaylani merupakan penisbatan pada Jil, daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia dilahirkan. Selain Jil, tempat ini disebut juga dengan Jaylan dan Kilan.
NASAB
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., puteri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah puteri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasaniyin sekaligus Huseiniyin.

MASA MUDA
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan agar lebih baik, apa yang disebut ‘pengalaman-pengalaman mistik’. Ketika berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan keghairahan untuk bersama para orang saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban. Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-A’dzam atau wali Ghauts terbesar.

Dalam terminologi kaum sufi, seorang Ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama’ besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur’an bagi orang semacam itu. Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.

Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Kala hendak berangkat, sang ibu diantaranya berpesan agar jangan berdusta dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut.

Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan, menghadanglah segerombolan perampok. Kala menjarahi, para perampok sama sekali tak memperhatikannya, karena ia tampak begitu sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang perampok menanyainya apakah ia mempunyai uang atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab: “Ya, aku punya delapan puluh keping emas yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku.” Tentu saja para perampok terperanjat keheranan. Mereka heran, ada manusia sejujur ini.

Mereka membawanya kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan puluh keping emas sebagaimana dinyatakannya. Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia kisahkan segala yang terjadi antara dia dan ibunya pada saat berangkat, dan ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan tak bermakna upayanya menimba ilmu agama. Mendengar hal ini, menangislah sang kepala perampok, jatuh terduduk di kali Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Diriwayatkan, bahwa kepala perampok ini adalah murid pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.
BELAJAR DI BAGHDAD

Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya. Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri. Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah*).

Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makanan. Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang yang berfikir serba ruhani, dan berintim dengan mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan wali besar pada zamannya.
Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua ini sebagai koreksi bagi kecacatan ruhaninya.

LATIHAN-LATIHAN RUHANIAH
Setelah menyelesaikan studinya, ia kian keras terhadap diri. Ia mulai mematangkan diri dari semua kebutuhan dan kesenangan hidup. Waktu dan tenaganya tercurah pada shalat dan membaca Qur’an suci. Shalat sedemikian menyita waktunya, sehingga sering ia shalat shubuh tanpa berwudhu lagi, karena belum batal.
Diriwayatkan pula, beliau kerapkali khatam membaca Al-Qur’an dalam satu malam. Selama latihan ruhaniah ini, dihindarinya berhubungan dengan manusia, sehingga ia tak bertemu atau berbicara dengan seorang pun. Bila ingin berjalan-jalan, ia berkeliling padang pasir. Akhirnya ia tinggalkan Baghdad, dan menetap di Syustar, dua belas hari perjalanan dari Baghdad. Selama sebelas tahun, ia menutup diri dari dunia. Akhir masa ini menandai berakhirnya latihannya. Ia menerima nur yang dicarinya. Diri-hewaninya kini telah digantikan oleh wujud mulianya.

DICOBA IBLIS

Suatu peristiwa terjadi pada malam babak baru ini, yang diriwayatkan dalam bentuk sebuah kisah. Kisah-kisah serupa dinisbahkan kepada semua tokoh keagamaan yang dikenal di dalam sejarah; yakni sebuah kisah tentang penggodaan. Semua kisah semacam itu memaparkan secara perlambang, suatu peristiwa alamiah dalam kehidupan.
Misal, tentang bagaimana nabi Isa as digoda oleh Iblis, yang membawanya ke puncak bukit dan dari sana memperlihatkan kepadanya kerajaan-kerajaan duniawi, dan dimintanya nabi Isa a.s., menyembahnya, bila ingin menjadi raja dari kerajaan-kerajaan itu. Kita tahu jawaban beliau, sebagai pemimpin ruhaniah. Yang kita tahu, hal itu merupakan suatu peristiwa perjuangan jiwa sang pemimpin dalam hidupnya.
Demikian pula yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Kala beliau kukuh berdakwah menentang praktek-praktek keberhalaan masyarakat dan musuh-musuh beliau, para pemimpin Quraisy merayunya dengan kecantikan, harta dan tahta. Dan tak seorang Muslim pun bisa melupakan jawaban beliau: “Aku sama sekali tak menginginkan harta ataupun tahta. Aku telah diutus oleh Allah sebagai seorang Nadzir**) bagi umat manusia, menyampaikan risalah-Nya kepada kalian. Jika kalian menerimanya, maka kalian akan bahagia di dunia ini dan di akhirat kelak. Dan jika kalian menolak, tentu Allah akan menentukan antara kalian dan aku.”
Begitulah gambaran dari hal ini, dan merupakan fakta kuat kemaujudan duniawi. Berkenaan dengan hal ini, ada dua versi kisah tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani. Versi pertama mengisahkan, bahwa suatu hari Iblis menghadapnya, memperkenalkan diri sebagai Jibril, dan berkata bahwa ia membawa Buraq dari Allah, yang mengundangnya untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.
Sang Syaikh segera menjawab bahwa si pembicara tak lain adalah si Iblis, karena baik Jibril maupun Buraq takkan datang ke dunia bagi selain Nabi Suci Muhammad saw. Setan toh masih punya cara lain, katanya: “Baiklah Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu.” “Enyahlah!, bentak sang wali.” Jangan kau goda aku, bukan karena ilmuku, tapi karena rahmat Allahlah aku selamat dari perangkapmu”.

Versi kedua mengisahkan, ketika sang Syaikh sedang berada di rimba belantara, tanpa makanan dan minuman, untuk waktu yang lama, awan menggumpal di angkasa, dan turunlah hujan. Sang Syaikh meredakan dahaganya. Muncullah sosok terang di cakrawala dan berseru: “Akulah Tuhanmu, kini Kuhalalkan bagimu segala yang haram.” Sang Syaikh berucap: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Sosok itu pun segera pergi berubah menjadi awan, dan terdengar berkata: “Dengan ilmumu dan rahmat Allah, engkau selamat dari tipuanku.”

Lalu setan bertanya tentang kesigapan sang Syaikh dalam mengenalinya. Sang Syaikh menyahut bahwa pernyataannya menghalalkan segala yang haramlah yang membuatnya tahu, sebab pernyataan semacam itu tentu bukan dari Allah.

Kedua versi ini benar, yang menyajikan dua peristiwa berlainan secara perlambang. Satu peristiwa dikaitkan dengan perjuangannya melawan kebanggaan akan ilmu. Yang lain dikaitkan dengan perjuangannya melawan kesulitan-kesulitan ekonomi, yang menghalangi seseorang dalam perjalanan ruhaniahnya.

Kesadaran aka kekuatan dan kecemasan akan kesenangan merupakan kelemahan terakhir yang mesti enyah dari benak seorang salih. Dan setelah berhasil mengatasi dua musuh abadi ruhani inilah, maka orang layak menjadi pemimpin sejati manusia.

PANUTAN MASYARAKAT
Kini sang Syaikh telah lulus dari ujian-ujian tersebut. Maka semua tutur kata atau tegurannya, tak lagi berasal dari nalar, tetapi berasal dari ruhaninya.

Kala ia memperoleh ilham, sebagaimana sang Syaikh sendiri ingin menyampaikannya, keyakinan Islami melemah. Sebagian muslim terlena dalam pemuasan jasmani, dan sebagian lagi puas dengan ritus-ritus dan upacara-upacara keagamaan. Semangat keagamaan tak dapat ditemui lagi.

Pada saat ini, ia mempunyai mimpi penting tentang masalah ini. Ia melihat dalam mimpi itu, seolah-olah sedang menelusuri sebuah jalan di Baghdad, yang di situ seorang kurus kering sedang berbaring di sisi jalan, menyalaminya.

Ketika sang Syaikh menjawab ucapan salamnya, orang itu memintanya untuk membantunya duduk. Begitu beliau membantunya, orang itu duduk dengan tegap, dan secara menakjubkan tubuhnya menjadi besar. Melihat sang Syaikh terperanjat, orang asing itu menentramkannya dengan kata-kata: ” Akulah agama kakekmu, aku menjadi sakit dan sengsara, tetapi Allah telah menyehatkanku kembali melalui bantuanmu.”

Ini terjadi pada malam penampilannya di depan umum di masjid, dan menunjukkan karir mendatang sang wali. Kemudian masyarakat tercerahkan, menamainya Muhyiddin, ‘pembangkit keimanan’, gelar yang kemudian dipandang sebagai bagian dari namanya yang termasyhur. Meski telah ia tinggalkan kesendiriannya (uzlah), ia tak jua berkhutbah di depan umum. Selama sebelas tahun berikutnya, ia mukim di sebuah sudut kota, dan meneruskan praktek-praktek peribadatan, yang kian mempercerah ruhaniyah.

KEHIDUPAN RUMAH TANGGA
Menarik untuk dicatat, bahwa penampilannya di depan umum selaras dengan kehidupan perkawinannya. Sampai tahun 521 H, yakni pada usia kelima puluh satu, ia tak pernah berpikir tentang perkawinannya. Bahkan ia menganggapnya sebagai penghambat upaya ruhaniyahnya. Tetapi, begitu beliau berhubungan dengan orang-orang, demi mematuhi perintah Rasul dan mengikuti Sunnahnya, ia pun menikahi empat wanita, semuanya saleh dan taat kepadanya. Ia mempunyai empat puluh sembilan anak – dua puluh putra, dan yang lainnya putri.

Empat putranya yang termasyhur akan kecendekian dan kepakarannya, al:
Syaikh Abdul Wahab, putera tertua adalah seorang alim besar, dan mengelola madrasah ayahnya pada tahun 543 H. Sesudah sang wali wafat, ia juga berkhutbah dan menyumbangkan buah pikirannya, berkenaan dengan masalah-masalah syariat Islam. Ia juga memimpin sebuah kantor negara, dan demikian termasyhur.
Syaikh Isa, ia adalah seorang guru hadits dan seorang hakim besar. Dikenal juga sebagai seorang penyair. Ia adalah seorang khatib yang baik, dan juga Sufi. Ia mukim di Mesir, hingga akhir hayatnya.
Syaikh Abdul Razaq. Ia adalah seorang alim, sekaligus penghafal hadits. Sebagaimana ayahnya, ia terkenal taqwa. Ia mewarisi beberapa kecenderungan spiritual ayahnya, dan sedemikian masyhur di Baghdad, sebagaimana ayahnya.
Syaikh Musa. Ia adalah seorang alim terkenal. Ia hijrah ke Damaskus, hingga wafat.
Tujuh puluh delapan wacana sang wali sampai kepada kita melalui Syaikh Isa. Dua wacana terakhir, yang memaparkan saat-saat terakhir sang wali, diriwayatkan oleh Syaikh Wahab. Syaikh Musa termaktub pada wacana ke tujuh puluh sembilan dan delapan puluh. Pada dua wacana terakhir nanti disebutkan, pembuatnya adalah Syaikh Abdul Razaq dan Syaikh Abdul Aziz, dua putra sang wali, dengan diimlakkan oleh sang wali pada saat-saat terakhirnya.

KESEHARIANNYA
Sebagaimana telah kita saksikan, sang wali bertabligh tiga kali dalam seminggu. Di samping bertabligh setiap hari, pada pagi dan malam hari, ia mengajar tentang Tafsir Al Qur’an, Hadits, Ushul Fiqih, dan mata pelajaran lain. Sesudah Dhuhur, ia memberikan fatwa atas masalah-masalah hukum, yang diajukan kepadanya dari segenap penjuru dunia. Sore hari, sebelum sholat Maghrib, ia membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah sholat Maghrib, ia selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun. Sebalum berbuka, ia menyilakan orang-orang yang butuh makanan di antara tetangga-tetangganya, untuk makan malam bersama. Sesudah sholat Isya’, sebagaimana kebiasaan para wali, ia mengaso di kamarnya, dan melakukan sebagian besar waktu malamnya dengan beribadah kepada Allah – suatu amalan yang dianjurkan Qur’an Suci. Sebagai pengikut sejati Nabi, ia curahkan seluruh waktunya di siang hari, untuk mengabdi ummat manusia, dan sebagian besar waktu malam dihabiskan untuk mengabdi Penciptanya.

Pengaruh dan Karya

Waktunya banyak diisi dengan meengajar dan bertausyiah. Hal ini membuat Syekh tidak memiliki cukup waktu untuk menulis dan mengarang. Bahkan, bisa jadi beliau tidak begitu tertarik di bidang ini. Pada tiap disiplin ilmu, karya-karya Islam sudah tidak bisa dihitung lagi. Bahkan, sepertinya perpustakaan tidak butuh lagi diisi buku baru. Yang dibutuhkan masyarakat justru saran seorang yang bisa meluruskan yang bengkok dan membenahi kesalahan masyarakat saat itu. Inilah yang memanggil suara hati Syekh. Ini pula yang menjelaskan pada kita mengapa tidak banyak karya yang ditulis Syekh.

Memang ada banyak buku dan artikel yang diklaim sebagai tulisannya. Namun, yang disepakati sebagai karya syekh hanya ada tiga:

1.Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq merupakan karyanya yang mengingatkan kita dengan karya monumental al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din. Karya ini jelas sekali terpengaruh, baik tema maupun gaya bahasanya, dengan karya al-Ghazali itu. Ini terlihat dengan penggabungan fikih, akhlak, dan prinsip suluk. Ia memulai dengan membincangkan aspek ibadah, dilanjutkan dengan etika Islam, etika doa, keistimewaan hari dan bulan tertentu. Ia kemudian membincangkan juga anjuran beribadah sunah, lalu etika seorang pelajar, tawakal, dan akhlak yang baik.
2.Al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani merupakan bentuk tertulis (transkripsi) dari kumpulan tausiah yang pernah disampaikan Syekh. Tiap satu pertemuan menjadi satu tema. Semua pertemuan yang dibukukan ada 62 kali pertemuan. Pertemuan pertama pada 3 Syawal 545 H. Pertemuan terakhir pada hari Jumat, awal Rajab 546 H. Jumlah halamannya mencapai 90 halaman. Format buku ini mirip dengan format pengajian Syekh dalam berbagai majelisnya. Sebagiannya bahkan berisi jawaban atas persoalan yang muncul pada forum pengajian itu.
3.Futuh al-Ghayb merupakan kompilasi dari 78 artikel yang ditulis Syekh berkaitan dengan suluk, akhlak, dan yang lain. Tema dan gaya bahasanya sama dengan al-Fath al-Rabbani. Keseluruhan halamannya mencapai 212 halaman. Buku ini sendiri sebetulnya hanya 129 halaman. Sisa halamannya diisi dengan himpunan senandung pujian yang dinisbatkan pada Syekh. Ibn Taymiyah juga memuji buku ini.

Kesaksian Ulama

Syekh Junaid al-Baghdadi, hidup 200 tahun sebelum kelahiran Syekh Abdul Qadir. Namun, pada saat itu ia telah meramalkan akan kedatangan Syekh Abdul Qadir Jailani. Suatu ketika Syekh Junaid al-Baghdadi sedang bertafakur, tiba-tiba dalam keadaan antara sadar dan tidak, ia berkata, “Kakinya ada di atas pundakku! Kakinya ada di atas pundakku!”

Setelah ia tenang kembali, murid-muridnya menanyakan apa maksud ucapan beliau itu. Kata Syekh Junaid al-Baghdadi, “Aku diberitahukan bahwa kelak akan lahir seorang wali besar, namanya adalah Abdul Qadir yang bergelar Muhyiddin. Dan pada saatnya kelak, atas kehendak Allah, ia akan mengatakan, ‘Kakiku ada di atas pundak para Wali.”
Syekh Abu Bakar ibn Hawara, juga hidup sebelum masa Syekh Abdul Qadir. Ia adalah salah seorang ulama terkemuka di Baghdad. Konon, saat ia sedang mengajar di majelisnya, ia berkata:

“Ada 8 pilar agama (autad) di Irak, mereka itu adalah; 1) Syekh Ma’ruf al Karkhi, 2) Imam Ahmad ibn Hanbal, 3) Syekh Bisri al Hafi, 4) Syekh Mansur ibn Amar, 5) Syekh Junaid al-Baghdadi, 6) Syekh Siri as-Saqoti, 7) Syekh Abdullah at-Tustari, dan 8) Syekh Abdul Qadir Jailani.”

Ketika mendengar hal itu, seorang muridnya yang bernama Syekh Muhammad ash-Shanbaki bertanya, “Kami telah mendengar ke tujuh nama itu, tapi yang ke delapan kami belum mendengarnya. Siapakah Syekh Abdul Qadir Jailani?”
Maka Syekh Abu Bakar pun menjawab, “Abdul Qadir adalah shalihin yang tidak terlahir di Arab, tetapi di Jaelan (Persia) dan akan menetap di Baghdad.”
Qutb al Irsyad Abdullah ibn Alawi al Haddad (1044-1132 H), dalam kitabnya Risalatul Mu’awanah menjelaskan tentang tawakkal, dan beliau memilih Syekh Abdul Qadir Jaylani sebagai suri-teladannya.

Seorang yang benar-benar tawakkal mempunyai 3 tanda. Pertama, ia tidak takut ataupun mengharapkan sesuatu kepada selain Allah. Kedua, hatinya tetap tenang dan bening, baik di saat ia membutuhkan sesuatu atau pun di saat kebutuhannnya itu telah terpenuhi. Ketiga, hatinya tak pernah terganggu meskipun dalam situasi yang paling mengerikan sekalipun.

Suatu ketika beliau sedang berceramah di suatu majelis, tiba-tiba saja jatuh seekor ular berbisa yang sangat besar di atas tubuhnya sehingga membuat para hadirin menjadi panik. Ular itu membelit Syekh Abdul Qadir, lalu masuk ke lengan bajunya dan keluar lewat lengan baju yang lainnya. Sedangkan beliau tetap tenang dan tak gentar sedikit pun, bahkan beliau tak menghentikan ceramahnya. Ini membuktikan bahwa Syekh Abdul Qadir Jailani benar-benar seorang yang tawakkal dan memiliki karamah.

Ibnu Rajab juga berkata, “Syekh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu makrifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. “
Al-Dzahabi juga berkata, “Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syekh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi.”

Wafat
Syekh wafat setelah menderita sakit ringan dalam waktu tidak lama. Bahkan, ada yang mengatakan, Syekh sakit hanya sehari—semalam. Ia wafat pada malam Sabtu, 10 Rabiul Awal 561 H. Saat itu usianya sudah menginjak 90 tahun. Sepanjang usianya dihabiskan untuk berbuat baik, mengajar, dan bertausiah.

Konon, ketika hendak menemui ajal, putranya yang bernama ‘Abdul Wahhab memintanya untuk berwasiat. Berikut isi wasiat itu:

“Bertakwalah kepada Allah. Taati Tuhanmu. Jangan takut dan jangan berharap pada selain Allah. Serahkan semua kebutuhanmu pada Allah Azza wa Jalla. Cari semua yang kamu butuhkan pada Allah. Jangan terlalu percaya pada selain Allah. Bergantunglah hanya pada Allah. Bertauhidlah! Bertauhidlah! Bertauhidlah! Semua itu ada pada tauhid.”

Demikian manaqib ini kami tulis, semoga membawa barokah, manfa,at, dan Ridho allah swt, syafa’at Rosululloh serta karomah Auliyaillah khushushon Syekh Abdul Qodir Jailani selalu terlimpahkan kepada kita, keluarga dan anak turun kita semua Dunia – Akhirat. Amien
Diambil dari berbagai sumber

*) Musyahadah : penyaksian langsung. Yang dimaksud ialah penyaksian akan segala kekuasaan dan keadilan Allah melalui mata hati.
**) Nadzir : pembawa ancaman atau pemberi peringatan. Salah satu tugas terpenting seorang Rasul adalah membawa beita, baik berita gembira maupun ancaman.

Fakhrul Wujud Syeikh Abu Bakar bin Salim

Syeikh Abubakar bin Salim dilahirkan pada tanggal 13 Jumadil Akhir 919 H di kota Tarim, Yaman. Ia tumbuh dewasa menjadi seorang tokoh sufi yang masyhur sekaligus seorang yang alim dan mengamalkan ilmunya.

Ayahandanya adalah Habib Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf

sedangkan Ibunda beliau adalah Syarifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar As-Sakron bin Abdurrahman Assegaf.

Jauh sebelumnya, kelahiran beliau telah banyak diramalkan oleh para wali terkemuka, diantaranya adalah Al-Imam Ahmad bin Alwi yang tinggal di daerah Maryamah, sekali waktu beliau datang ke Inat dan ia duduk di sebidang tanah yang pada waktu itu hanya berupa semak belukar dan bebatuan. Ia berhenti sejenak di tempat tersebut dan berkata kepada masyarakat yang hadir waktu itu, “Akan lahir salah seorang anak kami yang akan mempunyai keagungan dan ia akan tinggal di tempat ini”. Selanjutnya ia berjalan berkeliling kota Inat sambil sesekali menunjukkan tempat-tempat yang kelak berkaitan dengan Syeikh Abubakar bin Salim, ia menunjukkan tempat yang akan dibangun masjid oleh Syeikh Abubakar dan ia sempat shalat disana, ia juga menunjukkan tempat dimana Syeikh Abubakar akan membangun rumah.Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi meriwayatkan bahwa wali lainnya yang telah meramalkan keberadaan Syeikh Abubakar adalah Habib Muhammad bin Ahmad Jamalullail, ia berkata, “Akan ada disini (Inat) salah seorang dari anak-anak kami yang akan termasyhur dengan keagungan dan kewalian, dan Qubahnya akan berada dan didirikan di kota ini”.

Sejak kecil Syeikh Abubakar bin Salim telah menunjukkan tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi orang yang memiliki kemuliaan. Pernah pada suatu kesempatan Syeikh Faris Ba Qais bersama para muridnya pergi ke Tarim. Ikut dalam rombongan Syeikh Faris 300 pemegang rebana yang mengiringi perjalanan itu dengan tabuhan rebananya. Setibanya di Tarim ia bersama pengikutnya mengunjungi Habib Syeikh Al-Idrus. Keesokan harinya Syeikh Faris berniat untuk menziarahi makam Nabi Hud AS, ia berkata kepada sejumlah habib, “Wahai habaib, kami membutuhkan seorang pengantar darimu, terus terang kami takut jika dalam perjalanan nanti ilmu kami dicuri orang”. Para Habib menyanggupi, “Jangan khawatir, kami cukup mempunyai banyak orang berilmu disini, lagi pula mencuri ilmu bukanlah kebiasaan kami”. Mulailah Syeikh Faris mencari orang yang dianggap mampu mengawal dia dan para pengikutnya, sampai akhirnya ia melewati Syeikh Abubakar bin Salim yang saat itu masih berusia 4 tahun, sedang bermain-main di jalan bersama teman sebayanya. “Aku pilih anak ini”, kata Syeikh Faris sambil menunjuk si kecil Abubakar bin Salim. Para habib segera menjawab, “Anak kecil ini mana pantas mengawalmu?”. Syeikh Faris berkata, “Aku adalah tamu kalian dan aku hanya menginginkan anak ini”. Para habib kemudian mendatangi ibu Syeikh Abubakar bin Salim dan mengabarkan persoalan yang mereka hadapi. Ibunya berkata, “Anak ini masih kecil, cari saja yang lain”. Mereka menjawab, “Syeikh Faris hanya menginginkan anakmu”. Akhirnya sang ibu memberikan izin.Syeikh Abubakar kemudian digendong oleh pelayannya, Ba Qahawil, untuk mengawal Syeikh Faris dan rombongannya. Syeikh Umar Ba Makhramah, seorang wali Allah, yang ikut dalam rombongan Syeikh Faris memegang kepala Ba Qahawil sambil melantunkan syair yang diawali dengan bait-bait berikut:

Semoga Allah membahagiakan temanmu, hai Ba Qahawil pohon kurma apa ini, masih kecil sudah berbuah Mereka menanamnya di waktu Dhuha dan sudah memanennya di waktu senja.

Kemudian Syeikh Umar mengusap kepala Syeikh Abubakar bin Salim sambil meneruskan syairnya:

Wahai emas sejati, dengan pandangan-Nya Allah memeliharamu

semua lembah yang luas menjadi kecil dibanding lembahmu

Masa muda Syeikh Abubakar bin Salim dipenuhi dengan rutinitas pendidikan, selain didikan orang tuanya, juga tercatat beberapa ulama besar yang menjadi gurunya, antara lain, Syeikh Umar Basyeiban Ba’alawi, Syeikh Abdullah bin Muhammad Baqusyair, Syeikh Muhammad bin Abdullah Bamakhramah, Imam Ahmad bin Alwi Bajahdab, Syeikh Makruf Bajamal dan Syeikh Umar bin Abdullah Ba Makhramah.Pada suatu ketika Syeikh Abubakar berniat belajar kepada salah seorang gurunya, Syeikh Makruf Bajamal yang tinggal di kota Syibam. Namun ia terpaksa berhenti di pinggir kota, karena Syeikh Makruf Bajamal belum berkenan menemuinya. Setiap kali dikatakan kepada Syeikh Makruf, “Anak Salim bin Abdullah meminta izin untuk menemuimu.” Jawabnya selalu, “Katakan kepadanya bahwa aku belum berkenan menerimanya”, meskipun ayah beliau adalah seorang yang dihormati karena kesalehannya. Syeikh Abubakar bin Salim tetap bersabar di bawah teriknya matahari dan dinginnya angin malam. Ia menguatkan hati dan mengendalikan nafsunya demi memperoleh asrar.

Baru setelah lewat 40 hari ia menerima kabar bahwa Syeikh Makruf bersedia menemuinya. Syeikh Makruf hanya memerlukan beberapa saat saja untuk menurunkan ilmu kepadanya. Sewaktu keluar dari kediaman Syeikh Makruf, ia mendapati sekumpulan kaum wanita yang mengelukan-elukan kedatangannya, “Selamat wahai Ibnu Salim, selamat wahai Ibnu Salim.” Mereka berbuat demikian dengan harapan mendapatkan sesuatu darinya. Iapun segera menyadari hal ini dan kemudian mendoakan agar mereka mendapatkan suami yang setia. Menurut Habib Ali hingga saat ini kaum wanita Syibam memiliki suami yang setia. Ketika Habib Ali ditanya, “Apakah Syeikh Ma’ruf juga termasuk salah satu dari guru-guru Syeikh Abubakar bin Salim?” Ia menjawab, “Ya, akan tetapi beliau kemudian mengungguli syeikhnya”.

Syeikh Abubakar bin Salim mempelajari Risalatul Qusyairiyah yang sangat terkenal dalam dunia tasawuf di bawah bimbingan Syeikh Umar bin Abdullah Ba Makhramah. Disebutkan dalam Kitab Tadzkirun Naas, sekali waktu Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas shalat ashar di masjid Syeikh Abdul Malik Baraja di Kota Seiwun, ia menunjukkan sebidang tanah sambil berkata : “Ini adalah sebidang tanah yang mana pernah terjadi satu peristiwa antara Syeikh Umar Bamakhramah dan Syeikh Abubakar bin Salim. Tatkala itu Syeikh Abubakar sedang belajar dan membaca kitab tasawwuf yang terkenal Risalah Al-Qusyairiyah, tatkala sedang membahas kekeramatan para wali, Syeikh Abubakar bin Salim bertanya kepada gurunya “Kekeramatan itu seperti apa ?”, dijawab oleh Syeikh Umar, “Contoh kekeramatan itu adalah engkau tanam biji kurma ini kemudian ia langsung tumbuh dan berbuah pada saat itu juga” Kemudian Syeikh Umar yang kala itu memang sedang memegang biji kurma, melemparkan biji kurma tersebut ke tanah dan kemudian langsung tumbuh dan berbuah, sehingga orang-orang yang hadir saat itu dapat memetik dan memakan buahnya. Orang-orang yang hadir pada saat itu berkata pada Syeikh Abubakar bin Salim “Kami menginginkan lauk pauk darimu yang ingin kami makan bersama kurma ini”. Tersirat dalam perkataan ini seolah-olah mereka bertanya kepada Syeikh Abubakar apakah ia mampu melakukan seperti yang telah dilakukan oleh Syeikh Umar. Lalu Syeikh Abubakar bin Salim berkata, “Pergilah kalian ke telaga masjid, lalu ambillah apa yang kalian temui disana”. Kemudian mereka pergi ke telaga masjid dan mendapati ikan yang besar disana. Lalu mereka ambil dan makan sebagai lauk pauk yang mereka inginkan.

Kegemaran Syeikh Abubakar bin Salim dalam menekuni ilmu pengetahuan dibuktikannya dengan menghatamkan Ihya’ Ulumuddin-nya Hujjatul Islam Al-Ghazali sebanyak 40 kali dan menghatamkan kitab fiqih syafi’iyah, Al-Minhaj karya Imam Nawawi sebanyak 3 kali. Dan diantara kebiasaannya adalah memberikan wejangan kepada masyarakat setelah sholat Jumat.

Diantara ibadah dan riyadohnya, pernah dalam waktu yang cukup lama ia berpuasa dan hanya berbuka dengan kurma yang masih hijau. Juga selama 90 hari ia berpuasa dan sholat malam di lembah Yabhur dan selama 40 tahun beliau sholat subuh di Masjid Baa Isa, di kota Lisk, dengan wudhu Isya. Setiap malam ia berziarah ke tanah pekuburan Tarim dan berkeliling untuk melakukan sholat di berbagai masjid di Tarim diakhiri dengan sholat Subuh berjamaah di masjid Baa Isa. Sepanjang hidupnya ia berziarah ke makam Nabiyullah Hud sebanyak 40 kali. Setiap malam, selama 40 tahun, ia berjalan dari Lisk menuju Tarim, melakukan sholat di setiap masjid di Tarim, mengusung air untuk mengisi tempat wudhu, tempat minum bagi para peziarah, dan kolam tempat minum hewan. Dan sampai akhir hayatnya sang Syeikh tidak pernah meninggalkan sholat witir dan dhuha.

Berbeda dengan para wali di Tarim yang hampir semuanya menutupi hal (keadaan) mereka, Syeikh Abubakar bin Salim mendapatkan perintah agar ia meng-izhar-kan (menampakkan) kewaliannya. Pada awalnya ia sendiri merasa enggan dan ragu, sampai akhirnya hal ini sampai kepada gurunya, Al-Imam Ahmad bin Alwi Bajahdab. Ia manyatakan, “Tidaklah maqam-nya Syeikh Abubakar bin Salim akan berkurang dengan nampaknya kewalian yang dimilikinya, karena kalimat Bismillah telah diletakkan di setiap perkataannya. Dan sungguh tidak berkurang sama sekali kadar maqam kewalian dikarenakan masyhurnya beliau, terkecuali seperti berkurangnya satu biji dalam makanan”. Tatkala perkataan guru beliau ini disampaikan kepadanya, Syeikh Abubakar bin Salim melakukan sujud syukur kepada Allah SWT dan berkata, “Aku merasa cukup dengan isyarat pengukuhan ini, sebagai lambang kemegahan dan keagungan yang diberikan Allah SWT”.

Setelah kejadian itu, ia berangkat dari Inat menuju Tarim untuk berziarah dan berjumpa dengan guru beliau tersebut, maka setelah sampai gurunya bertanya, “Bagaimanakah bentuk isyarat yang telah engkau terima ?”. Ia menjawab, “Sesungguhnya telah datang kepadaku serombongan pemuka kaum Ba’alawi dan bersama mereka ada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, mereka semuanya memerintahkan kepadaku agar aku mengizharkan diriku. Bagaimanakah pandangan anda sendiri ?. Apakah saya dilarang ?. Sesungguhnya diriku sendiri kurang menyukai kemasyhuran ?”. Setelah mendengar perkataan beliau, gurunya diam sesaat dan setelah itu ia berbincang dengan Syeikh Abubakar bin Salim dengan perkataan yang tidak dipahami oleh orang yang hadir kala itu, kemudian gurunya berwasiat kepada Syeikh Abubakar dengan beberapa wasiat dan memerintahkan beliau untuk pulang dan menetap di kota Inat. Pulanglah Sang Syeikh ke Kota Inat, dan disanalah ia kemudian termasyhur. Namanya yang harum semerbak dikenal di seluruh penjuru negeri. Cahaya ilmu dan kemuliaannya berkemilau menerangi orang-orang yang berjalan di jalan Allah SWT. Ia hidupkan kota Inat dengan ilmu. Manusia datang dari berbagai pelosok daerah guna menuntut ilmu darinya sehingga Inat menjadi kota yang ramai oleh pencinta ilmu. Murid-murid beliau datang dari berbagai kota di Yaman dan mancanegara, antara lain Syam, India, Mesir dan berbagai negara lainnya. Diantara beberapa muridnya yang terkenal adalah Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi, Shohibus Syiib, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Jufri, Habib Muhammad bin Alwi, Sayyid Yusuf Al-Qodhiy bin Abid Al-Hasany, Syeikh Hasan Basyaib serta beberapa murid lainnya.

Demi kepentingan pendidikan dan pengembangan dakwah, ia mendirikan sebuah masjid dan membeli tanah pekuburan yang luas. Al-Mualim Ahmad bin Abdurrahman Bawazir berkata, “Ada satu kisah yang diriwayatkan dari Al-Mualim Abdurrahman bin Muhammad Bawazir yang ia terima dari beberapa orang arifin, Beliau berkata, “Sesungguhnya tatkala Sayyidina Syeikh Abubakar bin Salim mendirikan masjidnya yang masyhur di Kota Inat, beliau berkata kepada orang yang sedang membangunnya dikala itu yaitu Ibnu Ali sambil menunjuk satu dinding yang baru didirikan, “Dinding yang didirikan ini tidak akan dimakmurkan oleh orang-orang, kami menginginkannya agar sedikit maju”. Ibnu Ali menjawab, “Ya Sayyidi yang engkau inginkan adalah kemaslahatan tetapi bagaimanakah kami akan merubahnya lagi, karena dinding ini sudah terlanjur didirikan di tempat ini”. Syeikh Abubakar yang saat itu sedang memegang tongkat memukul dinding tersebut, maka dengan izin Allah SWT dinding tersebut berpindah tempat dari tempatnya semula sampai pada tempat yang diinginkan olehnya”.

Penduduk Inat sangat mencintai Syeikh Abubakar, hal ini antara lain dikarenakan keluhuran budi pekerti yang dimilikinya. Beliau merupakan seorang dermawan yang suka menjamu tamu. Jika tamu yang berkunjung banyak, maka ia memotong satu atau dua ekor onta untuk jamuannya. Karena sambutan yang hangat ini, maka semakin banyak orang yang datang mengunjunginya. Dalam menjamu dan memenuhi kebutuhan para tamunya, ia tidak segan-segan untuk turun tangan sendiri. Mereka datang terhormat dan pulang pun dengan terhormat. Dalam kesehariannya, ia mengeluarkan sedekah sebagaimana orang yang tidak takut jatuh miskin, setiap hari ia membagikan seribu potong roti kepada fakir miskin.

Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat tawadhu, tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya duduk bersandar ataupun bersila. Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Ba Wazir, seorang yang faqih, berkata, “Selama 15 tahun sebelum wafatnya, di dalam berbagai majlisnya, baik bersama kaum khusus ataupun awam, Syeikh Abubakar bin Salim tidak pernah terlihat duduk, kecuali dalam posisi duduknya orang yang sedang tasyahud akhir”.

Semasa hidupnya beliau selalu membaca wirid-wirid tarekat, dan secara pribadi, ia mempunyai beberapa wirid dan selawat. Antara lain sebuah amalan wirid besar miliknya yang disebut Hizb al-Hamd wa al-Majd yang ia diktekan kepada muridnya sebelum fajar tiba di sebuah masjid. Itu adalah karya terakhir yang disampaikan ke muridnya, Allamah Faqih Syeikh Muhammad bin Abdurrahman Bawazir pada tanggal 8 bulan Muharram tahun 992 H.

Selain menyusun wirid dan selawat, Syeikh Abubakar bin Salim juga banyak menulis kitab, terutama yang berhubungan dengan masalah tasawwuf, antara lain Miftah as-Sara’ir wa Kanz adz-Dzakha’ir yang beliau susun sebelum usianya melampaui 17 tahun. Mi’raj Al-Arwah yang membahas ilmu hakikat. Beliau memulai menulis buku ini pada tahun 987 H dan menyelesaikannya pada tahun 989 H. Fath Bab Al-Mawahib yang juga mendiskusikan masalah-masalah ilmu hakikat. Ia memulainya di bulan Syawwal tahun 991 H dan dirampungkan dalam tahun yang sama tangal 9 Dzulhijjah. Ma’arij At-Tawhid, serta sebuah diwan yang berisi pengalaman pada awal mula perjalanan spiritualnya.

Perjalanan kehidupan Syeikh Abubakar bin Salim banyak dibukukan oleh para ulama terkenal, tidak kurang dari 25 buku yang menceritakan biografi kehidupan beliau, antara lain Bulugh Azh-Zhafr wa Al-Maghanim fi Manaqib As-Syeikh Abi Bakr bin Salim karya Allamah Syeikh Muhammad bin Sirajuddin. Az-Zuhr Al-Basim fi Raba Al-Jannat fi Manaqib Abi Bakr bin Salim Shahib Inat oleh Allamah Syeikh Abdullah bin Abi Bakr bin Ahmad Basya’eib. Sayyid al-Musnad pemuka agama yang masyhur, Salim bin Ahmad bin Jindan Al-Alawy mengemukakan bahawa dia memiliki beberapa manuskrip (naskah yang masih berbentuk tulisan tangan) tentang Syeikh Abu Bakar bin Salim. Di antaranya Bughyatu Ahl Al-Inshaf bin Manaqib Asy-Syeikh Abi Bakr bin Salim bin Abdullah As-Seggaf karya Allamah Muhammad bin Umar bin Sholeh bin Abdurrahman Baraja Al-Khatib.

Banyak dari kitab-kitab tersebut yang mencantumkan kisah kekeramatan Syeikh Abubakar bin Salim. Seperti yang diriwayatkan oleh Faqih Muhammad bin Sirojuddin Jamal Rohimahullah dalam kitabnya Bulughizhofri wal Maghanimi fi Manaqibi As-Syeikh Abu Bakar bin Salim RA. Sesungguhnya aku bermusafir ke negeri India pada bulan Asyura, tahun 973 H dengan naik kapal, sampai akhirnya pada satu tempat yang dikenal dengan Khuril Gari. Pada saat itu sangatlah gelap dan hujan turun sangat lebatnya, dan pada saat itu kapal kami mengalami kerusakan. Dan para penumpangnya merasa kebingungan dan ketakutan sehingga mereka menangisi keadaan mereka. Aku sendiri berdoa kepada Allah SWT dan bertawassul kepada para waliullah. Akupun lalu beristighasah dan bertawajjuh hatiku kepada Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim. Setelah aku bertawassul kepadanya, aku mendengar suara beliau seolah-olah begitu dekat denganku. Lalu aku berdiri dan memberitahukan kepada penumpang bahwasanya telah mendapatkan isyarat dan kabar gembira dalam keadaan yang sangat sulit saat itu. Dan ternyata kamipun diselamatkan oleh Allah SWT dengan kemuliaan Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim.

Juga diceritakan dalam Kitab Insus Salikin Ila Maqomatil Washilin yang dikarang oleh Sayyid Abdullah bin Ahmad Baharun. Didalam kitab tersebut diceritakan kisah dari Umar bin Ali Bamansur. Kami mendapat kabar dari seorang arifin, ia bercerita, tatkala wafat seorang wali besar yaitu As-Syekh Makruf Bajamal di negeri Budhoh, salah satu daerah di Dau’an. Kaum solihin melihat dengan ainul bashiroh mereka ada sungai dengan cahaya yang cemerlang mengalir dari Budhoh. Sungai tersebut mengalir ke Syibam dan memenuhi kota itu dengan cahaya hingga ke Ghurfah dan Tarim, sampai akhirnya ke kota Inat dan terakhir bermuara di hadirat Syeikh Abubakar bin Salim. Dari kabar ini, akhirnya seluruh murid Syeikh Makruf mengetahi bahwa maqam kewalian gurunya telah berpindah kepada Syeikh Abubakar bin Salim. Tertulis di dalam Majmu’ Kalam Al-Habib Ali Al-Habsyi bahwasanya Syeikh Makruf memiliki murid lebih kurang 100 ribu orang.

Pada waktu menjelang wafatnya, Syeikh Abubakar berada di kamar Sayyid Yusuf Al-Qodhiy bin Abid Al-Hasany salah seorang murid kesayangannya. Sambil memangku gurunya, Sayyid Yusuf membaca ayat Quran yang berbunyi Falammaa Qodhoo Zaidun Wathoro. Ia membaca ayat ini sebagai isyarat keinginan dari Sayyid Yusuf untuk mewarisi kedudukan kewalian Syeikh Abubakar bin Salim dan bila Syeikh Abubakar bin Salim menjawab dengan Zawwajnaa Kahaa, maka itu adalah isyarat bahwa kedudukan beliau akan diwarisi oleh Sayyid Yusuf, namun Syeikh Abubakar bin Salim tidak menjawab seperti itu, malah ia berkata “Wahai Yusuf, engkau menginginkan kedudukan kami. Sungguh kedudukanku adalah untuk anakku dan kalau sekiranya aku tidak mendapati daripada salah satu anak-anakku yang akan mewarisi kedudukanku, maka aku akan tanam maqam kewalianku ini di padang pasir Inat”. Jawaban beliau ini mengkiaskan bahwa maqam kewalian Syeikh Abubakar bin Salim hanya diwarisi oleh anak-anak beliau. Dan pada malam Ahad, tanggal 27 Dzulhijjah 992 H, Syeikh Abubakar bin Salim berpulang ke rahmatullah. Dengan meninggalkan keturunan yang kelak juga menjadi pemuka kaum Alawiyyin yang meneruskan jejak ayahnya. Beliau dimakamkan di kota Inat, Hadramaut. Di turbah (makam) Syeikh Abubakar bin Salim terdapat pasir atau tanah (katsib) yang sangat termasyhur kemujarabannya bagi orang-orang yang menginginkan keberkahan. Yang termasyhur bahwa tanah ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan oleh karena itulah juga Syeikh Abubakar bin Salim mendapatkan gelar Maula Katsib. Diceritakan oleh Sayyid Abdul Qodir bin Abdullah bin Umar bin Syeikh Abubakar bin Salim, beliau berkata, “Suatu ketika aku dan guruku Al-Arif Billah Ahmad Al-Junaid berziarah ke Inat dan kepada Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim. Sesudah ziarah guruku menginginkan dan mengambil pasir di makam tersebut untuk menyembuhkan luka yang dideritanya pada salah satu kakinya. Dan ia meminta kepada salah seorang daripada keturunan Syeikh Abubakar agar meletakkan pasir tersebut atas luka beliau, dan luka tersebut sembuh dengan seizin Allah SWT.

Selang beberapa waktu setelah wafatnya Syeikh Abubakar bin Salim, berkumpullah anak-anak beliau untuk mencari dan memilih siapa diantara mereka yang akan menjadi khalifah menggantikan ayah mereka. Mereka berkumpul di suatu Syi’ib, dan barang siapa mendapat tanda dari Allah SWT, maka dialah yang dipilih sebagai khalifah. Ternyata yang mendapatkan tanda adalah Sayyidina Husein bin Syeikh Abubakar. Ia mendapatkan langsung satu bejana yang berisi air turun dari langit. Maka anak-anak Syeikh Abubakar bin Salim pun meminum daripada bejana tersebut dan mereka berkata kepada Sayyidina Husein, ”Engkaulah yang berhak menjadi khalifah”.

Pada riwayat yang lain, diceritakan oleh Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi, “Tatkala Syeikh Abubakar bin Salim wafat, maka setiap anak-anak daripada Syeikh Abubakar bin Salim menginginkan menjadi khalifah menggantikan ayahanda mereka. Maka ibunda mereka berkata, “Kalian semuanya mempunyai keberkahan, akan tetapi siapa yang keramatnya terlihat maka ia akan menjadi khalifah”. Maka anak-anak Syeikh Abubakar bin Salim pergi ke Wadi Inat. Dan mereka membentangkan sajadah masing-masing ditengah Wadi Inat, lalu melakukan shalat serta bermunajah kepada Allah SWT. Tak lama kemudian turun kepada Syeikh Umar Al-Mahdhar bejana dan rantai emas dari langit. Maka Syeikh Umar memanggil saudara-saudaranya, “Apakah kalian mendapatkan sesuatu?”. Mereka menjawab “Tidak”. Maka merekapun menyerahkan kekhalifahan kepada Syeikh Umar, namun kekhalifahan diserahkan dan dipegang oleh Sayyidina Husin. Beliau berkomentar mengenai saudaranya Syeikh Umar Al-Mahdhar. “Sesungguhnya aku bersahabat dengan saudaraku Umar Al-Mahdhar dan aku tidak merasa sebagai saudaranya, akan tetapi aku merasa dan menempatkan diriku sebagai pembantu dan murid baginya”. Dikisahkan bahwa Sayyidina Husin sekali waktu mendapatkan gangguan dari para pembesar setempat beserta pasukannya, sehingga membuatnya berhijrah ke Mekkah dan Madinah dan menetap disana selama 7 tahun. Pada suatu hari beliau didatangi oleh Nabi Khidir AS dan berkata, “Sesungguhnya datukmu Rasulullah SAW mengucapkan salam atasmu dan memerintahkan dirimu agar segera pulang ke Hadramaut”. Nabi Khidir memberitahukan kepadanya bahwa rasa permusuhan dari musuh-musuhnya akan dihilangkan oleh Allah dan musuh-musuh beliau akan berubah mencintainya. Dan Nabi Khidir memberitahukan kepadanya agar berjalan bersama satu kafilah Arab di Hadramaut. Nabi Khidir juga memberitahukan kepada beliau bahwa kafilah ini akan mempunyai hubungan yang dekat dengan keturunan beliau sampai hari kiamat. Selain itu Nabi Khidir memberikan kepada Sayyidina Husin 3 buah benda, yaitu bejana atau gelas yang besar, tongkat dan gendang. Ketika sang Sayyid pulang, ia mendapati kaum syiah zaidiyah sedang merajalela dan berbuat semena-mena. Lalu beliau memerintahkan agar menabuh gendang yang diberikan oleh Nabi Khidir diatas gunung. Ketika gendang tersebut ditabuh, dengan izin Allah, kaum Zaidiyah yang tadinya berlaku semena-mena tiba-tiba bertingkah seperti orang gila, dan merekapun kabur tercerai berai. Belakangan Imam Ahmad bin Hasan Al-Atthas mengatakan, “Kami telah melihat bejana yang diberikan Nabi Allah Khidir kepada Sayyidina Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim beserta tongkatnya ada di Kota Inat”.

Hingga saat ini masih banyak keturunan Syeikh Abubakar bin Salim, disebutkan didalam kitab Mu’jamul Lathief, selain dari jalur Sayyidina Husin juga diantaranya yang terkenal dengan fam Al-Hamid, Bin Jindan, Al-Muhdar dan Al-Haddar. Keluarga Bin Jindan, nasab mereka bersambung kepada Ali bin Muhammad bin Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim. Keluarga Al-Hamid, merupakan keturunan dari Al-Hamid bin Syeikh Abubakar bin Salim. Keluarga Al-Muhdhar, keturunan Umar Al-Muhdhar. Syeikh Abubakar bin Salim memberi nama Umar Al-Muhdhar karena ingin mendapatkan berkah Sayyidina Umar Al-Muhdhar bin Abdurrahman As-Seggaf, juga dengan harapan agar anaknya dapat meneladani dan mewarisi ilmu yang dimiliki oleh Umar Al-Muhdhar, seorang arif billah yang amat dikaguminya. Dan keluarga Al-Haddar, yang merupakan keturunan Ahmad Al-Haddar bin Abdullah bin Ali bin Muhsin bin Husin bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Karya-karyanya

Antara lain:

- Miftah As-sara’ir wa kanz Adz-Dzakha’ir. Kitab ini beliau karang sebelum usianya melampaui
17 tahun.
– Mi’raj Al-Arwah membahas ilmu hakikat. Beliau memulai menulis buku ini pada tahun 987 H
dan menyelesaikannya pada tahun 989 H.
– Fath Bab Al-Mawahib yang juga mendiskusikan masalah-masalah ilmu hakikat. Dia
memulainya di bulan Syawwal tahun 991 H dan dirampungkan dalam tahun yang sama tangal
9 bulan Dzul-Hijjah.
– Ma’arij At-Tawhid
– Dan sebuah diwan yang berisi pengalaman pada awal mula perjalanan spiritualnya.

Kata Mutiara dan Untaian Hikmah

Beliau memiliki banyak kata mutiara dan untaian hikmah yang terkenal, antara lain:

Pertama:
Paling bernilainya saat-saat dalam hidup adalah ketika kamu tidak lagi menemukan dirimu. Sebaliknya adalah ketika kamu masih menemukan dirimu. Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa engkau takkan mencapai Allah sampai kau fanakan dirimu dan kau hapuskan inderamu. Barang siapa yang mengenal dirinya (dalam keadaan tak memiliki apa pun juga), tidak akan melihat kecuali Allah; dan barang siapa tidak mengenal dirinya (sebagai tidak memiliki suatu apapun) maka tidak akan melihat Allah. Karena segala tempat hanya untuk mengalirkan apa yang di dalamnya.

Kedua:
Ungkapan beliau untuk menyuruh orang bergiat dan tidak menyia-nyiakan waktu: “Siapa yang tidak gigih di awal (bidayat) tidak akan sampai garis akhir (nihayat). Dan orang yang tidak bersungguh-sungguh (mujahadat), takkan mencapai kebenaran (musyahadat). Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang berjuang di jalan Kami, maka akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami”. Siapa pun yang tidak menghemat dan menjaga awqat (waktu-waktu) tidak akan selamat dari berbagia afat (malapetaka). Orang-orang yang telah melakukan kesalahan, maka layak mendapat siksaan.

Ketiga:
Tentang persahabatan: “Siapa yang bergaul bersama orang baik-baik, dia layak mendapatkan makrifat dan rahasia (sirr). Dan mereka yang bergaul dengan para pendosa dan orang bejat, akan berhak mendapat hina dan api neraka”.

Keempat:
Penafsirannya atas sabda Rasul s.a.w: “Aku tidaklah seperti kalian. Aku selalu dalam naungan Tuhanku yang memberiku makan dan minum”. Makanan dan minuman itu, menurutnya, bersifat spiritual yang datang datang dari haribaan Yang Maha Suci”.

Kelima:
Engkau tidak akan mendapatkan berbagai hakikat, jika kamu belum meninggalkan benda-benda yang kau cintai (’Ala’iq). Orang yang rela dengan pemberian Allah (qana’ah), akan mendapt ketenteraman dan keselamatan. Sebaliknya, orang yang tamak, akan menjadi hina dan menyesal. Orang arif adalah orang yang memandang aib-aib dirinya. Sedangkan orang lalai adalah orang yang menyoroti aib-aib orang lain. Banyaklah diam maka kamu akan selamat. Orang yang banyak bicara akan banyak menyesal.

Keenam:
Benamkanlah wujudmu dalam Wujud-Nya. Hapuskanlah penglihatanmu, (dan gunakanlah) Penglihatan-Nya. Setelah semua itu, bersiaplah mendapat janji-Nya. Ambillah dari ilmu apa yang berguna, manakala engkau mendengarkanku. Resapilah, maka kamu akan meliht ucapan-ucapanku dlam keadaan terang-benderang. Insya-Allah….! Mengertilah bahawa Tuhan itu tertampakkan dalam kalbu para wali-Nya yang arif. Itu karena mereka lenyap dari selain-Nya, raib dari pandangan alam-raya melaluiKebenderangan-Nya. Di pagi dan sore hari, mereka menjadi orang-orang yang taat dalam suluk, takut dan berharap, ruku’ dan sujud, riang dan digembirakan (dengan berita gembira), dan rela akan qadha’ dan qadar-Nya. Mereka tidak berikhtiar untuk mendapat sesuatu kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Tuhan untuk mereka”.

Ketujuh:
Orang yang bahagia adalah orang yang dibahagiakan Allah tanpa sebab (sebab efesien yang terdekat, melainkan murni anugerah fadhl dari Allah). Ini dalam bahasa Hakikat. Adapun dalam bahasa Syari’at, orang bahagia adalah orang yang Allah bahagiakan mereka dengan amal-amal saleh. Sedang orang yang celaka, adalah orang yang Allah celakakan mereka dengan meninggalkan amal-amal saleh serta merusak Syariat – kami berharap ampunan dan pengampunan dari Allah.

Kedelapan:
Orang celaka adalah yang mengikuti diri dan hawa nafsunya. Dan orang yang bahagia adalah orang yang menentang diri dan hawa nafsunya, minggat dri bumi menuju Tuhannya, dan selalu menjalankan sunnah-sunnah Nabi s.a.w.

Kesembilan:
Rendah-hatilah dan jangan bersikap congkak dan angkuh.

Kesepuluh:
Kemenanganmu teletak pada pengekangan diri dan sebaliknya kehancuranmu teletak pada pengumbaran diri. Kekanglah dia dan jangan kau umbar, maka engkau pasti akn menang (dalam melawan diri) dan selamat, Insya-Allah. Orang bijak adalah orang yang mengenal dirinya sedangkan orang jahil adalah orang yang tidak mengenal dirinya. Betapa mudah bagi para ‘arif billah untuk membimbing orang jahil. Karena, kebahagiaan abadi dapt diperoleh dengan selayang pandang. Demikian pula tirai-tirai hakikat menyelubungi hati dengan hanya sekali memandang selain-Nya. Padahal Hakikat itu juga jelas tidak erhalang sehelai hijab pun. Relakan dirimu dengan apa yang telah Allah tetapkan padamu. Sebagian orang berkata: “40 tahun lamanya Allah menetapkan sesuatu pada diriku yang kemudian aku membencinya”.

Kesebelas:
Semoga Allah memberimu taufik atas apa yang Dia ingini dan redhai. Tetapkanlah berserah diri kepada Allah. Teguhlah dalam menjalankan tatacara mengikut apa yang dilarang dan diperintahkan Rasul s.a.w. Berbaik prasangkalah kepada hamba-hamba Allah. Karena prasangka buruk itu bererti tiada taufik. Teruslah rela dengan qadha’ walaupun musibah besar menimpamu. Tanamkanlah kesabaran yang indah (Ash-Shabr Al-Jamil) dalam dirimu. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah mengganjar orang-orang yang sabar itu tanpa perhitungan. Tinggalkanlah apa yang tidak menyangkut dirimu dan perketatlah penjagaan terhadap dirimu”.

Keduabelas:
Dunia ini putra akhirat. Oleh karena itu, siapa yang telah menikahi (dunia), haramlah atasnya si ibu (akhirat).

Masih banyak lagi ucapan beliau r.a. yang lain yang sangat bernilai.

Manaqib (biografi) beliau

Banyak sekali buku-buku yang ditulis mengenai biorafi beliau yang ditulis para alim besar.

Antara lain:

- Bulugh Azh-Zhafr wa Al-Maghanim fi Manaqib Asy-Syaikh Abi Bakr bin Salim karya Allamah
Syeikh Muhammad bin Sirajuddin.
– Az-Zuhr Al-Basim fi Raba Al-Jannat; fi Manaqib Abi Bakr bin Salim Shahib ‘Inat oleh Allamah
Syeikh Abdullah bin Abi Bakr bin Ahmad Basya’eib.
– Sayyid al-Musnad pemuka agama yang masyhur, Salim bin Ahmad bin Jindan Al-’Alawy
mengemukakan bahawa dia memiliki beberapa manuskrip (naskah yang masih berbentuk
tulisan tangan) tentang Syeikh Abu Bakar bin Salim. Di antaranya; Bughyatu Ahl Al-Inshaf bin
Manaqib Asy-Syeikh Abi Bakr bin Salim bin Abdullah As-Saqqaf karya Allamah Muhammad
bin Umar bin Shalih bin Abdurraman Baraja’ Al-Khatib.
Disadur dari : infomajelis.co

Al Imam Al Alamah Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad

Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad lahir pada hari Rabu malam Kamis tanggal 5 Safar 1044 H/3 Agustus 1634 M Di Tarim, Hadromaut.

Nasabnya adalah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al Haddad dan seterusnya hingga Ahmad bin Isa bin Muhammad An naqib bin Ali Uroidhi bin Ja’far As Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As Sibth Al Husain bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali bin Abu Thalib, suami Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW.

Ayah beliau yakni Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad di kenal sebagai orang yang saleh. Ayahnya lahir dan tumbuh di kota Tarim dan sejak kecil berada di bawah asuhan ibunya Syarifah Salma wanita ahli makrifat dan dikenal kewaliannya, bahkan Habib Abdullah Al Haddad sendiri banyak meriwayatkan kekeramatan Syarifah Salma.

Suatu hari ayah Habib Abdullah Al haddad mendatangi rumah Al Arif Billah Habib Ahmad bin Muhammad Al Habsyi. Pada waktu itu ia belum berkeluarga, lalu ia meminta Habib Ahmad Al Habsyi mendoakannya. Lalu Habib Ahmad berkata kepadanya, ” anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan”.

Kemudian ia menikah dengan cucu Habib Ahmad itu, Salma binti Idrus bin Ahmad bin Muhammad Al Habsyi. Habib Idrus ini adalah saudaara Habib Husain bin Ahmad bin Muhammad Al Habsy, kakek Habib Ali bin Muhammad  bin Husain Al Habsyi (Shohib Simtud Duror).

Dari pernikahan tersebut lahirlah Habib Abdullah bin Alwi Al haddad. Ketika putranya lahir, ayahnya berujar, “aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat yang diucapkan Habib Ahmad Al Habsyi dulu, setelah lahirnya Abdullah aku baru mengerti, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar wilayah (kewalian).

Pada umur empat tahun beliau terkena penyakit cacar yang menyebabkan buta. Namun cacat yang beliau derita telah membawa hikmah, beliau tidak bermain sebagaimana anak kecil sebayanya. Beliau habiskan waktunya dengan menghafal Al Qur’an, Mujahaddah Al Nafs (beribadah dengan tekun melawan hawa nafsu), dan mencari ilmu. Sungguh sangat mengherankan seakan-akan anak kecil ini tahu bahwa ia tidak dilahirkan untuk yang lain, tetapi untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Memang sejak kecil begitu banyak perhatian yang beliau dapatkan dari Allah SWT. Allah SWT menjaga pandangannya dari segala yang diharamkan. Penglihatan lahirnya diambil oleh Allah SWT dan diganti oleh penglihatan batin, yang jauh lebih kuat dan berharga. Hal itu merupakan salah satu pendorongnya lebih giat dan tekun dalam mencari cahaya Allah SWT menuntut ilmu agama.

Pada tahun 1072 H / 1662 M, malam Senin tanggal 21 bulan Rajab, ayah beliau wafat. Ketika itu beliau berusia 28 tahun. Lalu beberapa hari kemudian ibunya wafat, setelah sebelumnya menderita sakit dan semakin lama semakin parah, yaitu tepat pada hari Rabu tanggal 24 Rajab 1072 H / 1662 M.

Setelah kedua-orangtuanya wafat, beliau diambil oleh salah seorang gurunya, Sayyid Umar bin Abdurrahman Al Attas. Pada waktu itu, beliau menulis surat pada saudaranya , Al Hamid, yang berada di India, memberitahunya perihal yang menimpa kedua orangtua mereka, dan menghiburnya agar bersabar.

Pada 1079 H/1669 M, dalam usia 35 tahun Habib Abdullah Al Haddad melaksanakan haji ke Baitullah, Mekah, dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW serta para syuhada di madinah. Beliau memasuki kota Mekah pada waktu Subuh di bulan Dzulhijjah 1079 H. Pada waktu itu wukuf di Arafah jatuh pada hari Jumat.

Setelah menunaikan ibadah haji, beliau menuju Madinah dan berada di sana selama 40 hari. Kemudian beliau kembali lagi ke Mekah hingga bulan Rabiul Awwal.

Suatu hari di musim haji, di masjid Namirah, Arafah , salah seorang muridnya Ba Salim menuturkan, ketika aku gelarkan sajadah tuanku di Masjid Namirah datang seseorang dengan gaya dan logat Turki dan langsung duduk di atas sajadah itu. Tidak begitu lama masjid itu makin sesak dengan pengunjungnya. Aku jadi bingung terhadap orang tersebut, sedangkan tuanku belum datang.

Tidak begitu lama, tuanku datang dan aku tidak melihat lagi orang itu duduk di atas sajadah tersebut. Seakan-akan ia duduk diatasnya agar tempat itu tidak diduduki oleh orang lain selain Habib Abdullah Al Haddad.

Masjid Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Bercahaya Bagaikan Bulan

Al Imam Abdullah Al Haddad memiliki perawakan yang tinggi, berdada bidang, tidak kurus juga tidak terlalu gempal, dan berkulit putih. Pribadinya sangat memancarkan wibawa. Wajahnya senantiasa manis dan menggembirakan hati orang lain di dalam majlisnya. Tertawanya sekedar senyuman manis. Apabila merasa senang dan gembira wajahnya bercahaya bagaikan bulan. Majelisnya senantiasa tenang dan penuh kehormatan sehingga tidak terdapat hadirin yang berbicara maupun bergerak-gerak.

Beliau selalu shalat wajib pada awal waktu dan tidak pernah terlihat shalat wajib sendirian. Selain itu beliau juga tidak pernah terlihat tergesa-gesa dalam shalatnya. Beliau sangat tidak suka berbicara antara adzan dan iqomah. Beliau sangat tidak suka diajak berbicara oleh rekan-rekannya hingga usai shalat.

Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjawab, ” Kita akan shalat untuk berkumpul dan hadir serta melepaskan segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan-Nya.”

Berkaitan dengan masalah perasaan hadir dalam shalat, menurutnya tidak disyariatkan shalat sunah sebelum shalat wajib melainkan karena untuk berusaha mewujudkan perasaan dekatnya hati dengan Allah SWT hingga memasuki shalat dengan perasaan hadir dan bertemu dengan-Nya.

Tempat Kholwat Habib Abdullah bin Alwi Al Hadad.

Beliau mengatakan, “Seorang hamba tidak di tuntut untuk menjalankannya di dalam batin hingga ia dapat memperbaiki bentuk shalat secara lahir. Bila dia telah menjalankan secara lahir dengan baik, akan kembali pula shalatnya secara batin. Ingat, tidak mungkin melakukan shalat secara batin kecuali dengan melakukan latihan olah hati sebagai pendahuluan, dan meninggalkan pendalaman dalam berbagai hal sebelum melakukannya. Seandainya bukan karena keutamaan shalat jama’ah, kami tidak akan melakukannya, dan lebih baik menjalankan shalat sendiri.”

Beliau memulai harinya sejak dini hari dan sarat dengan berbagai amal ibadah. Biasanya beliau tidur dan bangun sebelum sebelum subuh untuk melakukan shalat witir dan shalat fajar. Beliau tidur sebagaimana tidurnya Nabi Muhammad SAW, yakni hanya sesaat dan kemudian bangun melakukan kegiatan ibadah kembali hingga adzan subuh.

Selain itu beliau mempunyai kebiasan setiap Jumat sore setelah shalat ashar di Masjid Hujairah, berziarah ke makam Zanbal, makam para salaf Ba’alwi. Menurut Habib Muhammad bin Zain bin Smith, muridnya, dipilihnya waktu sore pada hari Jumat karena itu termasuk saat-saat terkabulnya doa, dan juga merupakan tradisi para salaf.

Mereka yang menghadiri majelisnya, lupa akan kehidupan dunia, bahkan terkadang si lapar pun lupa akan kelaparannya, si sakit hilang rasa sakitnya, dan si demam sembuh dari demamnya. Ini terbukti dari tidak seorang pun yang mau meninggalkan majelisnya.

Beliau amat mencintai para penuntut ilmu dan mereka yang gemar alam akhirat. Beliau tidak pernah jemu terhadap ahli-ahli majelisnya, bahkan mereka senantiasa diutamakan dengan kasih sayang tanpa membuatnya lalai dari mengingat Allah walau sekejap. Beliau pernah menegaskan, ” tidak seorang pun yang berada di majelisku menggangguku dari mengingat Allah SWT.”

Beliau adalah teladan bagi insan dalam soal pembicaraan dan amalan, mencerminkan akhlak junjungan mulia dan tabiat yang di contohkan Nabi yang mengalir dalam kehidupannya. Beliau memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat dalam hal keagamaan, beliau juga senantiasa menangani segala urusan dengan penuh keadilan dengan menghindari pujian dari orang lain, bahkan senantiasa mempercepat segala  tugasnya tanpa membuang-buang waktu.

Lautan Ilmu Pengetahuan

Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attos mengatakan , “Habib Abdullah Al Haddad ibarat pakaian yang dilipat dan baru dibuka di zaman ini, sebab beliau termasuk orang terdahulu, hanya saja di tunda kehidupan beliau demi kebahagiaan umat di zaman ini (abad ke-12)”. Al Habib Abdullah Al Aydrus menegaskan kedudukannya bagi kalangan Ba’alwi, Ia mengatakan,” Sayyid Abdullah Al Haddad adalah sultan seluruh golongan Ba’alwi”. Al Habib Muhammad bin Abdurrahman Madih mengatakan,” Mutiara ucapan Habib Abdullah Al Haddad merupakan obat bagi mereka yang mempunyai hati cemerlang, sebab mutiara beliau segar dan baru, langsung dari Allah SWT. Di zaman sekarang ini jangan tertipu oleh siapapun, walaupun kamu melihatnya sudah memperlihatkan banyak melakukan amal ibadah dan menampakkan Karomah.

Sesungguhnya orang zaman sekarang tidak mampu berbuat apa-apa jika mereka tidak berhubungan (kontak hati) dengan Habib Abdullah Al Haddad, sebab Allah SWT telah menghibahkan kepada beliau banyak hal yang tidak mungkin dapat di ukur.

Habib Muhammad bin Zain bin Smith pernah mengatakan, “masa kecil Habib Abdullah Al Haddad adalah masa kecil yang unik. Uniknya semasa kecil beliau sudah mampu mendiskusikan masala-masalah sufistis yang sulit, seperti mengkaji pemikiran Syaikh Ibnu Al Faridh, Ibnu Arabi, Ibnu Athailah, dan kitab-kitab Al Ghozali. Beliau tumbuh dari fitrah yang asli dan sempurna dalam kemanusannya, wataknya, dan kepribadiannya”.

Habib Ahmad bin Zain Al Habsy seorang murid beliau yang mendapat besar darinya, menyatakan kekagumannya terhadap gurunya dengan mengatakan, ” Seandainya aku dan Tuanku berziarah ke makam, kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang yang mati untuk bangkit dari kuburnya, pasti mereka akan bangkit sebagai orang-orang yang hidup dengan izin Allah SWT. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana beliau setiap hari telah mampu menghidupkan orang-orang yang bodoh dan lupa dengan cahaya ilmu dan nasihat. Beliau adalah lautan ilmu pengetahuan yang tiada tepi yang sampai pada tingkatan mujtahid dalam ilmu-ilmu islam, iman, dan ihsan. Beliau adalah mujadid pada ilmu-ilmu tersebut bagi penghuni zaman ini.

Kejujuran Mengikuti Syariat

Beliau pernah ditanya tentang masalah karomah, dan beliau menjawab bahwa orang yang mengingkari adanya karomah para wali, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Latha’if Al Minan, karya Syaikh Abu Turab An Nakhsabi, termasuk kufur dana kufur (yakni kufur nikmat).

Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa karomah termasuk bagian dari mukjizat para nabi. Hanya saja, bila mukjizat bersifat otonom, karomah para wali hanya bersifat tabi’iyah (mengikut). Yakni, mukjizat menunjukkan kebenaran seorang Rasul, sedangkan karomah seorang wali menunjukkan kejujuran dalam mengikuti syariat Rasul tersebut. Oleh karena itu, ajaran yang diikutinya benar.

Terlambat Menghadapi Suatu Urusan

Penulis buku Tatsbit Al Fuad, Syaikh Ahmad Asy Syajjar, mengatakan, ” disaat-saat beliau melakukan semua yang telah menjadi kebiasaannya sehari-hari, pada hari Kamis, 27 bulan Ramadhan 1132 H beliau merasakan penyakitnya yang biasa di derita kambuh kembali. Sejak kambuhnya penyakit itu beliau mulai tidak dapat keluar rumah untuk menunaikan shalat jamaah di masjid. Dan tidak pula memberikan pelajaran-pelajaran sebagaimana yang sudah biasa dilakukan. Beliau hanya dapat keluar rumah hanya pada saat-saat merasa sehat dan kuat. Demikianlah yang beliau lakukan hingga saat penyakitnya bertambah keras dan tidak dapat keluar sama sekali dari rumah. Banyak orang berjubel di depan pintu rumahnya dengan maksud hendak menjenguk”.

Pada pagi hari ‘Id dua orang sahabat, Habib Zainal Abidin Al Aydrus dan saudaranya datang menjenguk, kepada dua orang sahabat itu beliau berkata,”Sebabnya penyakit ini di samping takdir Allah, menurut hemat saya adalah karena saya terlambat menghadapi suatu urusan seperti pengajaran. Yaitu karena saya mendatangi sayyid-sayyid dari keluarga Al Faqih pada malam Rabu 26 bulan Ramadhan. Padahal Rasulullah SAW pada hari-hari seperti itu meninggalkan semua urusan keduniaan, beliau ber’itikaf, tidak menginap di salah satu rumah istri-istrinya. Demikianlah kebiasaan Rasulullah. Akan tetapi itu saya lakukan semata-mata untuk memenuhi kewajiban, bukan dorongan selain itu, dan bukan pula karena saya mempunyai keinginan…” Sebagaimana diketahui beliau datang ke pemukiman Al Faqih karena mempunyai seorang istri dari keluarga mereka.

Pada hari-hari terakhir hayatnya beliau sering mengangkat tangan lalu kedua-duanya diletakkan di bawah dada, seperti orang yang sedang shalat. Kemudian telapak tangannya diletakkan pada lutut sambil menggenggam jari-jarinya sambil memegang tasbih, seperti orang yang bertasyahud. Kemudian tepat pada hari ke-40 dari sakitnya, ketika usianya memasuki 88 tahun lebih 9 bulan kurang 3 hari, pada malam selasa tanggal 7 Dzulqo’dah 1132 H/ 11 September 1720 M, Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad dengan tenang berpulang ke Rahmatullah di rumah kediamannya di Al Hawi dan kemudian disemayamkan di pemakaman Zanbal, Tarim, Hadromaut. Semoga Allah SWT melimpahkan cucuran rahmatNya kepada beliau.

mam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad, lahir hari Rabu, Malam Kamis tanggal 5 Bulan Syafar 1044 H di Desa Sabir di Kota Tarim, wilayah Hadhromaut, Negeri Yaman.

Nasab

Beliau adalah seorang Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad bin Abu Bakar Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad Shôhib Mirbath bin Ali Khôli’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Shôhib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Jakfar Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rosulullah Muhammad SAW.

Orang-tuanya

Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad, Ayah Syaikh Abdullah Al-Haddad dikenal sebagai seorang yang saleh. Lahir dan tumbuh di kota Tarim, Sayyid Alwy, sejak kecil berada di bawah asuhan ibunya Syarifah Salwa, yang dikenal sebagai wanita ahli ma’rifah dan wilayah. Bahkan Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad sendiri banyak meriwayatkan kekeramatannya. Kakek Al-Haddad dari sisi ibunya ialah Syaikh Umar bin Ahmad Al-Manfar Ba Alawy yang termasuk ulama yang mencapai derajat ma’rifah sempurna.
Suatu hari Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad mendatangi rumah Al-Arif Billah Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Habsy, pada waktu itu ia belum berkeluarga, lalu ia meminta Syaikh Ahmad Al-Habsy mendoakannya, lalu Syaikh Ahmad berkata kepadanya, ”Anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan”. Kemudian ia menikah dengan cucu Syaikh Ahmad Al-Habsy, Salma binti Idrus bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Al-Habib Idrus adalah saudara dari Al-Habib Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Yang mana Al-Habib Husein ini adalah kakek dari Al-Arifbillah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy (Mu’alif Simtud Durror). Maka lahirlah dari pernikahan itu Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad. Ketika Syaikh Al-Hadad lahir ayahnya berujar, “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat yang ducapkan Syaikh Ahmad Al-Habsy terdahulu, setelah lahirnya Abdullah, aku baru mengerti, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar Al-wilayah (kewalian)”.

Masa Kecil

Dari semenjak kecil begitu banyak perhatian yang beliau dapatkan dari Allah. Allah menjaga pandangan beliau dari segala apa yang diharomkan. Penglihatan lahiriah Beliau diambil oleh Allah dan diganti oleh penglihatan batin yang jauh yang lebih kuat dan berharga. Yang mana hal itu merupakan salah satu pendorong beliau lebih giat dan tekun dalam mencari cahaya Allah menuntut ilmu agama.
Pada umur 4 tahun beliau terkena penyakit cacar sehingga menyebabkannya buta. Cacat yang beliau derita telah membawa hikmah, beliau tidak bermain sebagaimana anak kecil sebayanya, beliau habiskan waktunya dengan menghapal Al-Quran, mujahaddah al-nafs (beribadah dengan tekun melawan hawa nafsu) dan mencari ilmu. Sungguh sangat mengherankan seakan-akan anak kecil ini tahu bahwa ia tidak dilahirkan untuk yang lain, tetapi untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Dakwahnya

Berkat ketekunan dan akhlakul karimah yang beliau miliki pada saat usia yang sangat dini, beliau dinobatkan oleh Allah dan guru-guru beliau sebagai da’i, yang menjadikan nama beliau harum di seluruh penjuru wilayah Hadhromaut dan mengundang datangnya para murid yang berminat besar dalam mencari ilmu. Mereka ini tidak datang hanya dari Hadhromaut tetapi juga datang dari luar Hadhromaut. Mereka datang dengan tujuan menimba ilmu, mendengar nasihat dan wejangan serta tabarukan (mencari berkah), memohon doa dari Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Di antara murid-murid senior Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah putranya, Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Alwy Al-Haddad, Al-Habib Ahmad bin Zein bin Alwy bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy, Al-Habib Ahmad bin Abdullah Ba-Faqih, Al-Habib Abdurrohman bin Abdullah Bilfaqih, dll.
Selain mengkader pakar-pakar ilmu agama, mencetak generasi unggulan yang diharapkan mampu melanjutkan perjuangan kakek beliau, Rosullullah SAW, beliau juga aktif merangkum dan menyusun buku-buku nasihat dan wejangan baik dalam bentuk kitab, koresponden (surat-menyurat) atau dalam bentuk syair sehingga banyak buku-buku beliau yang terbit dan dicetak, dipelajari dan diajarkan, dibaca dan dialihbahasakan, sehingga ilmu beliau benar-benar ilmu yang bermanfaat. Tidak lupa beliau juga menyusun wirid-wirid yang dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat untuk agama, dunia dan akhirat, salah satunya yang agung dan terkenal adalah Rotib ini. Rotib ini disusun oleh beliau dimalam Lailatul Qodar tahun 1071 H.

Akhlaq dan Budi Pekerti

Al-Imam Al-Haddad (rahimahullah) memiliki perwatakan badan yang tinggi, berdada bidang, tidak terlalu gempal, berkulit putih, sangat berhaibah dan tidak pula di wajahnya kesan mahupun parut cacar.
Wajahnya sentiasa manis dan menggembirakan orang lain di dalam majlisnya. Ketawanya sekadar senyuman manis; apabila beliau gembira dan girang, wajahnya bercahaya bagaikan bulan. Majlis kendalian beliau sentiasa tenang dan penuh kehormatan sehinggakan tidak terdapat hadhirin berbicara mahupun bergerak keterlaluan bagaikan terletak seekor burung di atas kepala mereka.
Mereka yang menghadhiri ke majlis Al-Habib bagaikan terlupa kehidupan dunia bahkan terkadang Si-lapar lupa hal kelaparannya; Si-sakit hilang sakitnya; Si-demam sembuh dari demamnya. Ini dibuktikan apabila tiada seorang pun yang yang sanggup meninggalkan majlisnya.
Al-Imam sentiasa berbicara dengan orang lain menurut kadar akal mereka dan sentiasa memberi hak yang sesuai dengan taraf kedudukan masing-masing. Sehinggakan apabila dikunjungi pembesar, beliau memberi haknya sebagai pembesar; kiranya didatangi orang lemah, dilayani dengan penuh mulia dan dijaga hatinya. Apatah lagi kepada Si-miskin.
Beliau amat mencintai para penuntut ilmu dan mereka yang gemar kepada alam akhirat. Al-Habib tidak pernah jemu terhadap ahli-ahli majlisnya bahkan sentiasa diutamakan mereka dengan kaseh sayang serta penuh rahmah; tanpa melalaikan beliau dari mengingati Allah walau sedetik. Beliau pernah menegaskan “Tiada seorang pun yang berada dimajlisku mengganguku dari mengingati Allah”.
Majlis Al-Imam sentiasa dipenuhi dengan pembacaan kitab-kitab yang bermanfaat, perbincangan dalam soal keagamaan sehingga para hadhirin sama ada yang alim ataupun jahil tidak akan berbicara perkara yang mengakibatkan dosa seperti mengumpat ataupun mencaci. Bahkan tidak terdapat juga perbicaraan kosong yang tidak menghasilkan faedah. Apa yang ditutur hanyalah zikir, diskusi keagamaan, nasihat untuk muslimin, serta rayuan kepada mereka dan selainnya supaya beramal soleh. Inilah yang ditegaskan oleh beliau “Tiada seorang pun yang patut menyoal hal keduniaan atau menyebut tentangnya kerana yang demikian adalah tidak wajar; sewajibnya masa diperuntuk sepenuhnya untuk akhirat sahaja. Silalah bincang perihal keduniaan dengan selain dariku.”
Al-Habib (rahimahullah) adalah contoh bagi insan dalam soal perbicaraan mahupun amalan; mencerminkan akhlak junjungan mulia dan tabiat Al-Muhammadiah yang mengalir dalam hidup beliau. Beliau memiliki semangat yang tinggi dan azam yang kuat dalam hal keagamaan. Al-Imam juga sentiasa menangani sebarang urusan dengan penuh keadilan dengan menghindari pujian atau keutamaan dari oramg lain; bahkan beliau sentiasa mempercepatkan segala tugasnya tanpa membuang masa. Beliau bersifat mulia dan pemurah lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan. Ciri inilah menyebabkan ramai orang dari pelusuk kampung sering berbuka puasa bersama beliau di rumahnya dengan hidangan yang tidak pernah putus semata mata mencari barakah Al-Imam.
Al-Imam menyatakan “Sesuap makanan yang dihadiahkan atau disedekahkan mampu menolak kesengsaraan”. Katanya lagi “Kiranya ditangan kita ada kemampuan, nescaya segala keperluan fakir miskin dipenuhi, sesungguhnya permulaan agama ini tidak akan terdiri melainkan dengan kelemahan Muslimin”.
Beliau adalah seorang yang memiliki hati yang amat suci, sentiasa sabar terhadap sikap buruk dari yang selainnya serta tidak pernah merasa marah. Kalaupun ia memarahi, bukan kerana peribadi seseorang tetapi sebab amalan mungkarnya yang telah membuat Al-Imam benar-benar marah. Inilah yang ditegaskan oleh Al-Habib “Adapun segala kesalahan berkait dengan hak aku, aku telah maafkan; tetapi hak Allah sesungguhnya tidak akan dimaafkan”.
Al-Imam amatlah menegah dari mendoa’ agar keburukan dilanda orang yang menzalimi mereka. Sehingga bersama beliau terdapat seorang pembantu yang terkadangkala melakukan kesilapan yang boleh menyebabkan kemarahan Al-Imam. Namun beliau menahan marahnya; bahkan kepada si-Pembantu itu diberi hadiah oleh Al-Habib untuk meredakan rasa marah beliau sehinggakan pembantunya berkata: “alangkah baiknya jika Al-Imam sentiasa memarahiku”.
Segala pengurusan hidupnya berlandaskan sunnah; kehidupannya penuh dengan keilmuan ditambah pula dengan sifat wara’. Apabila beliau memberi upah dan sewa sentiasa dengan jumlah yang lebih dari asal tanpa diminta. Kesenangannya adalah membina dan mengimarahkan masjid. Di Nuwaidarah dibinanya masjid bernama Al-Awwabin begitu juga, Masjid Ba-Alawi di Seiyoun, Masjid Al-Abrar di As-Sabir, Masjid Al-Fatah di Al-Hawi, Masjid Al-Abdal di Shibam, Masjid Al-Asrar di Madudah dan banyak lagi.
Diantara sifat Al-Imam termasuk tawaadu’ (merendah diri). Ini terselah pada kata-katanya, syair-syairnya dan tulisannya. Al-Imam pernah mengutusi Al-Habib Ali bin Abdullah Al-Aidarus. “Doailah untuk saudaramu ini yang lemah semoga diampuni Allah”

Wafatnya

Beliau wafat hari Senin, malam Selasa, tanggal 7 Dhul-Qo’dah 1132 H, dalam usia 98 tahun. Beliau disemayamkan di pemakaman Zambal, di Kota Tarim, Hadhromaut, Yaman. Semoga Allah melimpahkan rohmat-Nya kepada beliau juga kita yang ditinggalkannya.

Habib Abdullah Al Haddad dimata Para Ulama

Al-Arifbillah Quthbil Anfas Al-Imam Habib Umar bin Abdurrohman Al-Athos ra. mengatakan, “Al-Habib Abdullah Al-Haddad ibarat pakaian yang dilipat dan baru dibuka di zaman ini, sebab beliau termasuk orang terdahulu, hanya saja ditunda kehidupan beliau demi kebahagiaan umat di zaman ini (abad 12 H)”.
Al-Imam Arifbillah Al-Habib Ali bin Abdullah Al-Idrus ra. mengatakan, “Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad adalah Sultan seluruh golongan Ba Alawy”.
Al-Imam Arifbillah Muhammad bin Abdurrohman Madehej ra. mengatakan, “Mutiara ucapan Al-Habib Abdullah Al-Haddad merupakan obat bagi mereka yang mempunyai hati cemerlang sebab mutiara beliau segar dan baru, langsung dari Allah SWT. Di zaman sekarang ini kamu jangan tertipu dengan siapapun, walaupun kamu sudah melihat dia sudah memperlihatkan banyak melakukan amal ibadah dan menampakkan karomah, sesungguhnya orang zaman sekarang tidak mampu berbuat apa-apa jika mereka tidak berhubungan (kontak hati) dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebab Allah SWT telah menghibahkan kepada beliau banyak hal yang tidak mungkin dapat diukur.”
Al-Imam Abdullah bin Ahmad Bafaqih ra. mengatakan, “Sejak kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad bila matahari mulai menyising, mencari beberapa masjid yang ada di kota Tarim untuk sholat sunnah 100 hingga 200 raka’at kemudian berdoa dan sering membaca Yasin sambil menangis. Al-Habib Abdullah Al-Haddad telah mendapat anugrah (fath) dari Allah sejak masa kecilnya”.
Sayyid Syaikh Al-Imam Khoir Al-Diin Al-Dzarkali ra. menyebut Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai fadhillun min ahli Tarim (orang utama dari Kota Tarim).
Al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith ra. berkata, “Masa kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah masa kecil yang unik. Uniknya semasa kecil beliau sudah mampu mendiskusikan masalah-masalah sufistik yang sulit seperti mengaji dan mengkaji pemikiran Syaikh Ibnu Al-Faridh, Ibnu Aroby, Ibnu Athoilah dan kitab-kitab Al-Ghodzali. Beliau tumbuh dari fitroh yang asli dan sempurna dalam kemanusiaannya, wataknya dan kepribadiannya”.
Al-Habib Hasan bin Alwy bin Awudh Bahsin ra. mengatakan, “Bahwa Allah telah mengumpulkan pada diri Al-Habib Al-Haddad syarat-syarat Al-Quthbaniyyah.”
Al-Habib Abu Bakar bin Said Al-Jufri ra. berkata tentang majelis Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai majelis ilmu tanpa belajar (ilmun billa ta’alum) dan merupakan kebaikan secara menyeluruh. Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan, “Aku telah berkumpul dengan lebih dari 40 Waliyullah, tetapi aku tidak pernah menyaksikan yang seperti Al-Habib Abdullah Al-Haddad dan tidak ada pula yang mengunggulinya, beliau adalah Nafs Rohmani, bahwa Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah asal dan tiada segala sesuatu kecuali dari dirinya.”
Seorang guru Masjidil Harom dan Nabawi, Syaikh Syihab Ahmad al-Tanbakati ra. berkata, “Aku dulu sangat ber-ta’alluq (bergantung) kepada Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Kadang-kadang dia tampak di hadapan mataku. Akan tetapi setelah aku ber-intima’ (condong) kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad, maka aku tidak lagi melihatnya. Kejadian ini aku sampaikan kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau berkata,’Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di sisi kami bagaikan ayah. Bila yang satu ghoib (tidak terlihat), maka akan diganti dengan yang lainnya. Allah lebih mengetahui.’ Maka semenjak itu aku ber-ta’alluq kepadanya.”
Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi ra. seorang murid Al-Habib Abdullah Al-Haddad yang mendapat mandat besar dari beliau, menyatakan kekagumannya terhadap gurunya dengan mengatakan, ”Seandainya aku dan tuanku Al-Habib Abdullah Al-Haddad ziaroh ke makam, kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang yang mati untuk bangkit dari kuburnya, pasti mereka akan bangkit sebagai orang-orang hidup dengan izin Allah. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana dia setiap hari telah mampu menghidupkan orang-orang yang bodoh dan lupa dengan cahaya ilmu dan nasihat. Beliau adalah lauatan ilmu pengetahuan yang tiada bertepi, yang sampai pada tingkatan Mujtahid dalam ilmu-ilmu Islam, Iman dan Ihsan. Beliau adalah mujaddid pada ilmu-ilmu tersebut bagi penghuni zaman ini. ”
Syaikh Abdurrohman Al-Baiti ra. pernah berziaroh bersama Al-Habib Abdullah Al-Haddad ke makam Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy, dalam hatinya terbetik sebuah pertanyaan ketika sedang berziaroh, “Bila dalam sebuah majelis zikir para sufi hadir Al-Faqih Al-Muqaddam, Syaikh Abdurrohman Asseqaff, Syaikh Umar al-Mukhdor, Syaikh Abdullah Al-Idrus, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, dan yang semisal setara dengan mereka, mana diantara mereka yang akan berada di baris depan? Pada waktu itu guruku, Al-Habib Abdullah Al-Haddad, menyingkap apa yang ada dibenakku, kemudian dia mengatakan, ‘Saya adalah jalan keluar bagi mereka, dan tiada seseorang yang bisa masuk kepada mereka kecuali melaluiku.’ Setelah itu aku memahami bahwa beliau Al-Habib Abdullah Al-Haddad, adalah dari abad 2 H, yang diakhirkan kemunculannya oleh Allah SWT pada abad ini sebagai rohmat bagi penghuninya.”
Al-Habib Ahmad bin Umar bin Semith ra. mengatakan, “Bahwa Allah memudahkan bagi pembaca karya-karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad untuk mendapat pemahaman (futuh), dan berkah membaca karyanya Allah memudahkan segala urusannya agama, dunia dan akhirat, serta akan diberi ‘Afiat (kesejahteraan) yang sempurna dan besar kepadanya.”
Al-Habib Thohir bin Umar Al-Hadad ra. mengatakan, “Semoga Allah mencurahkan kebahagiaan dan kelapangan, serta rezeki yang halal, banyak dan memudahkannya, bagi mereka yang hendak membaca karya-karya Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad ra.”
Al-Habib Umar bin Zain bin Semith ra. mengatakan bahwa seseorang yang hidup sezaman dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad ra., bermukim di Mekkah, sehari setelah Al-Habib Abdullah Al-Haddad wafat, ia memberitahukan kepada sejumlah orang bahwa semalam beliau ra. sudah wafat. Ketika ditanya darimana ia mengetahuinya, ia menjawab, “Tiap hari, siang dan malam, saya melihat beliau selalu datang berthowaf mengitari Ka’bah (padahal beliau berada di Tarim, Hadhromaut). Hari ini saya tidak melihatnya lagi, karena itulah saya mengetahui bahwa beliau sudah wafat.”

Karya-karyanya

Beliau meninggalkan kepada umat Islam khazanah ilmu yang banyak, yang tidak ternilai, melalui kitab-kitab dan syair-syair karangan beliau. Antaranya ialah:

1. An-Nashaa’ih Ad-Dinniyah Wal-Washaya Al-Imaniyah.

2. Ad-Dakwah At Tammah.

3. Risalah Al-Mudzakarah Ma’al-Ikhwan Wal-Muhibbin.

4. Al Fushuul Al-Ilmiyah.

5. Al-Hikam.

6. Risalah Adab Sulukil-Murid.

7. Sabilul Iddikar.

8. Risalah Al-Mu’awanah.

9. Ittihafus-Sa’il Bi-Ajwibatil-Masa’il.

10. Ad-Durrul Manzhum Al-Jami’i Lil-Hikam Wal-Ulum.*

Kitab ini adalah kumpulan syair-syair Al-Imam. Qasidah-qasidah dalam album ini di ambil dari kitab ini. Mutiara Qasidah Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad dapat didownload secara cuma-cuma disini : http://www.alhawi.net/MutiraQasidah.htm

Al – Habib Umar bin Abdurrahman Al – Aththas Shohibur Rotib

Nasab Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas.

Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, lahir tahun 992 H / 1572 M di desa Lisk, dekat kota Inat, Hadramaut. Beliau pula yang mula-mula mendapat gelar Al-Attas, “Orang yang bersin”. Disebut demikian karena, konon, ketika masih berada dalam kandungan ibundanya, Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri, beliau sering bersin. Janin yang masih dalam kandungan dan bisa bersin, tentulah luar biasa. Dan itulah karomah pertama Habib Umar. Sejak kecil beliau diasuh oleh dan dididik oleh oleh ayah beliau sendiri Habib Abdurrahman bin Aqil. Meskipun matanya buta sejak kecil, tetapi Allah SWT memberi beliau kecerdasan otak dan pandangan hati ( bashirah ), sehingga beliau medah menghapal apa saja yang didengarnya. Sejak kecil beliau anak yang tekun beribadah, hidup zuhud berpaling dari dunia dan sejak kecil sudah terlihat tanda-tanda kebesaran pada diri beliau. Sejak kecil, beliau sering ke kota Tarim dari desanya Lisk dan melakukan shalat dua raka,at di setiap masjid yang ada di kota Tarim, bahkan menimba air dari sumur untuk mengisi kolam-kolam masjid.
Ayahanda beliau, Habib Abdurrahman bin Aqil, adalah seorang ulama, tokoh para wali terkemuka, pernah menerima ilmu dan wilayah dari pamannya, yaitu Syekh Abu Bakar bin Salim, yang sangat mencintainya dan kepada ayahnya Habib Aqil, yang merupakan saudara kandung Syekh Abu Bakar bin Salim. Ketika Habib Abdurrahman wafat, di kota Huraidzah, maka Habi Umar menyuruh pembantunya untuk membantu mencarikan tanah yang cocok untuk dijadikan kuburan ayahnya. Akhirnya sang pembantu mendapatkan sebidang tanah yang ditandai dengan sebuah tiang dari cahaya. Akhirnya Habib Abdurrahman dimakamkan di tempat tersebut. Biasanya jika Habib Umar berziarah ke maqam ayahnya, maka beliau bercaka-cakap dengan ayah beliau dari balik kubur.
Habib Abdurrahman bin Aqil menikah dengan dua orang wanita, yaitu Syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad bin Alwi Al-Jufri ( ibunda Habib Umar, Habib Abdullah dan Hababah Alawiyah ) dan Arobiyah binti Yamani Bathouq ( ibunda Habib Aqil, Habib Sholeh, Musyayakh dan Maryam ).

Pindahnya Habib Umar Al Atthas ke desa Huraidzah

ketika Habib Umar mencapai usia akil baligh, maka guru beliau Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim menyuruh beliau untuk berdakwah ke desa Huraidzah. Demikian pula guru beliau yang bernama Habib Hamid bin Syekh Abu Bakar bin Salim juga menyuruh beliau untuk segera berdakwah ke desa Huraidzah. Maka beliau segera berdakwah kesana. Mulanya beliau sering pulang pergi ke Huraidzah; akhirnya beliau menetap disana pada tahun 1040 H.
ketika Habib Umar tiba di Huraidzah untuk pertama kalinya, beliau diminta oleh Syekh Najjaad Adz Dzibyani untuk menetap di rumahnya, karena sangat menghormati dan barokah yang luar biasa dari beliau. Di desa tersebut ada seorang wanita yang bernama Sholahah, ia bernazar untuk memberikan hartanya dan bagian dari rumahnya kepada Habib Umar. Pemberian dari wanita itu diterima oleh beliau, yang kemudian meminangnya sebagai imbalan atas kebaikannya itu.
Selanjutnya Habib Umar mengajak ayahnya dan saudara-saudaranya untuk pindah ke Huraidzah. Pada mulanya ajakan tersebut ditolak ayah beliau; tetapi setelah keduanya minta pendapat Habib Husein dan Habib Hamid, maka kedua guru Habib Umar menyuruh Habib Abdurrahman untuk mengikuti ajakan beliau. Kedua guru beliau mengatakan :

”Wahai Abdurrahman pergilah bersama Umar, dan ikuti serta pegangi pendapatnya, sekalipun kau adalah ayahnya dan dia anakmu.”

Maka Habib Abdurrahman berkata kepada putranya :

”Wahai Umar, kalau sekarang kami mau mengikuti pendapatmu, maka lakukanlah apa saja yang terbaik bagi kami.”

Selanjutnya seluruh keluarga Habib Umar segera meninggalkan Lisk menuju desa Huraidzah.

Guru-guru Habib Umar.

1. Habib Muhdhor bin Syekh Abu Bakar bin Salim
2. Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim
3. Habib Hamid bin Syekh Abu Bakar bin Salim
4. Habib Muhammad bi Abdurrahman Al-Hadi
5. Sayyid Umar bin Isa Barakwah As Samarqandi
6. Syekh Al Kabir Ahmad bin Shahal bin Ishaq Al Hainani
7. Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihab
8. Syekh Abdullah bin Ahmad Al Afif
9. Syekh Abdul Qadir Ba’syin Shahib Rubath
10. Habib Abu Bakar bin Muhammad Balfaqih, Shohi Qaidun.

Habib Umar sangat mengagungkan dan menghormati guru beliau yang bernama Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim, bila beliau mendengar nama gurunya yang satu ini di sebut orang, maka wajah beliau berubah karena mengagungkan gurunya tersebut, bahkan ada kalanya Habib Umar bercakap-cakap dengan Habib Husein di tengah suatu majelis, sedangkan ucapan keduanya tidak dapat dimengerti orang lain. Syekh Ali bin Abdillah Baros berkata :
”Habib Umar berkata:

“Pada suatu hari aku mendatangi Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim dengan maksud untuk mudzakarah tentang tariqah tasawuf, kebetulan ketika itu Habib Husein sedang berada ditengah anggota majelis taklimnya.
Kemudian beliau berkata :

”Wahai Umar, seseorang yang tidak mengerti suatu isyarat, maka ia tidak akan dapat mengambil manfaat dari ibarat yang terang dan siapa yang menjelaskan kata-kata yang sudah jelas, adakalanya dapat menambah pendengarannya makin bertambah bingung.”

Selanjutnya Habib Umar berkata :

”Timbul rasa takut di hatiku bahwa tutur kata guruku setelah kata-kata itu sengaja ditujukan bagiku.”

Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim sangat menghormati Habib Umar, bahkan beliau lebih mengunggulkan Habib Umar dari saudara-saudaranya dan kawan-kawannya. Habib Husein tidak pernah berdiri untuk menghormati orang, seperti halnya untuk Habib Umar. Pada suatu hari, Habib Umar bersama para tokoh Alawiyin datang ke tempat Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim, pada waktu itu Habib Umar merupaka satu-satunya orang yang paling merendahkan diri dan memakai pakaian paling sederhana, ditambah lagi ke dua matanya tidak dapat melihat; ketika Habib Husein melihat Habib Umar berada di paling belakang rombongan itu, maka Habib Husein berubah wajahnya, kemudian beliau berkata kepada orang-orang terkemuka dari rombongan itu :

”Sesungguhnya kalian hanya lebih mengutamakan penampilan lahiriah, dan kalian tidak mau memuliakan orang mulia menurut kedudukan yang sepantasnya, andaikata kalian tahu kemuliaan lelaki ini, Habib Umar, pasti kedudukan kalian tidak ada artinya, leher-leher kalian akan menunuduk dan ruh serta jasad kalian akan rindu kepadanya.”

Kemudian beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan Habib Umar yang menyebabkan mereka merasa betapa kecilnya dirinya masing-masing.
Sebagai Ulama besar dan Sufi, Habi Umar banyak karomahnya; bahkan sampai ke negeri Cina. Suatu hari, salah seorang anak Habib Umar, yaitu Habib Abdurrahman melawat ke Cina, disana ia bertemu seorang sufi yang memberi salam dan hormat, padahal ia tidak mengenalnya.

“Bagaimana engkau mengenalku, padahal kita belum pernah berjumpa? Tanyanya.

“Bagaimana aku tidak mengenal engkau? Ayahmu Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas, adalah guru kami, dan kami sangat menghormatinya.Habib Umar sering datang ke negeri kami dan beliau sangat terkenal di negeri ini.” Jawab sufi tersebut.

Padahal jarak antara Hadramaut dan Cina sangat jauh, namun Habib Umar telah berdakwah sampai kesana.

Sanad penerimaan kalimat Talqin bagi Habib Umar Al Attas.

Beliau menerima kalimat talqin Laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah dari Syekh Al ‘Arif billah Assyarif Umar bin Isa Barakwah As Samarqandi Al Maghribi, yang cabangnya sampai kepada Syekh Abdul qadir Al Jailani, yang sanadnya bersambung sampai dengan Rasulullah SAW.

Budi pekerti Habib Umar Al -Atthas

Beliau dikenal sebagai seorang ‘Alim, ‘Amil, Quthub, Ghauts, Tokoh Sufi, Suci, suka memenuhi janji, Murabbi Rabbani, Da’I, suka mengajak orang ke jalan Allah SWT dengan pandangan yang bersih dan budi pekerti yang luhur, beliau himpun ilmu lahir dan batin, pelindung kaum faqir, janda dan anak yatim. Beliau senantiasa menyambut dan mengembirakan orang-orang faqir, mereka dimuliakan dan didudukkan pada tempat yang mulia, sehingga mereka sangat mencintai beliau. Beliau amat tawadhu’ dan merendahkan dirinya, karena merasa diawasi oleh Allah SWT. Beliau selalu menyuruh orang untuk bersabar, khususnya jika cobaan dan bencana sedang menimpa. Beliau sangat bersabar untuk menjalankan berbagai aktifitas ibadah.
Beliau tidak pernah tidur pada bagian separuh terakhir di malam hari, beliau pernah menghabiskan waktu malamnya untuk mengulang-ngulang bacaan do’a qunut.
Beliau amat sabar dalam menghadapi berbagai krisis, tidak pernah menyombongkan diri kepada seorangpun, mau duduk di tempat mana saja tanpa membedakan tempat yang baik atau jelek dan beliau tidak pernah menempatkan dirinya di tempat yang lebih tinggi atau di tempat yang lebih menonjol dan beliau tidak pernah mendekati kaum penguasa.
Beliau senantiasa mengikuti jejak perjalanan para sesepuh beliau yang terdahulu, para tokoh Ba’Alawi seperti perjalanan yang ditempuh oleh :

• Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’Alawi
• Imam Abdurrahman AS-Segaf
• Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus
• Syekh Abu Bakar bin Salim dll.

Thoriqah mereka lebih banyak menutupi diri, tawadhu’, tidak menuruti hawa nafsu, lemah lembut, tidak ingin dikenal apalagi menonjolkan diri, karena mereka merasa, bahwa diri mereka tidak akan menjadi orang baik, kecuali hanya dengan anugerah dan kemurahan Allah SWT. Sifat ini tetap diikuti oleh anak cucu mereka, khususnya para wali yang mempunyai kedudukan, ilmu dan gemqar beramal kebajikan dan beribadah.
Jika Habib Umar meningkatkan frekwensi ibadah wajib dan sunnah, maka beliau mengikuti apa yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam Rubu’ul Ibadah didalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, jika beliau ingin memperbaiki niat dan motivasi, maka beliau mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali didalam kitab Rubu’ul Adat dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin; jika beliau ingin menjauhi budi pekerti dan tindak tanduk yang tidak baik, maka beliau mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali didalam Rubu’ul Muhlikat dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin; dan jika ingin mengikuti akhlaq yang diridhoi oleh Allah SWT maka beliau mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali dalam Rubu’ul Munjiyat dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin dan mencari tambahan keterangan dari kitab-kitab yang lain.
Beliau suka berwasiat untuk menyenangkan anak-anak kecil, kata beliau :

”kalau engkau tidak dapat menyenangkan anak kecil dengan memberi sesuatu, maka berikan kepada mereka meskipun sebuah batu kerikil berwarna merah”.

Beliau lebih suka menegendarai keledai di sebagian besar waktunya dan didalam perjalanannya ditengah hari yang amat panas. Disetiap perjalanannya, beliau selalu membawa kitab Ar Risalah karya Imam Qusyairi di satu tangan, sedang di tangan lain memegang kitab Al ‘Awarif. Kata beliau :

”Sesungguhnya, kitab Ar Risalah dan kitab Al ‘Awarifu Al Maarif maupun kitab-kitab yang semacamnya merupakan benteng para tokoh sufi.”

Habib Umar dan guru beliau, Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim melarang orang untuk menghisap rokok dan mengharamkannya.

Kitab-kitab yang dipesankan Habib Umar Al Attas untuk dipelajari

1. Az Zubad karya Syekh Ibnu Ruslan
2. Bidaayatul Hidaayah karya Imam Ghazali. Syekh Ali Baros pernah membaca mukakaddimah kitab Bidaayatul Hidayah di hadapan Habib Umar, kemudian beliau memberi ijazah kepada Syekh Ali Baros, sehingga Allah membuka cabang-cabang ma’rifat baginya.
3. Al Minhaj karya Imam Nawawi. Syekh Abdullah bin Umar Ba’ubaid berkata : “Ketika aku berkunjung ketempat Habib Umar, beliau berkata kepadaku :”Aku pernah membaca kitab Al Irsyad, karya Syekh Ismail Al Muqri. Maka beliau berkata kepada Syekh Ali Baros :”Wahai Ali bacakan kepadanya kitab Al Minhaj Imam Nawawi dan bacakan juga kitab itu kepada kawan-kawanmu; karena kitab tersebut membawa berkah dan memberi futuh, Insya Allah. Sebab pengarangnya seorang wali qutub dan ia berdoa’ bagi setiap pembacanya, semoga diberi barokah.
4. Ar Risalah ( Imam Qusyairi )
5. Al ‘Awarifu Al Ma’arif ( Imam Saharwudi )

Istri-istri Habib Umar Al Attas

1. Sulthonah binti Umar bin Reba’ ; dua anak ( Salim dan Musyayakh.)
2. Aliyah binti Rasam; tiga anak ( Husein, Abdurrahman dan Ali )
3. Putri Mubarak bin Jamil Baras; satu anak ( Mukhsin )
4. Asma’ Ruqoqah binti Ali Ba’isa, tiga anak ( Syekh, Abdullah dan Syaikha )
5. Fatimah binti Abdullah Al Masawa, dua anak ( Alwiyah dan..)
6. Habsyiyah, satu anak ( Fatimah )
7. Fatimah binti Umar bin Sulaiman Al Amiri An Nahdi, satu anak ( Salma )
8. Zubdah, satu anak ( Syekh Albar, wafat saat kecil )

Anak laki-laki beliau yang menurunkan anan cucu : Salim, Husein, Abdurrahman, Syekh dan Abdullah.

Wafatnya habib Umar Al Attas.

Diceritakan bahwa Habib Isa bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasyim Al Habsyi dan Habib Abdullah Al Haddad datang ke rumah Habib Umar, ingin bertamu. Mereka diterima beliau secara singkat. Dalam pertemuan itu, beliau berdoa’ dan berkata :

”Hari ini adalah hari pertemuan terakhir di dunia, semoga kita dapat bertemu lagi disisi Allah SWT.”

Kemudian beliau menyuruh kepada Habib Abdullah Al Haddad untuk pergi ke Haynan; Habib Ahmad bin Hasyim pergi ke Hajrain; sedangkan Habib Isa bin Muhammad di ajak ke desa bersama beliau.
Menjelang saat wafatnya, beliau mengulang-ngulang bait puisi :

“Wajah kekasihku adalah tatapanku, aku
Senantiasa mrnghadapkan wajahku kepadanya”
“Cukuplah dia sebagai kiblatku dan akupun
Pasrah diri kepadanya”.

( Ke dua bait puisi di atas adalah ucapan Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Aydrus Al Adani )

Habib Husein bin Umar Al Attas berkata :”Ketika menjelang wafatnya, ayahku mengulang-ngulang bait-bait puisi Al Faqih Umar Bamahramah :

“Jika bukan dikarenakan besarnya harapan kepada Allah dan berkeyakinan baik, terhadap orang-orang yang menghiasi masjid dengan yang selalu menghadiri sholat berjama’ah,
tentunya tak seorangpun diantara kami yang mengharapkan kesenangan pada sisa umur,
sebab beristirahat di pekuburan adalah lebih baik dan lebih bermanfa’at dari hidup di dunia,
berada di antara orang-orang yang suka berbuat fitnah dan suka menghasut.”

Dikatakan pula oleh Habib Husein, bahwa sebelum tiba saat wafatnya, Habib Umar Al Attas sempat mengulang firman Allah SWT :

“Katakan :”Hai hamba-hambaku yang telah mendzalimi dirinya, janganlah kalian berputus asa dari Rahmat Allah SWT, Sesungguhnya Allah SWT berkenan memberi ampun seluruh dosa-dosa, sesungguhnya Dia Maha Pemberi Ampun dan Maha Penyayang”

Di saat yang sekritis itu, beliau betanya tentang muridnya, Syekh Abbas bin Abdillah Bahafash, sebab beliau minta dimandikan olehnya. Untungnya Syekh Abbas tiba di malam harinya, sebelum beliau wafat, sehingga beliau gembira atas kedatangannya. Sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, beliau minta di wudhui; maka Syekh Abbas bin Bahafash mewudhui beliau. Ketika Syekh Abbas lupa menyela-nyela janggut beliau; maka beliau mengingatkannya dengan gerakan tangan, sebab pada waktu itu beliau sudah tak dapat berkata apa-apa, tentunya hal itu ada sebagai pertanda bahwa beliau mengikuti jejak sunnah Rasulullah SAW; sekalipun di saat yang kritis.
Ketika sedang menghadapi saat-saat terakhir, maka beliau menyuruh orang-orang yang ada disekitarnya untuk berdzikir disisinya dengan suara keras, sehingga terdengar seperti gaungnya tawon. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya dengan keadaan berdzikir dan diiringi dengan suara dzikir dari orang-orang sekitarnya.

Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas wafat di tengah malam, yaitu malam kamis, tanggal 23 Rabi’ul Akhir 1072 H/ 1652 M di desa Nafhun, tetapi jenazah beliau dimakamkan di desa Huraidzah pada kamis sore.
Disebutkan oleh Syekh Abdullah bin Syekh Ali bin Abdullah Baros, katanya, ketika Syekh Ali Baros wafat; maka Syekh Muhammad bin Ahmad Bamasymusy mimpi bertemu dengan Syekh Ali Baros dan ia bertanya kepadanya :

”Dimanakah engkau bertemu dengan Habib Umar ? Jawab Syekh Ali Baros :
”Aku sempat berjabat tangan dengan Habib Umar di dekat Arasy Allah SWT”
Kata-kata Mutiara Habib Umar Al Atthas

• Perhatikan kebiasaan baik yang engkau inginkan, wafat dalam kebiasaan itu, karena itu tetaplah dalam kebiasaan itu, dan perhatikanklah kebiasaan buruk yang engkau tidak inginkan wafat dalam kebiasaan seperti itu, karena itu jauhilah kebiasaan itu.
• Jika engkau melihat seseorang selalu berkelakuan baik, maka yakinlah engkau orang itu teguh agamanya.
• Sumber-sumber ilmu tidak akan berkurang sedikitpun dari generasi terkemudian, akan tetapi pada umumnya mereka datang dengan membawa wadah yang bocor, sehingga tidak memperoleh ilmu kecuali sedikit.
• Sebagian orang yang datang dengan membawa bejana yang dapat mencukupi dalam waktu sebulan, ada juga yang mencukupinya hanya 8 hari, ada juga yang hanya mencukupinya sehari, tetapi ada juga yang dapat mencukupinya sepanjang hidupnya.
• Tentang Sabda Rasulullah SAW :

“Seseorang adakalanya beramal kebajikan-kebajikan sampai antara ia dengan surga hanya tinggal sejengkal, tetapi dalam ketentuan Ilahi, ia ditetapkan sebagai penghuni neraka, sehingga ia melakukan perbuatan-perbuatan amal penghuni neraka, sampai ia masuk neraka. Seseorang adakalanya beramal kejahatan-kejahatan sampai antara ia dengan neraka hanya tinggal sejengkal, tetapi dalam ketetapan Ilahi, ia ditetapkan sebagai calon penghuni surga, maka ia beramal penghuni surga, sampai ia masuk surga.”

Pendapat Habir Umar Al Attas tentang sabda Nabi SAW diatas :

“Seseorang yang selalu mengerjakan amalan ahli surga, kebanyakannya akan masuk ke dalam surga; sebab perbuatan lahiriyah adalah lambang perbuatan batiniyah, jika ia masuk ke dalam neraka, maka hal itu jarang sekali. Hal itu seperti orang yang jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi, tentunya orang itu tidak akan berbahaya. Demikian pula seorang yang melakukan amal-amal ahli neraka, kebanyakannya ia akan masuk ke dalam neraka; tetapi jika ia masuk ke dalam surga, maka hal itu jarang sekali terjadi. Hal itu seperti orang yang jatuh dari puncak gunung, kebanyakan akan wafat”

• Seorang yang melakukan amal kebajikan tetapi ia suka makan yang diharamkan, maka ia seperti seorang yang mengambil air dari tempayan yang datar, tidak akan memperoleh pahala sedikitpun.
• Dulu di antara manusia ada yang datang membawa pelita lengkap dengan minyak dengan koreknya, yakni dengan persiapan yang lengkap, sehingga gurunya dapat menyalakan. Tetapi kini banyak di antara mereka yang datang kepada gurunya, tetapi mereka tidak membawa apapun yang gurunya dapat menyalakan.
• Bersabar itu akibatnya adalah positif. Allah SWT akan selalu memberi akibat positif bagi seorang yang bersabar, alhamdulillah apa yang dikehendaki Allah SWT pasti akan ditentukan dan apa yang akan dilaksanakan Allah SWT, maka akan terlaksana.
• Hendaknya orang-orang yang menghendaki keselamatan Akhirat meninggalkan tidurnya, demi untuk mendapatkan siraman rahmat di malam hari.
• Hendaknya kalian senantiasa menghadirkan hati kalian kepada Allah SWT dan hendaknya kalian bertawakal kepadanya sepenuh hati, sebab Allah SWT mengetahui di manapun kalian berada.
• Syetan dapat menggoda manusia dari sisi manapun yang tak pernah ia perkirakan.
• Buah kurma atau ketimun dari sumber yang halal , lebih baik dari bubur daging dari sumber yang Syubhat.
• Janganlah terlalu peduli dengan dunia dan penghuninya dan janganlah merasa iri pula dengan pakaian atau makanan yang dimiliki oleh penghuninya.
• Alangkah entengnya musibah dalam agama menurut kalian, padahal kalian tidak pernah menyatakan belasungkawa andaikata aku terlambat sholat berjama’ah.
• Yang dikatakan orang baik adalah seorang yang telah melewati pintu surga sampai masuk kedalamnya.
• Kedzaliman kaum penguasa terhadap rakyatnya akan menambah kebajikan bagi rakyat negeri itu, baik di dalam masalah dunianya, maupun akheratnya, yang demikian itu sama halnya dengan sebuah sumur, makin banyak diambil airnya, maka sumur itu makin banyak memancarkan air; sebaliknya jika sumur itu tidak diambil airnya, maka tidak akan bertambah airnya sedikitpun, mungkin airnya akan menjadi busuk, karena air didalamnya tidak pernah bergerak.
• Bila waktu Sholat telah tiba, tinggalkanlah semua kegiatanmu, sebab Allah SWT lebih pantas diperhatikan daripada yang lain.
• Setiap orang yang telah menghatamkan bacaan Al-Qur’an yang ditujukan bagi arwah-arwah orang-orang yang telah wafat, hendaknya ia membaca Tahlil ( Laa ilaha illallah ) sebanyak orang yang ia kehendaki, kemudian dilanjutkan Subhaanallahi Wabihamdihi sebanyak orang yang ia kehendaki; lalu membaca Laa illaha illallah Muhammadur Rasulullah sebanyak 3X dengan memanjangkan bacaannya; lalu Sholawat sebanyak 3X ( Allahumma Sholi ‘Alaa Habibika Sayyidina Muhammadin Wa Aalihi Wa Sohbihi Wasallim ), Lalu hendaknya ia mengucapkan Ya Rasulullah alaika salam Ya Rasulullah salaamun fi salamin ‘alaika sebanyak 3X; Lalu membaca Al Fatihah 1 X, Al Ikhlas 11 X, Al Falaq 1 X, An Naas 1 X, ayat kursi 1 X, Akhir surat Al Baqarah 1 X dan Al Qadr 1 X dengan niat menghadiahkan pahalanya kepada arwah yang dituju.
• Habib Umar menganjurkan murudnya membaca Istigfar dan Al Hamdulillah sebanyak mungkin setelah membaca maulud.
• Memperbanyak baca Istigfar dan Sholawat, karena keduanya adalah sebaik-baik dzikir yang dapat menolong kesulitan di masa kini.
• Habib Abdullah berkata :”jika engkau mengucapkan 11 X tiap hari bacaan ini, berarti engkau telah menjalankan apa yang pernah diajarkan Habib Umar (Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allaa ilaaha illa anta, Astagfiruka Wa Atuubu ilaika Wa asaluka an Tusholliya Wa Tusallima ala Abdika Wa Rasuulika Sayyidina Muhammadin Wa ‘ala Aalihi Afdola Wa Adwama aslima ma Shollait Wa sallamta alaa Ahadin min ‘Ibaadikal Mustafin. )

Kesaksian orang mulia tentang kebesaran Habib Umar Al Attas

1. Habib Muhammad bin Alawi bin Abu Bakar bin Ahmad bin Syekh Abdurrahman As Segaf :( Wali di Mekkah )

“Hendaknya setiap orang yang berkepala rela menundukkan kepalanya demi menghorwafat Habib Umar Al Attas dan demi menghorwafat kebesaran Allah SWT, sesungguhnya aku mendengar suara gemerincing di langit, demi untuk menghoewafat Habib Umar Al Attas. Kini tidak seorangpun di kolong langit lebih mulia dari Habib Umar Al Attas”

2. Habib Abdullah Al Haddad :

“Seorang yang mengenali Habib Umar Al Attas, maka akan ia dapati sifat Habib Umar Al Attas mirip dengan Sayyidina Abdurrahman As Segaf. Habib Umar Al Attas adalah ibarat hati dan kebenaran yang dimiliki oleh seseorang dan orang itu tidak memilki nafsu apapun. Habib Umar Al Attas, sifatnya seperti pepohonannya ditanam atas dasar tawadhu dan lemah lembut, sehingga tangkainya seperti itu juga.Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim sangat bangga dikarenakan Habib Umar menunutut dari beliau”

3. Habib Isa bin Muhammad Al Habsyi :

“Habib Umar sejak kecil sudah gemar beribadah, Zuhud dan menjaga dirinya baik-baik dari sifat buruk. Beliau selalu menghorwafat para wali Allah, pengayom kaum muslim, wanita-wanita janda dan anak-anak yatim dan menghibur mereka dengan berita-berita baik, sehingga mereka amat meyakini dan mencintaibeliau sepenuh hati.

Murid-murid Habib Umar Al Attas.

1. Putra-putra beliau ( Habib Husein, Habib Salim, Habib Abdurrahman )
2. Habib Aqil ( saudara beliau )
3. Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad
4. Habib Isa bin Muhammad Al Habsyi
5. Habib Ahmad bin Hasyim Al Habsyi
6. Habib Abdullah bin Ahmad Balfaqih
7. Habib Muhammad bin Abdurrahman Madihij
8. Sayid Ali bin Umar bin Husein bin Ali bin Syekh Abu Bakar
9. Syekh Ali binAbdullah Baros
10. Syekh Muhammad bin Ahmad Bamasymusy
11. Syekh Muhammad bin Umar Alamudi ( jilukannya :Ghazali di Budzah )
12. Syekh Abdullah bin Usman Alamudi
13. Syekh Abdullah bin Ahmad Ba’afif Alamudi
14. Syekh Aqil bin Amir bin Daghmusy
15. Syekh Sahal bin Syekh Ahmad bin Sahal Ishaq
16. Syekh Abdul Kabir bin Abdurrahman Baqis
17. Syekh Muhammad bin Abdul Kabir Baqis
18. Syekh AlFaqih Ahmad bin Abdullah bin Syekh Umar Syarahil
19. Syekh Umar bin Salim Badzib
20. Syekh bin Salim Baubad
21. Habib Husein bin Syekh Ali bin Muhammad Al Aydrus
22. Habib Ahmad bin Umar Al Hinduwan
23. Habib Zein bin Imron Ba’alawi
24. Syekh Abbas bin Abdillah Bahafash
25. Syekh Umar bin Ahmad Al Hilabi
26. Abu Said
27. Habib Abdullah bin Muhammad bin Basurah
28. Syekh Muzahim bin Ali Bajabir
29. Syekh Ali bin Sholeh
30. Qouzan Zahir
31. Al Faqih Abdurrahman Bakatir
32. Syekh Salim bin Abdurrahman Junaid Bawazir
33. Syekh Abu Bakar bin Abdurrahman bin Abdul Ma’bud Wazir
34. Muhammad bin Umar Bawazir
35. Syekh Abdullah bin Sad Bamika Syibami
36. Syekh Ahmad bin Muhammad Bajamal
37. Syekh Ali bin Thoha Assegaf
38. Syekh Umar bin Ali AzZubaidi
39. Al Faqih Abdullah bin Umar Ba’Ubad
40. Syekh Ali bin Ahmad bin Wurud Bawazir
41. Habib Aqil bin Syekh Assegaf
42. Habib Syekh bin Abdurrahman Al Habsyi
43. Syekh Ali bin Haulan Syekh Sholeh bin Kosim Al Udzri
44. Syekh Mahmud Jummal An Najar ( pernah ketemu Nabi Khidir, tapi tidak minta doa’, karena merasa cukup dengan doa’ Habib Umar )

Ratib Habib Umar Al Attas

Ratib Habib Umar Al Attas diber nama “Azizul Manal Wafathu Babil Wisol” ( Anugerah nan Agung dan pembuka pintu tujuan ) merupakan wirid yang banyak mendatangkan faedah bagi yang gemar membacanya, terutama bagi yang sedang mengalami kesulitan. Habib Umar Al Attas sendiri berwasiat,
“Rahasia dan Hikmah telah Kutitip di dalam Ratib itu”.
Sebagian Ulama mengatakan:
Dengan membaca Ratib Habib Umar Al Attas atau Ratib Al Haddad setiap malam, Allah SWT akan menjaga dan memelihara seluruh penghuni kota tempat tinggal kita, menganugerahkan kesehatan dan mengucurkan rejekinya kepada segenap penduduk. Dalam keadaan khusus dan mendesak, Ratib tersebut bisa dibaca 7 s/d 41 X berturut-turut. Begitu hebat fadilah ratib Habib Umar Al Attas, hingga Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husein Al Attas menyatakan bahwa :
“orang yang mengamalkan Ratib tersebut, tidak akan terluka, jika pada suatu hari terpatuk ular.”orang yang bisa mengamalkan ratib-ratib itu tidak akan merasa takut, ia akan selamat dari segala yang ditakuti.”.Katanya.

KELUARGA Syaikh AQIL BIN SALIM BIN ABDULLAH BIN ABDURAHMAN BIN ABDULLAH BIN SYAIKH ABDURAHMAN AS-SAQQAF

Syaikh Abdurahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurahman bin Abdullah bin Syaikh Abdurahman Assaqqaf (dikenal dengan al-Atthas), mempunyai lima orang anak laki, bernama:
1. Soleh
keturunannya terputus
2. Syech
3. Abdullah (keturunannya di Yafi’)
4. Aqil (keturunannya di Huraidhoh, Wadi Amud, Nair, Zahir Du’an, Hadun, Jubail, Wadi Hamim dekat Mukalla, Bihan, Makkah, Yaman, Rahah)
5. Umar (sohib al-ratib) wafat tahun 1072, mempunyai sembilan orang anak laki:
a. Syech

b. Syech
c. Syech keturunannya terputus.
d. Muhsin
e. Ali
f. Husin (wafat tahun 1139 H), mempunyai delapan orang anak laki:
1. Muhsin (wafat tahun 1143 H)
2. Hamzah (wafat tahun 1211 H, keturunannya di Khuraibah, Jawa)
3. Ahmad (wafat tahun 1110 H, keturunannya di Hijir, Khuraidhah, India, Bihan, Jawa, Malaysia)
4. Tholib (wafat tahun 1210 H, keturunannya di Khuraidhoh, Jawa)
5. Hasan (wafat tahun 1151 H, keturunannya di Khuraidhoh, India, Jawa, Makkah)
6. Umar (keturunannya di Jawa)
7. Ali (wafat tahun 1156 H, keturunannya di Khuraidhoh)
8. Abdullah (wafat tahun 1150, keturunannya di Khuraidhoh, Masyhad, Jawa).
g. Salim (wafat tahun 1087 H, keturunannya di Huraidhoh, Jubail, Musyih, India, Pekalongan, Penang, Katiwar)
h. Abdurahman (wafat tahun 1116 H, keturunannya di Luhrum, Jawa, India)
i. Abdullah (wafat tahun 1150 H, keturunannya di Amud, Inaq, Jadfaroh Luhrum. Jawa, Bihan, Sihir)

Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (Keramat Luar Batang)

3 03 2011

Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus lahir di Migrab, dekat Hazam, Hadramaut, Datang di Betawi sekitar tahun 1746  M. Berdasarkan cerita, bahwa beliau  wafat di Luar Batang, Betawi, tanggal 24  Juni 1756 M. bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah dalam usia lebih dari 30 tahun ( dibawah 40 tahun ). Jadi diduga sewaktu tiba di Betawi  berumur 20 tahun. Habib Husein bin Abubakar Alaydrus memperoleh ilmu tanpa belajar atau dalam istilah Arabnya “ Ilmu Wahbi “ , yaitu pemberian dari Allah tanpa belajar dahulu. Silsilah beliau : Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah bin Abubakar Al-Sakran bin Abdurrahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Al-Dawilah  bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus memiliki silsilah yang sampai kepada Baginda Rasulullah SAW, di mana silsilah beliau yaitu: Al-imam Husein Bin Abu Bakar Bin Abdullah Bin Husein Bin Ali Bin Muhammad Bin Ahmad Bin Husein Ibnil Imam Syamsi Syumus Abdullah Alaydrus Akbar. Beliau dilahirkan di sebuah desa yang bernama Ma’ibad, Hadralmaut Yaman Selatan, dan pada usianya yang ke 11 tahun, beliau ditinggal wafat oleh ayahnya.
Selepas mangkatnya ayahnya, Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus hijrah ke kota Tarim, dan ternyata di pintu kota Tarim telah menunggu seorang wali besar, yaitu Quthbil Irsyad, Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad, yang langsung menyambut kedatangan dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus. Setelah tiba di kota Tarim, beliau didampingi oleh Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad langsung berziarah kepada Sayyidina Faqih Muqaddam Al’imam Muhammad Bin Ali Ba’alawy, Sayyidina Abdurrahman Bin Muhammad Assegaf dan Datuk Beliau Sayyidina Abdullah Alaydrus Akbar. Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad mengatakan kepada beliau bahwa semalam kakekmu, Sayyidina Abdullah Alaydrus Akbar datang kepadaku dan mengabarkan tentang kedatanganmu wahai Husein.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus menimba ilmu kepada Quthbil Irsyad, Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad, dan menurut cukilan dari Alhabib Ali Bin Husein Alattas dalam kitabnya Taajul A’rasy mengatakan bahwa Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sebelum hijrah ke Indonesia, beliau telah mendapatkan mandat kepercayaan dari guru beliau Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad untuk melaksanakan da’watul islam.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus kemudian hijrah ke Asia Timur dan sampai di Indonesia, lalu setibanya di pulau Jawa, tepatnya di Pelabuhan Sunda Kelapa, beliau diusir kembali oleh penjajah Belanda. Akhirnya dengan bantuan para Muhibbin di malam hari dengan menggunakan sekoci beliau tiba kembali di Pelabuhan Sunda Kelapa. Beliau kemudian berda’wah di tanah Batavia ini dan pada saat itu penjajah Belanda sangat sensitif kepada para ulama karena di Sunda Kelapa ini masih ada bekas-bekas pertempuran Sunda Kelapa yang berada di bawah pimpinan dari Sunan Gunung Jati Al-imam Syarif Hidayatullah dan Fatahillah, sehingga penjagaannya sangat ketat dan berakibat pada dicurigainya Al-Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sebagai pemberontak, akhirnya beliau dimasukkan ke dalam penjara, yang berada di sekitar Glodok.

Perjuangan da’wah Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sangatlah luar biasa, dan salah satu karomah beliau adalah di pagi hari beliau berada di dalam penjara sementara anehnya menjelang maghrib beliau sudah tidak ada di dalam penjara, beliau menyampaikan da’wah-da’wahnya di musholla dan masjid-masjid, sehingga membuat takut para sipir penjara dan akhirnya kepala sipir penjara tersebut meminta agar Habib Husein keluar saja dari dalam penjara tapi beliau menolaknya sampai akhirnya beliau keluar dari penjara dengan keinginannya sendiri.

Pada suatu ketika di dalam perjalanan da’wahnya, Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus melihat seorang tentara Belanda yang memang memiliki akhlak yang baik terhadap beliau, di mana tentara Belanda ini selalu menegur dan ramah terhadap Beliau. Akhirnya Habib Husein memanggilnya dan mengatakan bahwa tentara Belanda tersebut kelak akan menjadi Gubernur, di Batavia. tentara Belanda tersebut berkata sambil tertawa “mana mungkin aku menjadi seorang Gubernur”. Selang beberapa bulan kemudian sang tentara Belanda tersebut dipanggil ke negerinya dan kembali ke Batavia untuk dipercaya menjadi Gubernur.

Sang tentara Belanda yang kini telah menjadi Gubernur teringat akan Habib Husein dan menemui beliau seraya ta’jub atas perkataan dari Habib Husein dan sebagai balasannya Tentara ini memberikan hadiah berupa uang, bahkan emas, tetapi semuanya ditolak oleh Habib Husein. Karena Gubernur tersebut memaksa, Akhirnya Al-habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus berkata bahwa jika Engkau ingin memberiku hadiah, maka berikanlah aku tanah yang berada di luar pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu sedang surut. Tentara belanda tersebut kaget dan berkata percuma bila Aku berikan tanah tersebut, sebentar lagi air akan naik dan daratan itu akan terendam air laut. Al-habib Husein berkata “bila Engkau berikan sekarang, maka mulai saat ini air tidak akan pernah pasang bahkan hingga yaumil qiyamah”.. Allahu Akbar.. sehingga akhirnya diberikanlah tanah tersebut.

Al-habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus memiliki tanah ± 10 hektar dan di atas tanah tersebut, kemudian pertama kali yang dibangun oleh Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus adalah Masjid, kemudian rumah beliau yang saat ini menjadi tempat pusaranya beliau. Dan semenjak itu, dipatok tanah-tanah tersebut yang besarnya ± sampai 10 hektar dengan pilar dan batang-batang sehingga daerah ini dikenal dengan sebutan “Luar Batang”, disebabkan diluar pelabuhan Sunda Kelapa muncullah batang-batang.  Di sini beliau bersama salah satu muridnya Haji Abdul Qodir yang merupakan penterjemahnya mengajarkan kepada murid-muridnya yang dating dari Banten, Indramayu, Cirebon, Tuban Gresik dan pelosok-pelosok kota lain di Indonesia.

Dalam ajaran Islam karomah di maksudkan sebagai khariqun lil adat yang berarti kejadian luar biasa pada seseorang wali Allah. Karomah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang, yang merupakan anugrah Allah karena ketakwaannya, berikut ini terdapat beberapa karomah yang dimiliki oleh Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus atau yang kita kenal Habib Luar Batang, seorang wali Allah yang lahir di Jasirah Arab dan telah ditakdirkan wafat di Pulau Jawa, tepatnya di Jakarta Utara.

1. Menjadi mesin pemintal

Di masa belia, ditanah kelahirannya yaitu di daerah Hadhramaut – Yaman Selatan, Habib Husein berguru pada seorang Alim Shufi. Di hari-hari libur ia pulang untuk menyambang ibunya.

Pada suatu malam ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husein meminta tolong agar ia bersedia membantu mengerjakan pintalan benang yang ada di gudang. Habib Husein segera menyanggupi, dan ia segera ke gudang untuk mengerjakan apa yang di perintahkan oleh ibunya. Makan malam juga telah disediakan. Menjelang pagi hari, ibu Husein membuka pintu gudang. Ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh belum dimakan husein. Selanjutnya ia sangat kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Si ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang dari semalam, padahal Habib Husein dijumpai dalam keadaan tidur pulas disudut gudang.

Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada guru thariqah yang membimbing Habib Husein. Mendengar cerita itu maka ia bertakbir sambil berucap : “ sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk di perolehnya derajat yang besar disisi-Nya, hendaklah ibu berbesar hati dan jangan bertindak keras kepadanya, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada anakmu.”

2. Menyuburkan Kota Gujarat

Hijrah pertama yang di singgahi oleh Habib Husein adalah di daratan India, tepatnya di kota Surati atau lebih dikenal Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati karena dilanda kekeringan dan wabah kolera.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut di sambut oleh ketua adat setempat, kemudian ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa penasehat para normal, dan Habib Husein di perkenalkan sebagai titisan Dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana.

Habib Husein menyangupi bahwa dengan pertolongan Allah, ia akan merubah negeri ini menjadi sebuah negeri yang subur, asal dengan syarat mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka di perintahkan untuk membangun sumur dan sebuah kolam. Setelah pembangunan keduanya di selesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh, dengan cara mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur kehidupan masyarakatnya menjadi sejahtera.

3. Mengislamkan tawanan

Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup sejahtera, maka Habib Husein melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia Tenggara untuk tetap mensiarkan Islam. Beliau menuju pulau Jawa, dan akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu hidup dalam jajahan pemerintahan VOC Belanda.

Pada suatu malam Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang berlari padanya karena di kejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyub ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa.

Keesokan harinya datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi tawanan tersebut, sambil berkata : “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya.”

Rupanya ucapan tersebut sangat di dengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.

4. Menjadi Imam di Penjara

Dalam masa sekejab telah banyak orang yang datang untuk belajar agama Islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC menjadi khawatir akan menggangu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya ditangkap dan di masukan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan “Seksi Dua.”

Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain.

Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.

Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan akhirnya pemerintah Belanda meminta maaf atas penahanan tersebut, Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

5. Si Sinyo menjadi Gubernur

Pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf Tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Disaat mereka beristirahat lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda) dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke arah pembantunya.

Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di negeri ini.

Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Kemudian setelah lulus ia di percaya di angkat menjadi Gubernur Batavia.

6. Cara Berkirim Uang

Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein bahwa kelak akan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Di wasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan diminta agar ia membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein.

Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di buang ke laut. Dijawabnya oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Yaman.

Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang di buang ke laut, walhasil tak satu keeping uang pun diketemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada ibu Habib Husein.

Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang di buang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

7. Kampung Luar Batang

Makam Luar BatangGubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya : “Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, dihadiahkanlah sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

Habib Husein telah di panggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing harus di kuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang.

Sebagai mana layaknya, jenasah Habib Husein di usung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan jenasa Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenasah Habib Husein kembali berada di tempat tinggal semula. Dalam bahasa lain jenasah Habib Husein keluar dari kurung batang, pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenasah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud, namun demikian jenasah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.

Akhirnya para pengantar jenasah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenasa Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah tinggalnya sendiri. Kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus Wafat pada Malam 17 Ramadhan, akan tetapi mengapa acara haul dari beliau diperingati setiap hari Ahad di akhir bulan Syawwal?

Karena ini merupakan ijtima’ dari para ulama dan habaib yang saat itu berada di bawah pimpinan Mufti Betawi yaitu Alhabib Utsman Bin Abdullah Bin Yahya. Di mana para penjajah saat itu masih menguasai dan transportasi yang sangat sulit sekali serta bertepatan dengan keadaan orang-orang yang sedang berpuasa, sehingga diputuskanlah oleh para ulama dan habaib agar pelaksanaan Haul Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus diadakan pada akhir Ahad bulan Syawwal, di mana setelah orang-orang melaksanakan silaturrahim lebaranan barulah kembali berkumpul dan bersilaturrahim di pusara beliau untuk memperingati Haulnya Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus.

Inilah sekelumit tentang perjalanan dan perjuangan dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus. Semoga Allah semakin mengangkat derajat beliau dan semoga kita semua mendapatkan curahan keberkahan, rahasia-rahasia dan ilmu serta karomah dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus.. Amin Ya Robbal Alamin.

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad

( Pelabuhan Petikemas – Tanjung Priok )

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad lahir di di Ulu, Palembang, Sumatera selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M. Semasa kecil beliau mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang. Saat remaja, beliau mengembara selama babarapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Beliau menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Ulu, Palembang. Ketika petani Banten, dibantu para Ulama, memberontak kepada kompeni Belanda (tahun 1880), banyak ulama melarikan diri ke Palembang; dan disana mereka mendapat perlindungan dari Habib Hasan. Tentu saja pemerintah kolonial tidak senang. Dan sejak itu, beliau selalu diincar oleh mata-mata Belanda.

Pada tahun 1899, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardier oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan hingga dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia.

Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan itu, mereka sempat singgah di beberapa tempat. Hingga pada sebuah perjalanan, perahu mereka dihantam badai. Perahu terguncang, semua perbekalan tumpah ke laut. Untunglah masih tersisa sebagian peralatan dapur, antara lain periuk, dan beberapa liter beras. Untuk menanak nasi, mereka menggunakan beberapa potong kayu kapal sebagai bahan bakar. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dihantam badai. Kali ini lebih besar. Perahu pecah, bahkan tenggelam, hingga tiga orang pengikutnya meninggal dunia. Dengan susah payah kedua Habib itu menyelamatkan diri dengan mengapung menggunakan beberapa batang kayu sisa perahu. Karena tidak makan selama 10 hari, akhirnya Habib Hasan jatuh sakit, dan selang beberapa lama kemudian beliaupun wafat.

Sementara Habib Ali Al-Haddad masih lemah, duduk di perahu bersama jenazah Habib Hasan, perahu terdorong oleh ombak-ombak kecil dan ikan lumba-lumba, sehingga terdampar di pantai utara Batavia. Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala; sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak. Sementara periuk nasinya ditaruh disisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung. Masyarakat disekitar daerah itu melihat kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung periuk. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yaitu bunga tanjung dan periuk.

Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut. Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, periuk tersebut di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Diantara orang yang menyaksikan kejadian itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, sersan mayor Ismail. Tatkala bertugas di tengah malam, ia melihat langsung periuk tersebut. Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu : Tanjung Periuk.

Sebenarnya tempat makam yang sekarang adalah makam pindahan dari makam asli. Awalnya ketika Belanda akan menggusur makam Habib Hasan, mereka tidak mampu, karena kuli-kuli yang diperintahkan untuk menggali menghilang secara misterius. Setiap malam mereka melihat orang berjubah putih yang sedang berdzikir dengan kemilau cahaya nan gemilang selalu duduk dekat nisan periuk itu. Akhirnya adik Habib Hasan, yaitu Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad, dipanggil dari Palembang khusus untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Berkat izin Allah swt, jenazah Habib Hasan yang masih utuh, kain kafannya juga utuh tanpa ada kerusakan sedikitpun, dipindahkan ke makam sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu sekarang.

Salah satu karomah Habib Hasan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hasan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.Al – Kisah No. 07 / Tahun III / 28 Maret – 10 April 2005 & No. 08 / Tahun IV / 10-23 April 2006. Sumber ikdar.com

Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A kurang lebih 23 tahun dimaqamkan, pemerintah belanda pada saat itu bermaksud membangun pelabuhan di daerah itu. Pada saat pembangunan berlangsung banyak sekali kejadian yang menimpa ratusan pekerja (kuli) dan opsir belanda sampai meninggal dunia. Pemerintah belanda menjadi bingung dan heran atas kejadian tersebut dan akhirnya menghentikan pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Rupanya pemerintah belanda masih ingin melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (sekarang dok namanya), alangkah terkejutnya mereka saat itu ketika melihat ada orang berjubah putih sedang duduk dan memegang tasbih di atas maqam. Maka dipanggil beberapa orang mandor untuk membicarakan peristiwa tersebut. Setelah berembuk diputuskan mencari orang yang berilmu yang dapat berkomunikasi dengan orang yang berjubah putih yang bukan lain adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. setelah berhasil bertemu orang berilmu yang dimaksud (seorang kyai) untuk melakukan khatwal, alhasil diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.Apabila daerah (tanah) ini dijadikan pelabuhan oleh pemerintah  belanda tolong sebelumnya pindahkanlah saya terlebih dulu dari tempat ini.
2.Untuk memindahkan saya, tolong hendaknya hubungi terlebih dulu adik saya yang bernama Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan.

Akhirnya pemerintah belanda menyetujui permintaan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A (dalam khatwalnya) kemudian dengan menggunakan kapal laut mengirim utusannya termasuk orang yang berilmu tadi untuk mencari Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu, Palembang.

Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A sangat mudah ditemukan di Palembang, sehingga dibawalah langsung ke Pulau Jawa untuk membuktikan kebenarannya. Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A dalam khatwalnya membenarkan “Ini adalah maqam saudaraku Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yang sudah lama tidak ada kabarnya.”

Selama kurang lebih 15 hari lamanya Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A menetap untuk melihat suasana dan akhirnya Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dipindahkan di jalan Dobo yang masih terbuka dan luas. Dalam proses pemindahan jasad Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A masih dalam keadaan utuh disertai aroma yang sangat wangi, sifatnya masih melekat dan kelopak matanya bergetar seperti orang hidup.

Setelah itu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta kepada pemerintah belanda agar maqam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A itu dipagar dengan kawat yang rapih dan baik serta diurus oleh beberapa orang pekerja. Pemerintah belanda pun memenuhi permintaan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A.

Setelah permintaan dipenuhi Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta waktu 2 sampai 3 bulan lamanya untuk menjemput keluarga beliau yang berada di Ulu, Palembang. Untuk kelancaran penjemputan itu, pemerintah belanda memberikan fasilitas. Dalam kurun waktu yang dijanjikan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A kembali ke Pulau Jawa dengan membawa serta keluarga beliau.

Dalam pemindahan jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A tersebut banyak orang yang menyaksikan diantaranya :
1.Al Habib Muhammad Bin Abdulloh Al Habsy R.A
2.Al Habib Ahmad Dinag Al Qodri R.A, dari gang 28
3.K.H Ibrahim dari gang 11
4.Bapak Hasan yang masih muda sekali saat itu
5.Dan banyak lagi yang menyaksikan termasuk pemerintah belanda

Kemudian Bapak Hasan menjadi penguru maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A. Saat ini semua saksi pemindahan tersebut sudah meninggal. Merekalah yang menyaksikan dan mengatakan jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A masih utuh dan kain kafannya masih mulus dan baik, selain itu wangi sekali harumnya.

Dipemakaman itulah dikebumikan kembali jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A yang sekarang ini pelabuhan PTK (terminal peti kemas) Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priuk – Jakarta Utara.

Setelah pemindahan maqam banyak orang yang berziarah ke maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A sebagaimana yang diceritakan oleh putera Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A.

Pada Tahun 1841 Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A di gang 12 kelurahan Koja Utara kedatangan tamu yaitu Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A (orang yang selamat dalam perjalanan dari Ulu, Palembang ke Pulau Jawa) dan beliau menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A beserta 3 orang azami. Cerita tersebut disaksikan Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A. Dari cerita itulah maka dijadikannya Maqib Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk (dalam pelabuhan peti kemas (TPK) Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara).

Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas (1265 – 1351 H) 
Dikirim: [30/07/2009]
 

Beliau
adalah seorang wali Allah, kekasih-Nya, yang telah berhasil mencapai
kedudukan yang mulia, yang dekat dengan Allah SWT. Beliau adalah pemuka
para wali yang tak terhitung jasa-jasanya bagi Islam dan kaum muslimin.
panutan para ahli tasawuf dan suri tauladan yang baik bagi semua insan.

Al Habib Abdullah bin Muhsin. bin
Muhammad. bin Abdullah. bin Muhammad bin Mukhsin bin Al-Quthb Husen bin
Syekh Al Quthb Anfas Al Habib Umar bin Abdurrohman Al Aththas bin ‘Aqil
bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman
as-Seqqaf bin Muhammad maulad dawilah bin Ali maulad dark bin Alwy
al-Ghayyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad
shahib marbath bin Alwy khali’ qatsam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy
Ba’Alawy bin Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin
Muhammad an-naqib bin Ali al-uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad
al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husein as-sibth bin Ali bin Abi
Thalib ibin Sayidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW, adalah
seorang tokoh ruhani yang dikenal luas oleh semua kalangan umum maupun
khusus. Beliau adalah “Ahli kasaf” dan ahli Ilmu Agama yang sulit
ditandingi keluasan Ilmunya, jumlah amal ibadahnya, kemuliaan maupun
budi pekertinya, pada zamannya.

Al-Habib Abdullah bin Muhsin
Al-Aththas dilahirkan didesa Haurah, salah satu desa di Al-Kasri,
Hadhramaut, Yaman, pada hari selasa 20 Jumadil Awal 1265 H. Sejak kecil
beliau mendapatkan pendidikan rohani dari ayahnya Al-Habib Muchsin
Al-Aththas.rhm, Beliau mempelajari Al-Quran dari mu’alim Syekh Umar bin
Faraj bin Sabah.rhm. setelah menghatamkan Al-quran beliau diserahkan
kepada ulama-ulama besar dimasanya untuk menimba ilmu Islam, dan
Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-Attas pernah belajar kitab risalah
Jami’ah karangan Al-Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi.ra, Kepada Al-Habib
Abdullah Bin Alwi Al-‘Aydrus.rhm

Diantara guru–guru beliau,
salah satunya adalah As-sayid Al Habib Al Quthb Ghauts Abu Bakar bin
Abdullah Al Aththas.rhm, dari guru yang satu itu beliau sempat menimba
Ilmu–Ilmu rohani dan tasawuf, Beliau mendapatkan do’a khusus dari Al
Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aththas, sehingga beliau berhasil
meraih derajat kewalian yang patut. Diantaranya guru rohani beliau yang
patut dibanggakan adalah yang mulya Quthb Al Habib Sholeh bin Abdullah
Al-Aththas penduduk Wadi a’mad, Hadhramaut

Habib Abdullah bin Mukhsin al-Aththas pernah membaca Al-Fatihah
dihadapan Habib Sholeh dan al-Habib Sholeh menalqinkan Al-Fatihah
kepadanya. Al A’rif Billahi Al Habib Ahmad bin Muhammad Al Habsyi,
ketika melihat Al Habib Abdullah bin Mukhsin al-aththas yang waktu itu
masih kecil, beliau berkata sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi
orang mulya kedudukannya.

Pada tahun 1282 Hijriah, Habib
Abdulllah Bin Muhsin menunaikan Ibadah haji yang pertama kalinya,
selama ditanah suci beliau bertemu dan berdialog dengan ulama-ulama
Islam terkemuka. hingga tahun 1283 H Beliau melakukan Ibadah hajinnya
untuk kedua kalinya dan sepulang dari ibadah haji, beliau berkeliling
kepenjuru dunia yang hingga akhirnya perjalanan itu mengantar beliau
sampai kepulau Jawa tepatnya didaerah Pekalongan. di pulau Jawa beliau
bertemu dengan sejumlah para wali yang diantaranya dari keluarga
Al-Alawy, Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau Al Habib Abdullah bin Muhsin Alatas
pernah dimasukkan kedalam penjara oleh pemerintah Belanda pada masa itu
dengan alasan yang tidak jelas (difitnah). Selama dipenjara,
kekeramatan beliau makin nampak yang mengundang banyak pengunjung untuk
bersilahturahmi dengan beliau. Sampai mengherankan pimpinan penjara dan
para penjaganya, bahkan sampai mereka pun ikut mendapatkan keberkahan
dan manfaat dari kebesaran beliau.

Dalam kejadian di penjara,
pada suatu malam pintu penjara tiba-tiba telah terbuka dan telah datang
kepada beliau kakek beliau Al Habib Umar bin Abdurrahman Alatas
(Shohibul Ratib), seraya berkata,”jika engkau ingin keluar penjara
keluarlah sekarang, tapi jika engkau bersabar, maka bersabarlah.”. Dan
ternyata beliau memilih bersabar dalam penjara. Pada malam itu juga,
beliau telah datangi Sayyidina Al Faqih Muqaddam dan Syekh Abdul Qadir
Jaelani. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Muqaddam memberikan
sebuah kopiah Al Fiyah kepada beliau, dan Syekh Abdul Qadir Jaelani
memberikan surbannya kepada beliau.

Diantara karomah beliau
yang diperoleh, seperti yang diungkapkan : Al Habib Muhammad bin Idrus
Al Habsyi.rhm (Surabaya). Bahwa Al Habib Abdullah bin Muchsin
Al-Aththas ketika mendapatkan anugerah dari Allah, beliau tenggelam
penuh dengan kebesaran Allah SWT, hilang akan hubungannya dengan alam
dunia dan seisinya. “ketika aku mengunjungi Al Habib Abdullah bin
Muchsin Al-Aththas dalam penjara, aku lihat penampilannya amat
berwibawa, dan beliau terlihat diliputi akan pancaran cahaya ilahi.
Sewaktu beliau melihat aku, beliau mengucapkan bait-bait syair Al Habib
Abdullah Al Haddad, dengan awal baitnya :

“Wahai yang
mengunjungi aku dimalam dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan
menebarkan berita fitnah… Selanjutnya kami saling berpelukan dan
menangis.”

Karomah, kemuliaan yang Allah SWT limpahkan kepada
kekasih-Nya, Al Habib Abdullah bin Muchsin Alatas yang lain diantaranya
adalah sewaktu dipenjara, setiap kali beliau memandang borgol yang
dibelenggu dikakinya, maka terlepaslah borgol tersebut.

Disebutkan juga bahwa ketika pimpinan penjara menyuruh sipir untuk
mengikat leher beliau dengan rantai besi, maka dengan izin Allah rantai
itu terlepas dengan sendirinya, dan pemimpin penjara beserta
keluarganya menderita sakit panas, sampai dokter tak mampu lagi untuk
mengobati. Hingga akhirnya pimpinan penjara itu sadar bahwa sakit panas
tersebut disebabkan karena telah menyakiti Al Habib Abdullah bin
Muchsin Al-Aththas yang sedang dipenjara. Lalu pimpinan penjara itu
mengutus utusan untuk memohon doa agar penyakit panas yang menimpa
keluarganya dapat sembuh, dan berkatalah Al Habib Abdullah bin Muchsin
Al-Aththas “ambillah borgor dan rantai ini, ikatkan di kaki dan leher
maka akan sembuhlah dia” maka setelah itu dengan izin Allah penyakit
pimpinan penjara dan keluarganya pun dapat sembuh.

Setelah
beliau keluar dari penjara, beliau mencari tempat yang sunyi, yang jauh
dari banyak orang, dan ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lalu
dipilihlah daerah Bogor (Empang), yang akhirnya Al Habib Abdullah bin
Muhsin Alatas tinggal ditempat ini, beliau membeli tanah, membuat
rumah sederhana dan beliau menyendiri sampai diangkat derajatnya oleh
Allah SWT.

Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya
beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan
secara dawam di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang
dikenal yaitu “ Dalail Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan
oleh Allah SWT.

Sampai pada hari selasa tanggal 29 bulan
Dzulhijah 1351 H, diawal waktu dhuhur beliau dipanggil kehadirat Allah
SWT. Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya setelah sholat dhuhur.
Tak terhitung jumlah manusia yang ingin ikut mensholatkan jenazah
beliau, yang dimakamkan dibagian barat mesjid beliau di Empang-Bogor. Sebelum wafat
beliau yang dikarenakan flu ringan, kebanyakan waktunya ditenggelamkan
dalam dzikirnya dan doanya kepada Allah SWT. Sampai beliau pulang
kepangkuan Allah SWT.

Manaqib Al Habib ali bin Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur) Jakarta

Habib ali bin Husein Al-Attas, yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Ali Bungur, beliau memiliki jasa yang sangat besar dalm menorehkan jejak dakwah dikalangan masyarakat Betawi.

Nasab beliau: Habib Ali bin Husen bin Muhammad bin Husein bin Ja`far bin Muhammad bin ali bin Husein bin Al Habib Al Qutub Umar bin Abdurrahman Al Attas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assaqof bin Muhammad Mauladawilah bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala` Qasam bin alwi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al `Uraidhi bin Ja`far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Azzahra binti Rasulullah SAW.

Beliau lahir di Huraidhah, Hadramaut, 1 Muharam 1309 H, bertepatan dengan 1889 M. Semenjak usia 6 Tahun beliau belajar berbagai ilmu keislaman Kepada para ulama dan auliya yang hidup di Hadramaut saat itu. Sebagaimana jejak langkah generasi pendahulunya, setelah mendalami agama yang cukup di Hadramaut, pada tahun 1912 M, beliau pergi ketanah suci untuk menunaikan ibadah haji serta berziarah ke makam datuk nya Rasulullah SAW di Madinah., disana beliau menetap di Makkah. Hari-Hari beliau dipergunakan untuk menimba ilmu Kepada para ulama yang berada di Hijaz. Setelah 4 tahun beliau kembali ke Huraidhah dan mengajar disana selama 3 tahun. (Tak banyak sejarawan yang menulis perjalanan beliau hinga kemudian tiba di Jakarta). Guru beliau setelah menetap di Jakarta: Al Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas(Empang, Bogor), Al Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al Attas (Pekalongan), Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsy (Surabaya) dan Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor (Bondowoso).

Di daerah Cikini beliau tinggal, sebuah kampung yang masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan, beliau tinggal bersama-sama rakyat jelata dan setiap orang yang menganal beliau akan berkata “Hidupnya sederhana, tawadhu`, teguh memegang prinsip, menolak pengkultusan manusia, berani membela kebenaran, mendalam dibidang ilmu pengetahuan, luas dalam pemikiran, tidak membedakan antara kaya dan miskin, mendorong terbentuknya Negara Indonesia yanga bersatu, utuh serta berdaulat, tidak segan-segan menegur para pejabat yang mendatannginya da selalu menyampaikan agar jurang pemisah antara pemimpin dan rakyat dihilangkan dan rakyat mesti dicintai”. Hal inilah yang menyababkan rakyat mencintai Al Habib Ali bin Husein Al Attas. Semasa hidupnya beliau tak pernah berhenti dan tak kenal lelah dalam berdakwah. Salah satu karya terbesar beliau adalah “Tajul A`ras fi Manaqib Al Qutub Al Habib Sholeh bin Abdullah Al Attas”, sebuah kitab sejarah para ulama Hadramaut yang pernah beliau jumpai, dari masa penjajahan Inggris di Hadramaut hingga sekilas pejalanan para ulama Hadramaut ke Indonesia. Buku itu juga berisi beberapa kandungan ilmu Tasawuf dan Thariqah Alawiyah. Semasa hidupnya Habib Ali selalu berjuang membela umat, kesederhanaan serta Istiqamahnya dalam mempraktekkan ajaran islam dalam kehidupan sehari- hari menjadi tauladan yang baik bagi umat. Beliau selalu mengajarkan dan mempraktekkan bahwa islam mengajak umat dari kegelapan pada cahaya yang terang, membawa dari taraf kemiskinan Kepada taraf keadilan dan kemakmuran.

Pada 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi, Habib Ali bin Husein Al Attas wafat dalam usia 88 tahun, beliau dimakam pada 17 Februari 1976, di pemakaman Al Hawi, Condet, Cililitan, Jakarta Timur.

Sumber: 17 Habaib Paling Berpengaruh di Indonesia, Penyusun Abdul Qadir Mauladawilah, Penerbit: Pustaka Bayan.

Habib Abdurrahman bin Abdullah Al – Habsyi

Habib Abdurrahman Al-Habsyi dilahirkan di Kampung 13 Ulu, Palembang, pada tahun 1310 H / 1890 M, dari pasangan Habib Abdullah bin Aqil Al-Habsyi dan Hababah Zainah binti Muhammad Al-Haddad. Di masa beliau sudah yatim, diasuh oleh ibunda dan saudara-saudaranya dalam suasana kehidupan beragama yang kental. Dalam usia lima tahun, misalnya beliau sudah mengaji Al-Qur’an di bawah bimbinan Habib Muhammad bin Hasyim bin Thohir dan Abdul Manaf Al-Qori.
Ketika berusia 10 tahun, atas anjuran kakeknya, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Munawar, beliau dikirim ke Hadramaut untuk belajar. Diantar oleh Habib Idrus bin Hasan Al-Habsyi, berangkatlah beliau bersama beberapa rekannya, yaitu Habib Aqil bin Ali Al-Munawar, Habib Umar bin Abdullah Assegaf, Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi, Habib Muhammad bin Ahmad Shahab dan Habib Muhammad bin Hamid Al-Hamid.
Kedekatannya kepada kaum Sholihin mempertemukannya dengan salah seorang waliyullah, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, di Seiyun. Sejak itu selama beberapa tahun beliau belajar di Rubath Seiyun, Pondok Pesantren yang di asuh oleh Habib Ali Al-Habsyi, pengarang Maulid Simtud Duror, dan tinggal di kediamannya. Beliau menerima pendidikan dan pengawasan langsung dari Habib Ali Al-Habsyi. Sehari – hari selalu di doa’kan oleh Habib Ali, karena beliau sangat hidmat kepada gurunya itu.
Setiap hari misalnya, Habib Abdurrahman selalu mempersiapkan handuk ketika Habib Ali Al-Habsyi hendak mandi. Begitu pula setelah Habib Ali mandi Habib Abdurrahman menyambut handuk tersebut. Bahkan Habib Ali mengizinkan dan mempersilahkannya untuk menggunakan kamar mandi khusus itu.
Setelah mendapat keberkahan dari Habib Ali, beliau juga belajar kepada Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas. Di rubath itu pula beliau belajar bersama putra-putra Habib Ali seperti Habib Abdullah, Habib Muhammad dan Habib Alwi, serta berkenalan dengan siswa lain-yang kelak menjadi Ulama- seperti Habib Syekh bin Muhammad Al-Habsyi, Habib Umar bin Muhammad Mulakhela dan Habib Umar bin Hamid Assegaf.
Setelah empat tahun menuntut ilmu di Hadramaut, atas permintaan kakek sekaligus gurunya, Habib Muhammad bin Abdurrahman Al-Munawar, beliau pulang ke Palembang. Disana beliau benar-benar berkhidmat kepada gurunya itu. Selang beberapa waktu kemudian, beliau kembali diperintahkan gurunya untuk menuntut ilmu di Betawi ( Jakarta ) yang kala itu sudah terkenal dengan para ulamanya.
Selama di Betawi beliau aktif menghadiri beberapa majlis taklim yang digelar para habib, diantaranya majelis Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas ( Empang, Bogor ), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi ( Kwitang, Jakarta Pusat ) dan Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad. Setelah lima tahun bermukim di Betawi, beliau kembali pulang ke Palembang-sesudah menjual rumahnya.
Di kampong halamannya, beliau membantu mengurus perniagaan kayu besi, beras dan karet milik kakeknya, Habib Muhammad. Tak lama kemudian beliau ditunjuk untuk mengurus sebuah took, dan akhirnya sebagai wakil Habib Muhammad. Sementara mengurus took, beliau aktif di bidang pendidikan agama, terutama bahasa arab. Beliau juga sempat menjalin hubungan dengan para ulama besar di Mesir, seperti Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridho, serta mengikuti karya-karya mereka. Selain bahasa arab, beliau juga menguasai bahasa Inggris, Belanda dan Parsi.
Cita-citanya dalam pendidikan agama terwujud pada tahun 1973 ketika beliau berhasil meresmikan Pondok Pesantren Ar-Riyadh-yang dibiayai sendiri dari hasil kerja keras dalam bisnisnya. Untuk melanjutkan cita-citanya, beliau mendidik putra-putri dan keturunannya dalam pendidikan agama. Cucu-cucunya beliau kirim ke berbagai pondok pesantren di Jawa, seperti Ma’hadul Islami ( pekalongan ), Darun Nasyiin ( Lawang ), dan Darul Hadits ( Malang ). Bahkan ada cucunya yang belajar di Tanah suci.
Setelah cita-citanya meresmikan Ar-Riyadh terwujud, beliau berangkat menunaikan ibadah haji dan menetap di Tanah suci selama dua tahun.
Selama hidupnya, Habib Abdurrahman terkenal sebagai Sosiawan dan berperan aktif memimpin Madrasah Arabiah dan Lembaga Penididikan Agama Islam. Beliau juga dikenal sebagai Ulama yang tawadhu’ dan sederhana, sering menyantuni kaum faqir miskin. Di kalangan para ulama dan pendidik, beliau dikenal sebagai tokoh yang sedikit berbicara. Tapi, jika berbicara beliau selalu membimbing dan menasihati. Lidahnya pun tak pernah kering dari bacaan dzikir, shalawat dan tilawatil Qur’an.
Habib Abdurrahman wafat pada hari Selasa, 29 Rabi’ul Awwal 1401 H / 1984 M, dalam usia 94 tahun. Semasa hidup, beliau membagi usianya dalam tiga fase : 20 tahun untuk belajar, 20 taqhun untuk berusaha, selanjutnya untuk beribadah sehingga Allah swt berkenan memberkatinya.

Manaqib Habib Ali Ibn Abdurrahman Al Habsyi (Kwitang – Jakarta)

1 02 2011

Nasab beliau: Al-Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurahman bin Husein bin Abdurahman bin Hadi bin Ahmad ( Shohib Syi’ib ) Al-Habsyi. Terus menyambung sampai Rasulullah SAW.

Al-Habib Ali Al Habsyi adalah putera dari Al-Habib Abdurrahman Al Habsyi. Al-Habib Abdurahman Al Habsyi kelahiran Semarang kemudian pindah ke Jakarta dan menikah dengan Hajjah Salmah seorang puteri Betawi Asli yang berasal dari Jatinegara. Al-Habib Abdurahman Alhabsyi wafat di Jakarta pada tahun 1296 H dan dikuburkan di Cikini, sedangkan Hajjah Salmah wafat tanggal 2 Rajab 1351 Hijriyyah, dikuburkan di Tanah Abang

Dalam perkawinannya dengan Al-Habib Abdurrahman Al habsyi lama sekali tidak memperoleh seorang putera pun. Pada suatu ketika Nyai Salmah bermimpi menggali sumur dan sumur tersebut airnya melimpah-limpah hingga membanjiri sekelilingnya. Lalu diceritakanlah mimpinya itu kepada suaminya. Mendengar mimpi istrinya, Al-Habib Abdurrahman segera menemui Al-Habib Syeikh bin Ahmad Bafaqih untuk menceritakan dan menanyakan perihal mimpi istrinya tersebut. Lalu Al-Habib Syeikh menerangkan tentang perihal mimpi tersebut bahwa Nyai Salmah istri Al-Habib Abdurrahman akan mendapatkan seorang putra yang saleh dan ilmunya akan melimpah-limpah keberkahannya.

Apa yang dikemukakan oleh Al-Habib Syeikh itu tidak berapa lama menjadi kenyataan. Nyai Salmah mengandung dan pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil ‘Awal 1286 bertepatan tanggal 20 April 1870 lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Ali bin Abdurrahman Al habsyi.

Al-Habib Abdurrahman Al Habsyi tidak lama hidup mendampingi putra yang beliau cintai tersebut. Beliau berpulang ke rahmatullah ketika putra beliau masih berumur 10 tahun. Tetapi sebelum beliau wafat, beliau sempat menyampaikan suatu wasiat kepada istrinya agar putra beliau hendaknya dikirim ke Hadramaut dan Makkah untuk belajar ilmu agama Islam di tempat-tempat tersebut.

Untuk memenuhi wasiat suaminya, Nyai Salmah menjual gelang satu-satunya perhiasan yang dimilikinya untuk biaya perjalanan Habib Ali Al Habsyi ke Hadramaut dan Makkah. Karena di waktu wafatnya Al-Habib Abdurrahman Al Habsyi tidak meninggalkan harta benda apapun. Dalam usia 10 tahun berangkatlah Al-Habib Ali Al Habsyi dari Jakarta menuju Hadramaut, dengan bekal sekedar ongkos tiket kapal laut sampai di tempat yang dituju.

Sesampainya di Hadramaut, Al-Habib Ali sebagai seorang anak yang sholeh, tidak mensia-siakan masa mudanya yang berharga itu untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, sambil mencari rizki yang halal untuk bekal hidup beliau selama menuntut ilmu di tempat yang jauh dari ibunya. Sebab beliau menyadari bahwa ibunya tidak mampu untuk mengirimkan uang kepada beliau selama menuntut ilmu di luar negeri tersebut.

Diantara pekerjaan beliau selama di Hadramaut dalam mencari rizki yang halal untuk bekal menuntut ilmu ialah mengambil upah menggembala kambing. Pekerjaan menggembala kambing ini rupanya telah menjadi kebiasaan kebanyakan para sholihin, terutama para Anbiya’. begitulah hikmah Ilahi dalam mendidik orang-orang besar yang akan diberikan tugas memimpin umat ini. Di antara guru-guru beliau di Hadramaut :

1.Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi

2.Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas

3.Al-Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus

4.Al-Habib Zein bin Alwi Ba’bud

5.Assyekh Hasan bin Awadh bin Mukhaddam

Selain itu Al-Habib Ali menghadiri majelis ilmu Al-Habib Abdurahman bin Muhammad Al-Masyhur mufti Al-Diyar Al-Hadramiyah, Al-Habib Umar bin Idrus bin Alwi Alaydrus serta Al-Habib Alwi bin Abdurahman Al-Masyhur. Pada tahun 1300 H, menghadiri majelis Maulid yang diselenggarakan oleh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Pada saat itu hadir pula Al-Habib Al-Quthub Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor beserta anak-anaknya, serta yang lain daripada ulama-ulama pada saat itu.

Berkat doa ibu dan ayah beliau, juga berkat doa para datuk-datuk beliau, terutama datuk beliau RAsullulloh SAW, dalam masa 6,5 tahun belajar di luar negeri Al-Habib Ali telah memperoleh ilmu Islam yang murni, luas dan mendalam yang dibawanya kembali ke Indonesi Pada tahun 1303 H,  umur beliau 16 tahun dan melanjutkan belajar diantaranya kepada :

1.Al-Habib Usman bin Abdullah bin Yahya

2.K.H.Abdul Hamid, Jatinegara

3.K.H.Mujtaba bin Ahmad, Jatinegara

4.Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Shulaibiyah Alaydrus

5.Al-Habib Salim bin Abdurahman Al-Jufri

6.Al-Habib Husin bin Muchsin Al-Atthas

7.Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-Atthas, Bogor

8.Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas, Pekalongan

9.Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor, Bondowoso

10.Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi

11.Al-Habib Ahmad bin Muchsin Al-Hadar, Bangil

Sekembalinya di tanah air, mulailah beliau menjalankan dakwahnya, mengajak umat Islam untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam yang suci dengan dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya SAW.

Setelah usia mencapai 20 tahun Al-Habib Ali menikah dengan Hababah Aisyah keluarga Al-Saqqaf dari Banjarmasi dan pada tahun 1311 H beliau berangkat Ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji serta menuntut ilmu kepada :

1.Syech Muhammad Said Babshil

2.Al-Habib Umar bin Muhammad Syatha’

3.Musyaikh Umar bin Abi Bakar Bajunaid

4.Al-Habib Abdullah bin Muhammad Sholih Al-Zawawi

5.Syekh Umar Hamdan Al-Maghribi

Di Kota Madinah Al-Munawwaroh belajar kepada : Habib Ali bin Ali Alhabsyi, Habib Abdullah Jamalullail ( Syekh Al-Asaadah ) dan Syekh Sulaiman bin Muhammad Al-Azab, anak dari pengarang kitab Maulid Azab.

Harumnya nama Al-Habib Ali menjadi pembicaraan ramai. Kemasyhurannya tersebut sampai dibuatkan syair oleh beberapa pujangga di antaranya : Al-Habib Muhamnmad Al-Muhdor, Sayyid Ahmad Assaqaf, Syekh Fadhil Irfan, Soleh bin Ali Al-Hamid, Toha bin Abu Bakar Assaqaf dan Syekh Yusuf bin Ismail Al-Nabhani pun memasukkan nama Habib Ali dalam kitabnya yang bernama Jami’ Karamat Al-Auliya juz 2 halaman 362.

Selain di pengajian tetap di majlis ta’lim Kwitang yang diadakan setiap hari Minggu pagi sejak kurang lebih 70 tahun yang lalu hingga sekarang dengan kunjungan umat Islam yang berpuluh-puluh ribu, beliau juga aktif menjalankan dakwah di lain-lain tempat di seluruh Indonesia. Bahkan hingga ke desa-desa yang terpencil di lereng-lereng gunung. Selain itu Al-Habib Ali Al Habsyi juga berdakwah ke Singapura dan Malaysia.

Beliau selain ahli dalam menyampaikan dakwah, beliau juga terkenal dengan akhlaknya yang tinggi, baik terhadap kawan maupun terhadap orang yang tidak suka kepadanya. Semuanya dihadapinya dengan ramah-tamah dan sopan santun yang tinggi. Terlebih lagi khidmat beliau terhadap ibunya adalah sangat luar biasa. Dalam melakukan rasa bakti kepada ibunya sedemikian ikhlas dan tawadhu’nya, sehingga tidak pernah beliau membantah perintah ibunya. Biarpun beliau sedang berada di tempat yang jauh, misalnya sewaktu beliau sedang berdakwah di Surabaya ataupun di Singapura, bila beliau menerima telegram panggilan dari ibunya, segera beliau pulang secepat-cepatnya ke Jakarta untuk memenuhi panggilan ibunya tersebut.

Maka tidak heran apabila ilmu beliau sangat berkah dan dakwah beliau dimana-mana mendapat sambutan yang menggembirakan. Setiap orang yang jumpa dengan beliau, apalagi sampai mendengarkan pidatonya, pastilah akan tertarik. Terutama di saat beliau mentalqinkan dzikir atau membaca sholawat dengan suara mengharukan, disertai tetesan air mata, maka segenap yang hadir turut meneteskan air mata. Dan yang demikian itu tidak mungkin jika tidak dikarenakan keluar dari hati yang ikhlas, hati yang disinari oleh nur iman dan nur mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya SAW.

Beliau berpulang ke rahmatulloh pada hari Minggu tanggal 20 Rajab 1388 bertepatan dengan 13 Oktober 1968, di tempat kediaman beliau di Kwitang Jakarta, dalam usia 102 tahun menurut Hijriyah atau usia 98 tahun menurut perhitungan Masehi, beliau di makamkan di Masjid Arriyadh yang dipimpinnya sejak ia masih muda, ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis ta’lim tempat ia mengajar.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

MANAQIB AL HABIB SALIM BIN JINDAN

Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

Ulama habaib Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista). Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada Habib Salim bin Jindan – yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.

Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.

Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.
Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.

Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid. Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, “Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan kharisma mereka.” Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, “Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan.”

Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil I pada 1947 dan 1948.

Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman – cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.

Kembali Berdakwah

Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.

Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.

Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan – yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, “Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?” Maka jawab Habib Salim, “Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai.” Lalu kata pendeta itu, “Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa — menurut keyakinan Habib — belum mati, masih hidup.”

“Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang,” jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.

Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. “Para wanita mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin,” kata Habib Salim kala itu.

Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.

Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.

Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim – dua putra almarhum Habib Novel. “Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang sulit dijangkau,” kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.

Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak keluarga. “Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain.”

Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin Novel bin Salim

Manakib Al Habib Ahmad bin Alwi Al Hadad

Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah seorang yang memiliki khoriqul a’dah yaitu diluar kebiasaan manusia umumnya atau disebut dalam bahasa kewalian majdub atau disebut dengan ahli darkah maksudnya disaat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan maka beliau muncul dengan tiba-tiba, beliau lahir di qurfha hadramaut Tarim pada tanggal 26 sya’ban 1254 H dan beliau belajar kepada ayahanda beliau sendiri Al habib Alwi Al Haddad dan belajar pula kepada Al habib Ali Bin Husein Al Hadar, Al Habib Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi dan kepada Habib keramat empang bogor Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Attas, beliau digelari Habib Kuncung.
Dikala beliau dewasa beliau didatangi oleh Rasulullah SAW yang akhirnya beliau ziarah ke Madinah, selanjutnya dalam bisyarah beliau disuruh kejawa oleh Nabi SAW.
Dalam suatu cerita yang didapat dari Al Habib Husein Bin Abdullah Bin Mukhsin Al Attas beliau menuju ke lombok kemudian menikah dan memiliki seorang anak, di dalam satu riwayat di bogor ketika beliau menziarahi guru beliau Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Attas dikala itu Al Habib Abdullah Bin Mukhsin sedang sarapan pagi tiba-tiba Habib yang berkharismatik tinggi yang bermagam mulia ini tersenyum, lalu ditanya oleh murid beliau Al Habib Alwi Al Haddad ada apa dikau tersenyum wahai guruku yang mulia ? lihatlah ya Alwi itu Ahmad sedang menari-nari seru beliau, Habib Alwi pun melihatnya seraya beliaupun tersenyum, apakah kau lihat ya Alwi ? seru habib Keramat , apa wahai guruku ? Tanya habib Alwi , beliau menjawab ya Alwi itu habib Ahmad menari-nari dengan bidadari.
Kecintaan habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (habib Kuncung) bagai ayah dan anaknya sehingga dimanapun ada habib Abdullah Bin Mukhsin pasti di situ ada habib Ahmad.
Akhir-akhir masa sebelum wafatnya Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad tak habis-habisnya beliau menyenangi hati seorang gurunya, sesampainya beliau ditinggal oleh guru kesayangannya yang akhirnya pada tahun 1345 H tanggal 29 sya’ban sekitar tahun 1926 M pada usia 93 tahun beliau Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad kembali ke rahmatullah dan di maqamkan atau dikubur di pemakaman keluarga Al Haddad kalibata Jakarta selatan dan setiap minggu pertama diadakan maulid di pemakaman beliau ba’da ashar.

Habib Ahmad Bin alwi Al hadad (Habib Kuncung)

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Di Belakang  Mall Kalibata terdapat maqom Seorang waliyulloh, Habib Ahmad Bin alwi Al hadad yang dikenal dengan Habib Kuncung. Beliau adalah seorang ulama yang memilki prilaku ganjil (khoriqul a’dah) yaitu diluar kebiasaan manusia umumnya.beliau adalah waliyullah yang sengaja ditutup kewaliannya agar orang biasa tidak menyadari kelebihannya karena di kawatirkan umat nabi Muhammad terlalu mencintainya dan agar tidak terlena dengan karamah nya tersebut maka allah swt menutup karamahnya tersebut dan hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat semua karomah Beliau.Habib Kuncung juga terkenal sebagai ahli Darkah maksudnya disaat sesorang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan beliau muncul dengan tiba – tiba .Lahir di Gurfha HadroMaut Tarim tanggal 26 sya’ban Tahun 1254 H, beliau berguru kepada Ayahandanya sendiri Habib alwi Al Hadad dan juga belajar kepada Al A’lamah Habib Ali bin Husein Al Hadad, Habib Abdurrahman Bin Abdulloh Al Habsyi dan Habib Abdulloh bin Muchsin al athos. Sebagaimana kebiasaan Ulama-ulama dari Hadromaut untuk melakukan perjalanan Ritual Dakwah ke berbagai negara termasuk ke Indonesia. Habib ahmad bin Alwi al hadad melakukan ritual dakwah ke Indonesia pertama kali singgah di Kupang dan menurut cerita Beliau Menetap beberapa tahun disana dan menikah dengan wanita bernama Syarifah Raguan Al Habsyi dan di karunai anak bernama Habib Muhammad Bin Ahmad Al Hadad. Selanjutnya Habib Ahmad bin Alwi al hadad melanjutkan dakwahnya ke pulau jawa dan menetap di Kali Bata hingga wafatnya.

Gelar Habib Kuncung yang diberikan kepada Habib Ahmad bin Alwi Al hadad yang saya tahu karena kebiasaan Beliau mengenakan Kopiah yang menjulang keatas (Muncung), dan Prilaku beliau yang terlihat aneh dari kebiasaan orang pada umumnya terutama dalam hal berpakaian. Habib Kuncung Wafat dalam usia 93 tahun tepatnya tanggal 29 sya,ban 1345 H atau sekitar tahun 1926 M dan di Maqomkan di Pemakaman Keluarga Al Hadad di Kalibata jakarta selatan.

maoqom Habib ahmad bin alwi al hadad

Manaqib Al Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih

Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pesantren ini telah melahirkan ramai ulama yang kemudiannya bertebaran di segenap pelusuk Nusantara. Sebahagiannya telah menurut jejak langkah guru mereka dengan membuka pesantren-pesantren demi menyiarkan dakwah dan ilmu, antaranya ialah Habib Ahmad al-Habsyi (PP ar-Riyadh, Palembang), Habib Muhammad Ba’Abud (PP Darun Nasyi-in, Lawang), Kiyai Haji ‘Alawi Muhammad (PP at-Taroqy, Sampang, Madura) dan ramai lagi.
Di tulis oleh Aji Setiawan :
Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih
Bak Pinang Dibelah Dua
Bapak dan anak sama-sama ulama besar, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik ulung dan bijak. Merekalah Habib Abdul Qadir dan Habib Abdullah.
Masyarakat Malang dan sekitarnya mengenal dua tokoh ulama yang sama-sama kharismatik, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik yang bijaksana. Mereka adalah bapak dan anak: Habib Abdul Qadir Bilfagih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih. Begitu besar keinginan sang ayah untuk “mencetak” anaknya menjadi ulama besar dan ahli hadist – mewarisi ilmunya.
Ketika menunaikan ibadah haji, Habib Abdul Qadir Bilfagih berziarah ke makam Rasulullah SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah. Di sana ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai ulama besar, dan menjadi seorang ahli hadits.
Beberapa bulan kemudian, doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Pada 12 Rabiul Awal 1355 H/1935 M, lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir dengan Syarifah Ummi Hani binti Abdillah bin Agil, yang kemudian diberi nama Abdullah.
Sesuai dengan doa yang dipanjatkan di makam Rasulullah SAW, Habib Abdul Qadir pun mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk mendidik putra tunggalnya itu. Pendidikan langsung ayahanda ini tidak sia-sia. Ketika masih berusia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah hafal Al-Quran.
Hal itu tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Semua itu berkat kerja sama yang seimbang antara ayah yang bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid. Sang guru mengerahkan segala daya upaya untuk membimbing dan mendidik sang putra, sementara sang anak mengimbanginya dengan semangat belajar yang tinggi, ulet, tekun, dan rajin.
Menjelang dewasa, Habib Abdullah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan At-Taroqi, dari madrasah ibtidaiyah hingga tsanawiyah di Malang, kemudian melanjutkan ke madrasah aliyah di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah. Semua lembaga pendidikan itu berada di bawah asuhan ayahandanya sendiri.
Sebagai murid, semangat belajarnya sangat tinggi. Dengan tekun ia menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, ia pernah jatuh sakit. Meski begitu ia tetap saja belajar. Barangkali karena ingin agar putranya mewarisi ilmu yang dimilikinya, Habib Abdul Qadir pun berusaha keras mendidik Habib Abdullah sebagai ahli hadits.
Maka wajarlah jika dalam usia relatif muda, Habib Abdullah telah hafal dua kitab hadits shahih, yakni Shahihul Bukhari dan Shahihul Muslim , lengkap dengan isnad dan silsilahnya. Tak ketinggalan kitab-kitab Ummahatus Sitt (kitab induk hadits), seperti Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzy, Musnad Syafi’i, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal ; Muwatha’ karya Imam Malik; An-Nawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmudzy; Al-Ma’ajim ats-Tsalats karya Abul Qasim At-Thabrany, dan lain-lain.
Tidak hanya menghafal hadits, Habib Abdullah juga memperdalam ilmu musthalah hadist, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadits berikut perawinya, seperti Rijalul Hadits, yaitu ilmu tentang para perawi hadits. Ia juga menguasai Ilmu Jahr Ta’dil (kriteria hadits yang diterima) dengan mempelajari kitab-kitab Taqribut Tahzib karya Ibnu Hajar Al-Asqallany, Mizanut Ta’dil karya Al-Hafidz adz-Dzahaby.
Empat Madzhab
Selain dikenal sebagai ahli hadits, Habib Abdullah juga memperdalam tasawuf dan fiqih, juga langsung dari ayahandanya. Dalam ilmu fiqih ia mempelajari kitab fiqih empat madzhab (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), termasuk kitab-kitab fiqih lain, seperti Fatawa Ibnu Hajar, Fatawa Ramli, dan Al-Muhadzdzab Imam Nawawi.
Setelah ayahandanya mangkat pada 19 November 1962 (21 Jumadil Akhir 1382 H), otomatis Habib Abdullah menggantikannya, baik sebagai pengasuh pondok peantren, muballigh, maupun pengajar. Selain menjabat direktur Lembaga Pesantren Darul Hadits Malang, ia juga memegang beberapa jabatan penting, baik di pemerintahan maupun lembaga keagamaan, seperti penasihat menteri koordinator kesejahteraan rakyat, mufti Lajnah Ifta Syari’i, dan pengajar kuliah tafsir dan hadits di IAIN dan IKIP Malang. Ia juga sempat menggondol titel doktor dan profesor.
Sebagaimana ayahandanya, Habib Abdullah juga dikenal sebagai pendidik ulung. Mereka bak pinang dibelah dua, sama-sama sebagai pendidik, sama-sama menjadi suri tedalan bagi para santri, dan sama-sama tokoh kharismatik yang bijak. Seperti ayahandanya, Habib Abdullah juga penuh perhatian dan kasih sayang, dan sangat dekat dengan para santri.
Sebagai guru, ia sangat memperhatikan pendidikan santri-santrinya. Hampir setiap malam, sebelum menunaikan shalat Tahajjud, ia selalu mengontrol para santri yang sedang tidur. Jika menemukan selimut santrinya tersingkap, ia selalu membetulkannya tanpa sepengetahuan si santri. Jika ada santri yang sakit, ia segera memberikan obat. Dan jika sakitnya serius, ia akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke dokter.
Seperti halnya ulama besar atau wali, pribadi Habib Abdullah mulia dan kharismatik, disiplin dalam menyikapi masalah hukum dan agama. Tanpa tawar-menawar, sikapnya selalu tegas: yang haq tetap dikatakannya haq, yang bathil tetap dikatakannya bathil.
Sikap konsisten untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar itu tidak saja ditunjukkan kepada umat, tapi juga kepada pemerintah. Pada setiap kesempatan hari besar Islam atau hari besar nasional, Habib Abdullah selalu melancarkan saran dan kritik membangun – baik melalui pidato maupun tulisan.
Habib Abdullah juga dikenal sebagai penulis artikel yang produktif. Media cetak yang sering memuat tulisannya, antara lain, harian Merdeka, Surabaya Pos, Pelita, Bhirawa, Karya Dharma, Berita Buana, Berita Yudha . Ia juga menulis di beberapa media luar negeri, seperti Al-Liwa’ul Islamy (Mesir), Al-Manhaj (Arab Saudi), At-Tadhammun (Mesir), Rabithathul Alam al-Islamy (Makkah), Al-Arabi (Makkah), Al-Madinatul Munawarah (Madinah).
Habib Abdullah wafat pada hari Sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H (30 November 1991) dalam usia 56 tahun. Ribuan orang melepas kepergiannya memenuhi panggilan Allah SWT. Setelah dishalatkan di Masjid Jami’ Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang, Jawa Timur.

Ayahanda beliau

Habib Abdullah (kiri) dan ayahanda beliau habib Abdul Qodir Bil Faqih (tengah)
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.
diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad bilfaqih

Beliau dilahirkan dikota Tarim Hanna’ Hadromaut pada hari selasa 15 safar tahun 1316 H. /5 juli 1898. Menjelang lahir ayahanda beliau yang bernama Al`Allamah Alhabib Ahmad Bin Muhammad Bin Faqih mendapat amanat kitab suci al-qur`an dari Sulthonul Auliyah Syekh Abdul Qadir Al Jailani melalui mimpi seorang kawan beliau Al Habib Syaikhon bin Hasyim As Segaf. Ini pertanda akan muncul seseorang yang besaar. semenjak kecil beliau RA adalah seseorang yang teramat rajin dan tekun dalam mencari ilmu hingga sampai usia yang tergolong anak-anak, beliau telah menghafal Al- Qur`Anul Kharim . Oleh salah seorang maha gurunya beliau telah dipercaya dalam memberi fatwa.

Ini adalah kelebihan anugerah dari Allah SWT, yang diberikan kepada hambaNya.

Almarhum Alustadzul Imam Alhabr RA, hijrah meninggalkan kota Tarim atas perintah Maha Gurunya guna menyebarkan luaskan ilmunya dan selaku penerus kakek-kakek beliau. Selanjutnya beliau menuju Seiwun ,Aden, Kota Suci Mekkah, Madinnah, Damaskus, Syiria, Lalu Menuju Mesir, Maroko, Dan Terakhir Indonesia. Kemudian pada tahun 1938 M di kota Solo Jawa Tengah beliau mendirikan madrasah Ar-Robithoh dan pada tahun 1945 M beliau mendirikan Pesantren Darul Hadits Alfaqihiyyah Di Kota Malang.

Adalah kehidupan Alutstadzul Imam Alhabr RA sepenuhnya dicurahkan untuk perjuangan agama, menyebar luaskan ilmu serta mencetak kader-kadrer islam disamping memperjuangkan Indonesia merdeka pada masa pendudukan Belanda Maupun Jepang. Jasa Alustadzul Imam Alhabr tidak dapat di untai dengan ribuan kata-kata beguitu besar dan teramat mulia apa yang telah beliau curahkan bagi agama islam dan kaum muslimin.
Beberapa keutamaan alustadzul imam alhabr RA. :

*  Beliau adalah seoarang yang menguasai ilmu syariat , thoriqoh dan haqiqoh
* Tiada waktu tanpa bersama ilmu dan ibadah
* Beliau dalah seorang guru, pendidik dan pembimbing yang teramat besar perhatian dan kasih sayangnya terhadap anak didik
* Semua perkara yang makruh beliau tidak mau melakukannya
* Mendidik semua santri untuk memiliki pendirian yang kokoh dan kuat tidak udah terpengaruh gejolak jaman dan menanamkan disiplin yang tinggi
* Akhlak dan budi pekertinya tidak diraguka lagi , baik dikalangan anak didik maupun yang mengenal pribadi beliau

 Al Habib Abdullah bin Abdul Qodir  bilfaqih

Beliau dilahirkan di kota Surabaya , tepatnya pada hari senin 12 Robiul Awal 1355 H/1 juni 1936.

Yang meneruskan perjuangan ayahandanya. Antara keduanya terdapat keseimbangan yakni ketekunan dalam mengajar dan kegigihan dalam menumtunt ilmu.

Pada usia tujuh tahun beliau telah hafal Al Qur`Anul Karim, kemudian pada usia muda bealiau telah menerima tugas untuk memegang tampuk pimpinan (direktur) lembaga Darul Hadits Al Faqihhiyyah, pada tahun 1960 beliau menerima gelar doctor honoris causa dalam bidang Ilmu Hadits Dari Al-Azhar Cairo Mesir.

Selain itu beliau pernah menajabat sebagai dosen IKIP , kemudian pada tahun 1960 menjabat dosen Ilmu Tafsir Al-Qur`An Di Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, selain itu juga diangkat sebaagai penasihat Menteri Penghubung ` Alim Ulama , juga sebagai penasihat Ahli Menteri Kesra RI dalam bidang fatwa agama, sedang dalam idang Thoriqoh beliau membai`ah dan melanjutkan jabatan mursyid Thoriqoh Al` Alawiyyah Al –Mu`Tabaroh sebagai mana ayahandanya.

Sejak semula hingga akhir hayat beliau selalu penuh semangat dalam dakwah islamiyyah di didalam maupun di luar negeri, forum mimbar lainnya seperti media cetak, radio pusat maupun regional dan lain-lain.

BEBERAPA KEUTAMAAN ALUSTADZUL IMAM ALHAFIDS RA :

* Beliau adalah seseorang yang tidak mengenal lelah dalam menyebar luaskan sunnah—sunnah Nabi Besar Muhammad SAW
* Beliau adalah seseorang yang tegas dalam memegang prinsip ajaran agama yang berazaskan Al-Kitab Dan Sunnah-Sunnah
* Sama seperti ayahandanya belaiau tidak mau melakukan hal-hal yang makruh
* Beliau adalah seorang ahli sholawat dan beliau mewajibkan setiap harinya tidak kurang dari 10.000 kali serta mengkhatamakan Al-Qur`An setiap hari
* Dapat dikatakan beliau adalah seorang muballigh sejati

Situs Resmi Pesantren Darul Hadits Al Faqihiyyah Malang

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Penyusun Simtud Duror Terkenal

Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jumaat 24 Syawal 1259H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.
Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.

Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.

Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya – di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.

Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.

Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabiulawal 1373H dan dimakamkan di kota Surakarta.

Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.

Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

Habib Ali Al-Habsyi meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabiulakhir 1333H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.

Dipetik dari:
Untaian Mutiara – Terjemahan Simtud Duror oleh Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi

Manaqib Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Thalib Alatas

Published on August 23, 2010 in Artikel Islam.

Sosok Habib Ahmad, demikian masyarakat Pekalongan dan sekitarnya memanggilnya adalah figur seorang ulama yang menjadi panutan ummat Islam khususnya di kawasan pesisir utara Pulau Jawa. Pasalnya, kealiman beliau sangat terkenal dan menjadi pusat rujukan setiap problem agama khususnya yang berkaitan dengan masalah hukum Islam.
Kendati demikian, beliau tidak dapat menotolerir (memaafkan) setiap pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah atau melihat orang yang meremehkan soal agama. Walaupun beliau seorang ulama terpandang dan berkedudukan tinggi, mengajak orang berbuat baik dan mengajak meninggalkan perbuatan yang buruk dan jahat adalah merupakan ciri khas dan naluri pribadi ulama yang dikenal sangat bersahaja ini.

Lahir di Kota Hajren Yaman tahun 1255 Hijriyah atau tahun 1836 Masehi, Habib Ahmad mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya Assayyid Abdullah Bin Thalib Alatas dan Assyarifah Zaenah Binti Ahmad AlKaf dalam bidang agama. Setelah menguasai pembacaan Al Qur’an dan pengetahuan agama yang cukup, Habib Ahmad meneruskan belajarnya di tanah suci Makkah sekaligus untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Rasulullah.
Beberapa guru beliau kunjungi untuk diserap ilmunya. Diantara guru yang didatangi dan paling berpengaruh ialah Syekh Imam Assayyid Ahmad Zaini Dahlan seorang alim yang memiliki banyak murid dan santri, khususnya dari Indonesia antara lain yang pernah menjadi santrinya ialah KH. Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama.  Jika dirunut, Habib Ahmad masih ada darah keturunan dari Rasulullah Muhammad SAW yang ke 39.

Sebelum Habib Ahmad kembali ke tanah kelahirannya di Hajren Yaman, Habib Ahmad mendapat kepercayaan dari gurunya untuk mengajar di Makkah. Kepiawaian beliau dalam berda’wah danmengajar membuat masyarakat sekeras dan sekasar apapun menjadi lunak dan lembut. Ternyata Habib Ahmad adalah sosok figur yang pandai membaca dan menyelami keadaan masyarakat dimana beliau berkiprah.  Setelah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Makkah, kemudian Habib Ahmad berniat kembali ke tanah kelahirannya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya setalah cukup lama ditinggalkannya menuntut ilmu di negeri Makkah.
Keinginan Habib Ahmad mengunjungi Indonesia tidak dapat ditunda tunda lagi, meski sanak kerabat sangat keberatan, toh tak menyurutkan langkah untuk mengunjungi saudara-saudaranya yang tinggal di Indonesia, terutama Pekalongan. Maka berangkatlah Habib Ahmad menuju Indonesia dengan tujuan utama Pekalongan. Melihat keadaan Pekalongan yang menurutnya masih membutuhkan dukungan penyiaran agama Islam, maka tergeraklah hati beliau untuk menetap di Pekalongan.
Sejak itu, Habib Ahmad di Pekalongan melaksanakan tugas sebagai imam rawatib di Masjid Wakaf yang terletak di sebuah jalan yang kini disebut Jalan Surabaya. Berkat ketekunan dan ketelatenan beliau, lambat laun jama’ah masjid makin ramai yang mengikuti jama’ah sholat, sehingga tergerak hati beliau untuk mengajarkan berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya, antara lain membaca Al Qur’an, barzanji, wirid hingga hizib di waktu-waktu tertentu, sehingga semakin marak jama’ah Masjid Wakaf sejak kehadiran Habib Ahmad.

Ilmu Habib Ahmad memang sangat luas, namun ilmu itu bukan sekedar dikuasai dan tidak diamalkan. Selain diamalkan, Habib Ahmad tidak pernah menyombongkan ilmunya, melainkan selalu tampil dengan rendah hati, suka bergaul, jujur, sabar, istiqomah dan disiplin dalam menjalankan agama.

Dalam amaliyah keseharian, sebagaimana yang ditulis dalam kitab “Taj Al-A’ras” karangan Habib Ali Bin Husein Alatas diceritakan, Habib Ahmad tidak pernah meninggalkan sholat tahajud setiap harinya dan didalamnya selalu membaca satu juz Al Qur’an dan satu juz lagi dibaca saat sholat dhuha. Membaca ratib yang disusun Habib Umar Bin Abdurrahman Alatas dan membaca wirid karangan habib Abdullah Al Haddad adalah pekerjaan setiap pagi dan sore Habib Ahmad.
Ketekunan beliau dalam menjalankan ibadah, keikhlasan dan kasih sayangnya kepada mereka yang lemah serta ketegasannya dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar telah membuat habib menjadi idola masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.

Diakhir hayatnya, Habib Ahmad mengalami patah tulang pada pangkal pahanya akibat jatuh. Penderitaan ini berlanjut hingga wafatnya pada malam Ahad 24 Rajab 1347 Hijriyah atau tahun 1928 dalam usia 92 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Sapuro Kota Pekalongan.
Namun peringatan haul wafatnya diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya’ban yang dihadiri ribuan umat Islam, bahkan tidak jarang tamu dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Timur Tengah juga menyempatkan hadir setiap haul digelar. Meski secara fisik Habib Ahmad telah tiada, namun ajaran dan tauladan beliau terus diamalkan oleh ummat Islam hingga sepanjang zaman. Semoga kita mampu menauladani perilaku dan ajaran-ajarannya, khususnya dalam penegakkan ajaran syari’at Islam.

Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas

Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas dilahirkan di kota Hajeriem, Hadramaut, pada tahun 1255 H. Pada masa kecilnya, beliau mendapat didikan langsung dari ayah beliau Al-Habib Abdullah bin Thalib Alatas. Setelah dirasakan cukup menimba ilmu dari ayahnya, beliau kemudian meneruskan menuntut ilmu kepada para ulama besar yang ada di Hadramaut. Diantara para guru beliau adalah :

·         Al-Habib Hasan bin Ali Alkaff

·         Al-Habib Al-Qutub Sholeh bin Abdullah Alatas

·         Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Abdullah Alatas

·         Al-Habib Al-Qutub Thahir bin Umar Alhaddad

·         Al-Habib Al-Qutub Idrus bin Umar Alhabsyi

·         Al-Habib Ahmad bin Hasan bin Sholeh Al-Bahar

·         Al-Habib Muhammad bin Ibrahim Balfagih

Setelah ditempa oleh para ulama besar bahkan para Qutub yang ada di Hadramaut saat itu, keinginan beliau untuk menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus. Hasrat beliau untuk menambah ilmu sedemikian hebat, sehingga untuk itu beliau kemudian melakukan perjalanan ke kota Makkah. Beliau banyak menjumpai ulama-ulama besar yang tinggal di kota Makkah saat itu. Kesempatan baik ini tak beliau sia-siakan. Beliau berguru kepada mereka. Diantara ulama-ulama besar yang menjadi guru beliau disana adalah :

·         As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Makkah saat itu)

·         Al-Habib Abdullah bin Muhammad Alhabsyi

·         Asy-Syaikh Muhammad bin Said Babsail

·         Al-Habib Salim bin Ahmad Alatas

Beliau Al-Habib Ahmad dengan giat dan tekun mengambil ilmu dari mereka. Sehingga tak terasa sudah 12 tahun beliau jalani untuk menimba ilmu disana. Beliau terus mengembangkan keilmuannya, sehingga kapasitas beliau sebagai seorang ulama diakui oleh para ulama kota Makkah saat itu.

Beliau kemudian dianjurkan oleh guru beliau, As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan, untuk memulai terjun ke masyarakat, mengajarkan ilmu dan berdakwah. Mula-mula beliau berdakwah di pinggiran kota Makkah. Beliau tinggal disana selama 7 tahun. Dalam kurun waktu itu, kegiatan dakwah selalu aktif beliau lakukan disana.

Kemudian beliau berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan dakwah beliau ke Indonesia. Beliau sampai disini diperkirakan sekitar tahun 1295-1300 H. Setibanya beliau di Indonesia, beliau menuju ke kota Pekalongan dan menetap disana.

Di kota Pekalongan beliau selalu aktif meneruskan kegiatan-kegiatan dakwahnya. Beliau tidak ambil pusing dengan urusan-urusan duniawi. Semua fikrah beliau semata ditujukan untuk kepentingan dakwah. Waktu beliau selalu terisi dengan dakwah, ibadah, dzikir kepada Allah dan rajin membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selain itu, ilmu beliau selalu tampak bercahaya, terpancar melalui akhlak beliau yang mulia. Beliau selalu berperilaku baik, penyayang dan lemah lembut terhadap sesama.

Akan tetapi itupun tidak meniadakan sikap beliau yang selalu ber-nahi mungkar. Jika beliau melihat seseorang yang melakukan suatu kemungkaran, beliau tidak segan-segan untuk menegurnya. Perkataan-perkataan yang keluar dari mulut beliau, selalu beliau ucapkan dengan shidq. Beliau tidak perduli terhadap siapapun jika ada hak-hak Allah yang dilanggar di hadapan beliau. Sehingga berkat beliau, izzul Islam wal Muslimin tampak terang benderang, menyinari kota Pekalongan.

Disamping itu, dari sebagian jasa-jasa baik beliau, beliau membangun beberapa masjid dan madrasah Salafiyah, yang berjalan pada thariqah para salaf beliau yang shaleh. Rumah beliau selalu penuh dengan tamu dan beliau sambut dengan ramah-tamah. Inilah akhlak beliau yang mensuri-tauladani akhlak dan perilaku datuk-datuk beliau.

Sampai akhirnya beliau dipangil ke hadratillah, pergi menuju keridhaan Allah. Beliau wafat pada tanggal 24 Rajab 1347 H di kota Pekalongan dan dimakamkan disana. Masyarakat berbondong-bondong mengiringi kepergian beliau menghadap Allah. Derai keharuan sangat terasa, membawa suasana syahdu…

Selang setahun kepergian beliau, untuk menghidupkan kembali kesuri-tauladan dan mengenang jasa-jasa baik beliau, setiap tahun di kota tersebut diadakan Haul beliau. Haul tersebut banyak dihadiri oleh berbagai kalangan umat Islam. Mereka berduyun-duyun dari berbagai kota hadir disana, demi mengenang kehidupan beliau…demi menjemput datangnya nafaahat dan imdaadat.

Sejarah Sembilan Wali / Walisongo (wali9)

August 25, 2009 oleh alibaba
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya

Tinggalkan Komentar

“Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid

Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

Maulana Malik Ibrahim (1)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi

Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n

Sunan Ampel (2)
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.

Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.n

Sunan Giri (3)
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n

Sunan Bonang (4)
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah

yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n

Sunan Kalijaga (5)
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.n

Sunan Gunung Jati (6)
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n

Sunan Drajat (7)
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M

Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun

Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.

Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.

Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.n

Sunan Kudus (8)
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n

Sunan Muria (9)
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinan

Mengintip Nasab Para Walisongo, Cucu-Cucu Rosullullah SAW (Al-Huseini) ”???”

Mengintip Nasab Para Walisongo, Cucu-Cucu Rosullullah SAW (Al-Huseini) ”???”

Oleh: Muhammad Gatot Aryo Al-Huseini

Sayyid Jamalludin Husain Akhbar Al-Huseini adalah cucu Rosullullah SAW, keturunan 20 dari Imam Husein Assabti. Beliau hidup di awal tahun 1400 Masehi, yang merupakan seorang keuarga dekat Sultan Sulaiman dari Kesultanan Islam Irak, yang berkedudukan di Bagdad.

Sayyid Jamlludin Husain Akhbar Al-Huseini memiliki 3 orang putra. Putera pertama, Sayyid Ali Nurrul Alam Al-Huseini. Putera kedua, Sayyid Zaenal Alam Barakat Al-Huseini. Putera ketiga, Sayyid Ibrahim Zain Al Akhbar Al-Huseini. Masing-masing putera beliau di didik dengan ilmu Agama Islam yang kuat dan mumpuni. Mereka bertiga akhirnya di tugasi oleh ayahnda beliau untuk merantau dan menyebarkan syiar Islam, sebagai bentuk misi Kesultanan Islam Irak (Bagdad), dalam rangka menyebarkan syiar Islam ke seluruh Dunia.

Putera pertama, Sayyid Ali Nurrul Alam Al-Huseini merantau melintasi laut merah melalui Ismailiyah dan menetap di Kairo, Ibukota Kesultanan Mesir. Lambat laun beliau dapat menduduki jabatan yang tinggi dalam Pemerintahan Kesultanan Mesir. Putera kedua, Sayyid Zaenal Barakat Al-Huseini, melalui perjalanan darat merantau ke Gujarat. Sedangkan putera ketiga, Sayyid Ibrahim Zain Al Akhbar Al-Huseini merantau ke Campa (Kamboja).

Masing-masing dari mereka menetap dan tinggal di daerah perantauannya. Putera pertama, Sayyid Ali Nurul Alam Al-Huseini yang menetap di Kairo, Mesir. Mempunyai seorang putera bernama Sayyid Syarif Abdullah Al-Huseini, setelah dewasa Syarif Abdullah menikah dengan Puteri makhkota Kesultanan Mesir. Kesultanan Mesir saat itu menobatkan Sultanah (Sultan Wanita) untuk memerintah bersama dengan suaminya Sayyid Syarif Abdullah Al-Huseini (Ayahanda Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Al-Huseini “Sunan Gunung Jati”)

Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Al-Huseini (Sunan Gunung Jati “Wali Songo”), adalah putera dari Sayyid Syarif Abdullah Al-Huseini. Buah pernikahannya dengan Ratu Rara Santang, Puteri kedua Raja Pajajaran Sri Baduga (Raja Pajajaran di Abad ke 14). Pernikahan tersebut terjadi saat Ratu Rara Santang yang baru masuk Islam (Oleh Gurunya Syekh Nur Jati), melaksanakan Ibadah Haji ke Mekah untuk menyempurnakan keislamannya. Dia saat yang sama Sayyid Syarif Abdullah Al-Huseini (Sultan Mesir) yang baru saja di tinggal kan wafat Istrinya, sedang mencari calon istri baru yang paras wajahnya menyerupai mendiang istri pertamanya yang wafat.

Ratu Rara Santang ternyata memiliki paras wajah yang mirip dengan Istri Sultan yang telah wafat. Dan hal tersebut di ketahui oleh Patih Kesultanan Mesir, bernama Jamalullah. Mereka akhirnya di pertemukan, dan Ratu Rara Santang bersedia menjadi Permaisuri Sultan Mesir, Sayyid Syarif Abdullah Al-Huseini, setelah menikah namanya diganti menjadi SYARIFAH MUDAIM . Pernikahan mereka di karuniai dua orang putera. Pertama, Sayyid Maulana Syarif Hidayatullah Al-Huseini (Sunan Gunung Jati “Wali Songo”), dan Putera kedua, Sayyid Maulana Syarif Nurullah (Putera Makhkota Kesultanan Mesir).

Sedangkan putera kedua Sayyid Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini, Sayyid Zaenal Alam Barakat Al-Huseini yang merantau ke Gujarat. Mempunyai 2 orang anak. Yang pertama, Sayyid Ahmad Zaenal Alam Al-Gujarat Al-Husaini. Dan yang kedua Sayyid Maulana Malik Al-Gujarat Al-Husaini. Salah satu cucu Sayyid Zaenal Alam Barakat Al-Husaini yang bernama Sayyid Maulana Mahkdar Ibrahim Al-Gujarat Al-Husaini, merantau dan mensyiarkan Islam di Basem Paseh, Aceh.

Beliau di sana menikah dengan putri makhkota Kesultanan Paseh, Aceh. Dan memerintah bersama suaminya Sayyid Maulana Makhdar Ibrahim Al-Gujarat Al-Husaini yang bergelar “Sultan Hud”. Mereka mempunyai dua orang anak, yang pertama Sayyid Fadhilah Khan Al-Paseh Al-Gujarat Al-Husaini (Falatehan/Pangeran Jayakarta). Yang kedua bernama, Ratu Gandasari Al-Paseh Al-Gujarat Al-Husaini. Tahun 1511 Masehi Malaka jatuh ke tangan Portugis, dan Fadhilah Khan Al-Paseh mengungsi ke Cirebon dan Demak untuk meminta Bantuan.

Putera terakhir Sayyid Jamalludin Husain Akhbar Al-Huseini yang ketiga, Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar yang merantau ke Campa (Kamboja). Beliau memiliki 3 orang putera, antara lain pertama, Sayyid Ali Musadha Al-Husaini. Yang kedua, Sayyid Maulana Ishak Al-Huseini (Ayahanda Sunan Giri “Wali Songo”). Dan yang ketiga, Sayyid Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta “Wali Songo”).

Sayyid Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel “Wali Songo”), merantau ke Jawa dalam rangka melanjutkan misi Islam ayahandanya, yang menikah dengan seorang puteri Tumenggung Wilatikta Tuban. Ia menetap di Ampel Denta-Surabaya, membangun Paguronan (Majelis) Besar, sebagai pusat penyebaran syiar Islam ke seluruh wilayah Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit berhasil di Islamkan melalui Raden Patah (Sultan Demak Pertama) yang merupakan putera kandung Prabu Brawijaya Kertabumi (Raja terakhir Kerajaan Majapahit). Raden Patah yang telah memeluk Islam, dan berkedudukan di Demak, berhasil menaklukan Kerajaan Majapahit, melalui peperangan yang di dukung penuh oleh para Wali Songo, plus pasukan dari Arya Dillah, Raja dari Kesultanan Islam Palembang.

Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel “Wali Songo”), memiliki beberapa orang putera, antara lain:

1. Sayyid Ibrahim Al-Huseini (Sunan Bonang ”Wali Songo”).
2. Sayyid Hasim Al-Huseini (Sunan Drajat “Wali Songo”).
3. Sayyid Ahmad Hasanuddin Al-Huseini (Sunan).
4. Sayyid Zainal Abidin Al-Huseini (Sunan Demak “Wali Songo”).
5. Sayyid Jafar Sadiq Al-Huseini (Sunan Kudus “Wali Songo”).

Sedangkan Sayyid Muhammad Mual Yakin Al-Huseini (Sunan Giri “Wali Songo”), adalah putera dari Sayyid Maulana Ishak Al-Huseini (Putera dari Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar), saudara kandung dari Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel “Wali Songo”).

Penyebaran agama Islam di Nusantara (Indonesia) yang di lancarkan ulama-ulama yang memiliki nasab Rosullullah SAW, meluas hingga ke Asia Tenggara. Setelah Sulton Aulia Syekh Abdul Qodir Jaelani wafat, maka para Waliyullah yang menyebarkan Islam di masrik (timur), mengangkat Pemimpin (Wali Kutub) di wilayah timur. Setelah bermusyawarah para Waliyullah yang menyebarkan misi Islam di timur, bermufakat menetapkan Syekh Syarif Hidayatullah al-Huseini (Sunan Gunung Jati “Wali Songo”) sebagai Wali Kutub untuk daerah timur. Ini merupakan kesepakatan para Waliyullah di wilayah timur yang menamakan “Wali Songo”.

Misi-misi Islam para cucu Rosullullah SAW berdatangan dari timur tengah, mereka berangkat menggunakan perahu-perahu dagang, lalu singgah di berbagai tempat. Antara lain Gujarat, Pantai Koromondel, Semenanjung Melayu, Pasai, Campa, Tumasik, Jawa, hingga ke seluruh penjuru Nusantara.

Saat itu di Jawa ada dua kerajaan besar, yang berkuasa dan kuat, yaitu Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu/Budha. Misi-misi Islam yang di dalamnya terlibat para cucu Rosullullah, bergerak mensyiarkan Islam mulai dari bagian utara nusantara (Semenanjung Melayu). Di bagian barat nusantara (Kesultanan Aceh dan Palembang). Di bagian timur nusantara (Kalimantan dan Sulawesi), hingga di Pulau Jawa, oleh para Wali Sanga (Wali Sembilan). Dan mereka datang dari berbagai wilayah di timur tengah seperti Bagdad (Irak), Kairo (Mesir), dan Mekah (Arab Saudi), hal tersebut terjadi sekitar tahun 1479 Masehi.

Berikut beberapa nama Wali Songo, yang memiliki nasab jurriyah Nabi Muhamamd SAW beserta urutan silsilahnya:

Silsilah
Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Al-Huseini
(Sunan Gunung Jati “Wali Songo”)
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali’ Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Al-Huseini
21. Ali Nurrul Alim Al-Huseini
22. Syarif Abdullah Al-Huseini (Sultan Mesir)
23. Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Al-Huseini

Silsilah
Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini
(Sunan Ampel Denta “Wali Songo”)
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali’ Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini
21. Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini
22. Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta “Wali Songo”)

Silsilah
Syekh Muhammad Mual Yakin Al-Huseini
(Sunan Giri “Wali Songo”)
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali’ Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini
21. Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini
22. Sayyid Maulana Ishak Al-Huseini
23. Sayyid Muhammad Mual Yakin Al-Huseini (Sunan Giri “Wali Songo”)

Silsilah
Syekh Ibrahim Al-Huseini
(Sunan Bonang “Wali Songo”)
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali’ Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini
21. Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini
22. Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta “Wali Songo”)
23. Sayyid Ibrahim Al-Huseini (Sunan Bonang “Wali Songo”)

Silsilah
Syekh Hashim Al-Huseini
(Sunan Drajat “Wali Songo”)
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali’ Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini
21. Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini
22. Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta “Wali Songo”)
23. Sayyid Hasim Al-Huseini (Sunan Drajat “Wali Songo”)

Silsilah
Syekh Zainal Abidin Al-Huseini
(Sunan Demak “Wali Songo”)
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali’ Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini
21. Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini
22. Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta “Wali Songo”)
23. Sayyid Zainal Abidin Al-Huseini (Sunan Demak “Wali Songo”)

Silsilah
Syekh Jafar Sadiq Al-Huseini
(Sunan Kudus “Wali Songo”)
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali’ Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini
21. Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini
22. Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta “Wali Songo”)
23. Sayyid Jafar Sadiq Al-Huseini (Sunan Demak “Wali Songo”)

Manaqib Al-Habib Umar bin Hafizh

Beliau ialah Habib Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abdullah putera dari Abi Bakr putera dari Aidarus putera dari Hussein putera dari Syeikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari Abdullah putera dari Abdul Rahman putera dari Abdullah putera dari Syeikh Abdul Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Dawilah putera dari Ali putera dari Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari Ali putera dari Muhammad Shahib Mirbat putera dari Ali Khali Qasam putera dari Alawi putera dari Muhammad putera dari Alawi putera dari Ubaidillah putera dari Imam al-Muhajir Ahmad putera dari Isa putera dari Muhammad putera dari Ali al-Uraidi putera dari Ja’far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari Ali Zainal Abidin putera dari Hussein sang cucu lelaki, putera dari pasangan Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah az-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w..

Beliau dilahirkan di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim.

Ayahnya ialah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran Islam dan pengajaran hukum suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua datuk beliau, Habib Salim bin Hafiz dan Habib Hafiz bin Abdullah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi Habib Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.

Beliau telah mampu menghafal al-Quran pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadis, bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin Alawi bin Shihab dan Syeikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan zikir.
Namun secara tragis, ketika Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk solat Jumaat, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahawa tanggungjawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang dakwah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid.

Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, dia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk majlis-majlis dan dakwah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal al-Quran dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.

Dia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.

Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang mulia Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Syafie, Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya dia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Dia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang dakwah.

Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan serban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w..
Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan dakwah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agungTak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan RasulNya s.a.w. dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni Habib Ahmad Mashur al-Haddad dan Habib Attas al-Habshi.

Sejak itulah nama Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikeranakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopularan dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan.
tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.

Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman.

Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan.

Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis.

Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.
Habib Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.

Manaqib Syech Abu Hasan Bag.1

Selasa, Maret 23, 2010 | diposkan oleh Fatal muntadzor |

Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili adalah seorang wali quthub yang besar, yang menjadi kembangnya jagat serta tentramnya negeri, ilmu dan wasiatnya termasuk hizib-hizibnya seperti hizib nasor dan lain-lain itu selalu menjadi ketentraman hati bagi para pengikutnya dan para wali, juga menjadi bekalnya para muslimin yang telah merasakan nikmatnya menghambakan diri kepada Alloh dzat yang maha kuasa.

Maka di sini perlu saya sampaikan dengan maksud mudah-mudahan saya dan para pembaca juga para pendengar bisa menjadi orang yang bila mendengar perkara dan keterangan-keterangan baik, bisa meniru, tetapi bila mendengar perkara dan keterangan-keterangan jelek, bisa dengan cepat meninggalkannya. Amin Ya Robbal alamin.
Yang perlu saya sampaikan di sini ialah :
1. Bab kelahiran dan kematiannya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
2. Bab nasab dan silsilahnya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
3. Bab sifat-sifatnya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
4. Bab karomah-karomahnya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
5. Bab guru-gurunya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
6. Bab qoul-qoulnya (perkataan-perkataannya) Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili

(BAB I)
Lahir dan wafatnya Syaikh Abi Chasan r.a
Imam Syadzili itu dilahirkan di kota Syadilah yaitu suatu desa di daerah gimaroh, Afrika bagian barat tahun 593 Hijriah.

Dan ketika beliau berumur 6 tahun pergi ke negara tunis, dan bertepatan saat itu krisis, sehingga banyak di jalan-jalan orang-orang yang kesakitan dan kelaparan. Maka dengan kebaikan dan rasa belas kasihannya beliau berkata : ”umpama saya punya uang, pasti akan ku belikan roti untuk orang-orang yang kelaparan. Maka kemudian Alloh menguji beliau dengan memenuhi uang di kantong beliau dari alam ghoib, dan diperintahkan untuk membelikan roti dengan yang tersebut. Maka kemudian secepatnya beliau membeli roti, kemudian membagikannya pada orang-orang yang kelaparan tersebut, sehingga semuanya kenyang. Dan setelah itu beliau secepatnya pergi ke masjid, sebab saat itu bertepatan hari Jum’at. Dan ketika sampai di masjid lalu sholat sunnah, kemudian duduk i’tikaf. Dan waktu belum lama duduknya, tiba-tiba datang orang laki-laki yang berwibawa tingkah lakunya, mengucapkan salam pada beliau, dan laki-laki tersebut memberi tahu, bahwa namanya Ahmad Hidir dan mengatakan bahwa dirinya datang kesini diperintah untuk menetapkan iman Syadzili menjadi wali Agung, karena imam Syadzili mempunyai akhlak yang Agung dan mulya. Ketika selesai sholat Jum’at imam Syadzili mencari Nabi Hidir tapi tak menemukannya, maka kemudian imam Syadzili pergi kehadapan Syaikh Abi Sa’id Al-baji, ketika sampai dihadapannya, kemudian Syaikh Abi Syaid berkata pada Syaikh Abi Chasan tentang apa yang ada pada perjalanan Syaikh Abi Chasan, tentang membelinya roti dengan uang dari alam ghoib, dan tentang pertemuannya dengan Nabi Hidir, tentang ucapan salamnya dan tentang pemberitahuan namanya dan tentang pemberitahuan Nabi Hidir bahwa kedatangannya diperintahkan untuk menetapkan Syaikh Abi Chasan sebagai wali Agung. Setelah Syaikh Abi Chasan mendengar seperti itu beliau sangat gembira karena merasa sudah sampai apa yang dikehendaki. Maka kemudian beliau tetap tinggal berguru dihadapan Syaikh Abi Sa’id beberapa tahun, sehingga melaksanakan haji beberapa kali bersamanya.

Setelah Syaikh Abi Chasan menjadi alim dan merasa cukup berguru dengan dohirnya ilmu syari’at, kemudian pamit pindah ke negara irak. Syaikh Abi Chasan memulai datang ke rumah Syaikh Abil Fath Al-wasithi. Beliau adalah gurunya negeri barat daerah mesir dan menjadi guru torikot di saat itu. Dan ketika Syaikh Abi Chasan menjelaskan tujuan kedatangannya, Syaikh Abil Fath berkata : ”bahwa wali quthub yang dicarinya tak ada di tanah irak, tapi ada di negara bagian barat yaitu di negrinya Syaikh Abi Chasan sendiri, dan Syaikh Abil Fath juga memberi isyaroh bahwa wali quthub yang dicarinya ada di atas suatu gunung. Maka berangkatlah imam Syadzili menuju gunung yang di isyarohkan tersebut, setelah sampai di bawah gunung, lalu beliau siap-siap untuk mengagungkan wali quthub tersebut, lalu mandi di sumberan air yang ada di bawah gunung. Ketika Syaikh Abi Chasan mau berangkat kehadapan wali quthub, tiba-tiba sebelum Syaikh Abi Chasan mengangkat kakinya, justru wali quthub tersebut menjemput datang ke tempat Syaikh Abi Chasan mandi, dan berkata : ”sesungguhnya Rosululloh saw telah memberi kabar kepadaku bahwa Syaikh Abi Chasan akan datang padaku. Dan Rosululloh saw perintah padaku untuk mendidik Syaikh Abi Chasan. Maka ketika Syaikh Abi Chasan cukup ilmunya dari wali quthub tersebut, maka Syaikh Abi Chasan diperintah untuk kembali ke asal negerinya yaitu Syadzila. Dan dikatakan : ”sesungguhnya dirinya akan disebut-sebut dengan nama Syadzili dan akan menjadi wali quthub di negara Mesir. Kemudian Syaikh Abi Chasan kembali ke desa Syadzili.

Ketika telah berumur 19 tahun, Syaikh Abi Chasan mimpi bertemu dengan Rosululloh saw dan diperintahkan untuk hijroh (pindah) ke Mesir dan dikatakan : bahwa dirinya akan diberi 70 karomah di dalam toriqohnya dan diberi 40 murid dari golongan wali-wali siddiqin, dan ketika Syaikh Abi Chasan datang dinegara Mesir tersebut ketepatan saat wafatnya Syaikh Abi Hajjaj al aqshory sebagai pemegang wali quthub di negara Mesir yaitu malam nisfu sya’ban th. 612 H, dan di saat itu juga Syaikh Abi Chasan dijadikan pemegang wali quthub di negara Mesir sebagai ganti Syaikh Abi Hajjaj al aqshory RA.

Dan Syaikh Abi Chasan itu ketika sampai dinegara Mesir dan menetap disana yaitu tahun 612 H beliau menyebarkan dan mengajarkan ilmu hakikot sehingga banyak sekali orang-orang besar dari para ulama dan auliya yang masuk dalam jamaah beliau dan mengambil berkah dengan bay’at kepada beliau seperti shulton ulama Syaikh Izzudin bin Abdi salam dan Syaikh Islam misrol mahrusah dan golongan ushfur dan Syaikh Tanbihudin dan guru ahli hadits Syaikh Abdul ’Adzim Al mundziri dan Syaikh Ibnu Sholah dan Syaikh Ibnu hajib dan Syaikh Muhyidin Ibnu Shuroqoh dan Syaikh Alimin dan yang lainnya. Sehingga sampai 40 orang dari golongan Shidiqin.
Dan Syaikh Abi Chasan r.a itu adalah dari golongan wali yang agung dari kesabarannya dari beberapa macam cobaan. Sebagian dari cobaan beliau ialah sesungguhnya ahli negara beliau menghukumi beliau kafir zindiq, sehingga mereka mengusir beliau beserta jamaah beliau dari negara magrib. Kemudian mereka menulis surat kepada perwakilan Iskandariyah bahwa sesungguhnya akan datang kepada kalian semua golongan kafir zindiq bangsa magrobiy maka takutlah berkumpul dengan mereka, maka setelah Syaikh Abi Chasan datang didaerah Iskandariyah dan beliau menemui mereka maka mereka mencela beliau kemudian mereka melaporkan beliau kepada raja Iskandariyah. Jadi beliau tak henti-henti dalam kesakitan-kesakitan sampai-sampai ketika beliau pergi ibadah haji dengan para manusia dalam beberapa tahun terputus ibadah haji dengan para manusia dalam beberapa tahun terputus dari banyaknya pembegal-pembegal, maka beliau tetap sabar, kemudian para manusia itu memuji beliau.
Dan Syaikh Abi Chasan r.a ketika telah berusia 63 tahun beliau hendak pergi ibadah haji maka ketika sampai ditanah lapangnya ’Idzab, beliau wasiat kepada murid-muridnya supaya menghafalkan do’a hizib bacher dan berwasiat bahwa sesungguhnya Syaikh Imam Abil Abbas Al Mursiyyi r.a dengan kehendak Alloh dan ridho Alloh dijadikan pengganti beliau setelah wafatnya beliau kemudian Syaikh Abil Chasan mengambil air wudhu, kemudian sholat sunah, kemudian beliau berkata ”wahai tuhanku, wahai tuhanku kapan adanya pertemuan?” tak henti-henti sampai terbit fajar maka ketika berhenti mendekatlah putra beliau maka tiba-tiba beliau telah kembali ke rohmatullah. Dan banyak sekali para wali-wali besar yang datang mensholati jenazah beliau, dan mengambil berkah dengan mengiring jenazah beliau kemudian beliau dikuburkan ditempat itu (shohro’ idzab) dalam bulan dzulqo’dah tahun 656 H.

Syaikh Abil Chasan adalah bernama Sayid Abu Chasan Assyadiliy putranya Sayid Abdullah putranya Sayid Abdul Jabar, putranya Sayid Tamim, putranya Sayid Hurmuz putranya Sayid Khotim, putranya ……….., putranya Sayid Yusuf, putranya Sayid Yusa’, putranya Sayid Wardi, putranya Sayid Ali putranya Sayid Ahmad, putranya Sayid Muhammad, putranya Sayid ’Isa, putranya Sayid Idris Almutsanna, putranya Sayid Idris putranya Sayid Abdullah, putranya Sayidinaa Chasan Al mutsana, putranya Sayidina Chasan, putranya Sayidah Fatimah putrinya Nabi Muhammad saw.
Silsilahnya Syaikh Abil Chasan Assyadiliy dari guru dzikir Sirrilalah Syaikh Abi Abdullah Muhamad bin Charozin, beliau dari Syaikh Abi Muhamad Sholeh bin banshori Addakaaliy, beliau dari Syaikh Abi Madyan Al andalusi, beliau dari Syaikh Quthub Abi Ya’inna adar, beliau dari Syaikh Abi Muhammad Tannur, beliau dari Syaikh Abi Muhamad Abdul Jalil, beliau dari Syaikh Abil fadli Al Hindi Abdillah bin Abi Basyar, beliau dari Syaikh Abi Basyar Al Chasan Al Jauhari, beliau dari Syaikh Abi Ali Annuriy, beliau dari Syaikh Abil Chasan Assarry Assiqoty, beliau dari Syaikh Abi Mahfudz Ma’ruf bin firuzil Kurochi, beliau dari Syaikh Sulaiman dawud Atthi’i, beliau dari Syaikh Habib Al’ajamiy beliau dari Syaikh Abi Bakar bin Muhamad bin Sirin, beliau dari Sayidina Anas r.a, beliau dari Rosulullah saw.
Adapun silsilahnya Syaikh Abil Chasan Assyadiliy r.a dari guru dzikir jahri (silsilah Quthubiyah) ialah Syaikh Quthub Abdussalam, beliau mengambil toriqoh dari Al Quthbus Syarif Abdurrohman, beliau dari Quthub Taqilyuddin Al fuqoiri, beliau dari Quthub fahruddin, beliau dari Quthub Nuruddin beliau dari Quthub Tajuddin beliau dari Quthub Syamsuddin beliau dari Quthub Zinuddin, beliau dari Quthub Abi Ishak Ibrohim Al Bashori beliau dari Quthub Abil Qosim Ahmad Al Mazwani, beliau dari Quthub Sa’id, beliau dari Quthub Sa’du, beliau dari Quthub Abi Muhamad Fathusu’ud, beliau dari Quthub Al Fazwani, beliau dari Quthub Abi Muhamad Jabir, beliau dari Quthub Al Aqthob Sayidina Chasan, beliau dari Sayidina Ali r.a, beliau dari Rosulullah saw.

Menurut keterangan orang yang telah bertemu dengan Syaikh Abi Chasan Asyadzili, bahwa dia adalah seorang laki-laki yang agung, yang tinggi agak kurus, wajahnya wajah seorang pertapa, perawakannya menarik, bentuk wajahnya agak lonjong yang memancarkan sinar keimanan dan keihlasan, adapun kulitnya sawo matang (hitam kemerah-merahan), godeknya tipis, tangannya agak panjang dan jari-jarinya langsing. Menurut keterangan itu sudah menunjukkan seorang yang agung yang penuh Asror dan hikmah, yang sifat seperti ini sesuai dengan keterangan Abul Azaa’im bahwa diantara sifat imam Asyadzili itu ialah lincah dan gesit, ucapannya pelan dan jelas, masuk kehati, manis bahasanya, ringkas tutur katanya enak didengarkan dan mudah diterima, sehingga apa yang dikatakan punya pengertian yang dalam.

Syaikh Abi Chasan r.a itu sangat tawaddu’, dan sesungguhnya sebagian dari ketawadu’annya ialah : beliau tidak mau berbicara di suatu tempat perkumpulan, kecuali bila dikatakan pada beliau ”berbicaralah!” maka baru mau berbicara, dan perkataan beliau itu halus, dan bisa ditanggapi orang-orang besar dan orang-orang kecil karena kebijaksanaan beliau, dan keadilan beliau, dan karena beliau mengerti ilmu-ilmunya para ulama, dan sifat-sifatnya raja0raja dan kebijaksanaannya ahli hikmah.

Dan diceritakan : sesungguhnya ketika para auliya dan para ulama berkumpul di balai pertemuan manshuroh dekat tsugroh dimyathi : syaikh izzuddin bin Abdussalam dan syaikh makinuddin Al-asmari dan syaikh taqiyyuddin bin daqiqil’id dan yang lainnya, mereka semua telah duduk sedang membicarakan Risalah Qusyairiyah dan setiap mereka mengatakan pada beliau. Kami ingin mendengar suatu perkataan darimu tentang makna-makna pembinaan ini, maka beliau berkata ”kalian semua adalah para guru-guru besar Islam dan sungguh telah kalian bicarakan maka bagi saya sudah tidak ada tempat untuk membicarakan, maka mereka berkata pada beliau ”tidak”, tetapi tetap berbicaralah. Maka beliau memuja dan memuji Alloh dan mulai berbicara sesuatu. Setelah itu maka Syaikh Izzuddin bin Abdis Salam yang menjadi sultonnya para ulama berteriak dari dalam perkemahan dan keluar sambil memanggil-manggilnya dengan suara keras. Kesinilah semua! Untuk mendengar pembicaraan yang dekat dengan kebenaran dari hadapan Alloh, maka dengarkanlah!

Dan padahal Syaikh Izziddin itu sebelum berkumpul dengan Syaikh Abi Chasan dia ingkar dengan kaum para sufi dan dia berkata, ”apakah ada toriqoh yang selain Qur’an dan hadits? Dan setelah Syaikh Izzidin berkumpul dengan Syaikh Abi Chasan dan setelah salut dan pasrah dengan kaum sufi dia berkata. ”Sebagian dari tanda yang agung yang menunjukkan adanya golongan kaum ahli tasawuf itu ialah, mereka sudah bisa mendudukkan agung-agungnya dasar agama yaitu mereka bisa meletakkan kekuasaan karomah-karomah dan yang luar kebiasaan manusia sedangkan para ahli fiqih belum bisa menguasai apa-apa kecuali hanya baru bisa menjalani di jalan-jalannya kaum sufi, seperti yang kelihatan di lahirnya saja. Maka setelah Syaikh Izzuddin berkumpul dengan kaum sufi dan setelah merasakan toriqoh yang telah dirasakan kaum sufi dan telah bisa memotong besi dengan lembaran kertas, maka dia memuji-muji terhadap kaum sufi dengan pujian yang sangat.
Syaikh Abi Chasan itu adalah memiliki manakib (sejarah bagus yang khusus) yang agung sebagian dari manakibnya ialah beliau terbuka untuk bisa melihat buku catatan orang-orang yang akan masuk ke toriqoh beliau dan lebarnya buku catatan tersebut ialah sepanjang batas pandangan mata, dari para murid yang baiat langsung pada beliau dan para murid yang setelah beliau wafat sampai akhir zaman, dan seluruh murid-murid akan dibebaskan dari neraka dan Syaikh Abi Chasan r.a diberi Bisyaroh (bebungah) sesungguhnya orang yang melihat beliau dengan rasa cinta dan mengagungkan dia tak akan celaka. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah sesungguhnya beliau itu menjadi sebab keberuntungan para muridnya. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah sesungguhnya beliau berdo’a pada Alloh semoga Alloh mengangkat wali-wali quthub sampai akhir zaman diambilkan dari golongan toriqoh Syadziliyah. Dan Alloh mengijabah do’a beliau, maka wali quthub hingga akhir zaman akan diangkat dari golongan toriqoh beliau.

Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah Syaikh Abul Abbas berkata : ”ketika Alloh hendak menurunkan bencana secara umum maka golongan toriqoh syadzili diberi selamat dari bencana tersebut dengan karomahnya Syaikh Abil Chasan Asyadzili”. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah Syaikh Syamsudin Al Chanafi r.a berkata ”Para ahli toriqoh Syadzaliyah itu diberi keunggulan 3 perkata sedangkan yang lainnya tidak diberi, yang pertama ialah sesungguhnya para ahli toriqoh syadzaliyah itu sudah dipilij dari luh mahfudz, yang kedua ialah sesungguhnya bila mereka jadzab bisa pulih kembali seperti semula, yang ketiga ialah sesungguhnya wali quthub yang setelah Syaikh Abil Chasan Asyadzili diambilkan dari ahli toriqoh syadzaliyah”. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah sesungguhnya bila beliau mendidik murid-muridnya maka cukup sebentar saja sudah bisa menjadi futuh (terbuka). Dan sebagian dari manakibnya lagi ialah sesungguhnya Rosululloh saw telah mengizini siapa saja yang berdo’a kepada Alloh dengan tawasul kepada Syaikh Abil Chasan Asyadzili, karena Syaikah Abdullah berkata kepada Rosululloh saw tentang tingkah lakunya dari membaca sholawat kepada Rosululloh kemudian membaca Tarhibiyahnya (sifat kependetaan / menjauhi masyarakat) Syaikh Abil Chasan Asyadzili r.a kemudian berdo’a kepada Alloh dengan tawasul kepada Syaikh Abil Chasan Asyadzili, kemudian Syaikh Abdullah bertanya kepada Rosululloh ”Apakah yang seperti ini diizinkan atau tidak diizinkan?, maka Rosululloh menjawab ”Tingkah lakumu yang seperti ini diizini, sebab Syaikh Abi Chasan adalah juz (bagian) dari beberapa juz diriku dan barang siapa tawasul dengan juzku, itu seperti orang yang tawasul dengan diriku.

Syaikh Makinudin Al Asmuru r.a berkata ”Para guru toriqoh itu mengajak masyarakat duduk-duduk dipintu rohmatnya Alloh, tetapi Syaikh Abi Chasan Asyadzili mengajak masyarakat supaya masuk dihadapan Alloh.” Syaikh Abi Chasan Asyadzili berkata : ”sebagian dari nifaq ialah menampakkan dirinya melakukan sunah rosul saw, tetapi Alloh mengetahui dari orang itu bahwa ada maksud lainnya.” sebagian dari syirik yaitu menjadikan kekasih selain Alloh dan menjadikan penolong selain Alloh, Alloh telah berfirman ”kalian semua itu tidak mempunyai kekasih dan tidak ada yang menolong kalian semua selain Alloh apakah kalian semua tidak berangan-angan.”

Disebutkan dalam syarah qoridah seperti ini : ”sebagian dari mana aibnya Syaikh Abi Chasan Syadzili adalah beliau itu bila naik kendaraan para pembesarnya fuqoro’ dan ahli dunia mereka berjalan dikanan kiri beliau, bendera dikibarkan di atas kepala beliau, gelas minuman ditaruh dihadapannya dan perintah kepada pimpinan fuqoro’ supaya mengatakan : siapa yang menghendaki quthub supaya bertemu Syadzili. Dan Syaikh Abi Chasan r.a berkata : ”saya diberi oleh Alloh daftar sahabat-sahabat saya dan sahabat-sahabat saya sehingga hari kiamat, yang luasnya sejauh pandangan mata untuk membebaskan sahabat-sahabat saya itu dari neraka. Dan beliau juga berkata ”Andaikan tidak ada ikatan sariat dilisanku, saya bisa menceritakan kalian semua apa yang akan terjadi besok dan besoknya sampai hari kiamat.’

Syaikh Abi Chasan Asyadzili r.a itu adalah memiliki beberapa karomah yang banyak sekali yang tak ada yang bisa menghitungnya kecuali Alloh. Sebagian dari karomahnya ialah Alloh memberinya kunci setiap asma-asma sehingga andai setiap manusia dan jin dijadikan penulisnya pasti mereka kelelahan sedangkan ilmunya Syaikh Abil Chasan Asyadzili tidak akan habis. Sebagian dari karomahnya lagi ialah bagus budi pekertinya belas kasih pemurah, dari masa kecilnya, umur 6 tahun telah mengenyankan orang-orang kelaparan dari ahli negri Tunis dengan harta pemberian dari alam ghoib. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah beliau kedatangan Nabiyulloh Chidir A.S yang menetapkan beliau menjadi wali agung sejak masih anak-anak yang berusia 6 tahun. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesunguhnya beliau tahu dengan isi batinnya manusia. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau diberi bisa berbicara dengan malaikat dengan disaksikan dihadapan para murid-muridnya. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau bisa menjaga kepada para murid-muridnya walaupun berada ditempat yang jauh. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau bisa memperlihatkan ka’bah dengan jelas dari negara Mesir.
Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah beliau tak pernah putus selalu melihat lailatul Qodr dari sejak baligh sampai wafatnya, sehingga beliau berkata :

Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya setiap orang yang mati yang dikubur yang bersamaan dengan penguburan beliau maka diampuni. Seluruh dosa-dosanya. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah beliau itu mustajab do’anya. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau tak pernah terhalang sekejab matapun selalu melihat Rosululloh di dalam 40 th, karena Syaikh Abul Abbas Al Mursiyu r.a berkata ”Bahwa Syaikh Abil Chasan berkata : dimasa 40 tahun saya tidak pernah terhalang dari melihat Rosululloh dan bila saya terhalang sekejab matapun maka saya tidak menganggap terhadap diri saya dari golongan orang-orang Islam (yang sempurna), dan karomah yang seperti ini adalah dari agung-agungnya karomah.

Sebagian dari karomahnya Syaikh Abi Chasan Asyadzili ialah ketika beliau datang di negara maghrib orang-orang kirim surat melaporkan kepada raja (Mesir) dengan laporan kejelekan Abi Chasan, kemudian beliau keluar dari Iskandariyah menghadap raja (Mesir), maka kemudian raja mempercayai kebenaran Syaikh Abi Chasan. Kemudian orang-orang tersebut melaporkan lagi kepada raja bahwa Syaikh Abi Chasan itu Kaimawy (pengusaha mas dari jin) maka hilangkah kepercayaan raja kepada beliau, ketepan saat itu sesungguhnya seorang penjaga rumahnya raja melakukan suatu perkara yang mengharuskan dihukum mati, maka penjaga tersebut ketakutan menghadapi raja dan lari ke Iskandariyah maka Syaikh Abi Chasan melindunginya, dan kemudian raja mengutus utusan untuk menangkap orang tersebut dan berkata kasar terhadap Syaikh Abi Chasan ”kau merusak budakku” lalu Syaikh Abi Chasan menjawab : saya adalah orang yang membuat kebaikan bukan kerusakan. Kemudian Syaikh Abi Chasan mengeluarkan budak tersebut dari persembunyiannya dan berkata : kencinglah diatas batu ini, maka ketika kencing dibatu tersebut. Seketika berubahlah menjadi mas kira-kira 5 qinthor (+ 5000 dinar), kemudian Syaih Abi Chasan berkata : ambilah mas ini berikan untuk raja supaya ditaruh di baitul maal (gudang negara), dan ketika sampai pada raja, raja kembali mempercayai Syaikh Abi Chasan dan meninggalkan tuduhan yang jelek. Lalu raja datang ziarah kepada Syaikh Abi Chasan dan minta kepada Syaikh Abi Chasan supaya budaknya kencing di atas batu yang dikehendaki raja, lalu Syaih Abi Chasan berkata : yang pokok itu adalah izin Alloh, dan selanjutnya raja selalu percaya terhadap Syaikh Abi Chasan dan menawarkan kepada Syaikh Abi Chasan harta dan jaminan-jaminan, tetapi Syaikh Abi Chasan menolaknya, dan beliau berkata : apakah seseorang yang pelayannya bisa kencing di atas batu kemudian menjadi emas dengan izin Alloh itu membutuhkan bantuan mahluq?

Sebagian dari karomahnya Syaikh Abi Chasan Asyadzily ialah : sesungguhnya beliau pernah suatu hari berbicara masalah zuhud, dan di majlis itu ada seorang faqir yang pakaiannya compang-camping, sedangkan Syaikh Abi Chasan berpakaian yang bagus, maka orang faqir tersebut berkata dalam hatinya ”Bagaimana Syaikh Abi Chasan ini? Beliau berbicara masalah zuhud sedangkan pakaiannya bagusnya seperti ini, sayalah orang yang zuhud terhadap dunia”. Kemudian Syaikh Abi Chasan menoleh melihat orang faqir tersebut, dan berkata : pakaianmu itu pakaian cinta dunia, karena pakaianmu itu memanggil masyarakat bahwa kamu itu orang faqir (mempunyai kedudukan dihadapat Alloh), tetapi pakaianku ini memanggil masyarakat bila saya orang kaya, orang yang cukup, dan menjaga dirinya (jangan sampai dianggap orang yang zuhud). Kemudian orang faqir tersebut berdiri dihadapan orang banyak dan berkata : Demi Alloh saya adalah orang yang berbicara dalam hatiku bahwa aku adalah orang zuhud (meninggalkan cinta dunia), maka aku mohon ampun kepada Alloh dan taubat pada Alloh. Kemudian Syaikh Abi Chasan memberi pakaian baru kepada orang faqir tersebut dan menunjukkan orang faqir tersebut supaya berguru terhadap orang yang disebut ibnu Dahhan dan beliau berkata : mudah-mudahan Alloh menjadikan hatinya orang yang bagus-bagus belas kasih kepadamu, dan mudah-mudahan Alloh memberi barokah terhadap apa yang telah diberikan kepadamu, dan mengakhiri hidupmu nanti dengan bagus.
Diantara karomahnya lagi ialah beliau pernah berkata : ”pada toriqoh yang saya jalankan ini, saya membawa ilmu yang belum pernah dibawa orang-orang sebelumku, dan juga pernah berkata : besok di Mesir akan muncul seorang laki-laki yang terkenal sebutannya Muhammad al hanafy, dipipi sebelah kanannya ada tai lalatnya, kulitnya putih kemerah-merahan, asalnya anak yatim yang faqir, akan menjadi kholifahku yang kelima setelahku, akan masyhur dizamannya dan mempunyai kedudukan yang luhur sekali.

Imam Syadzily itu bagaikan lautan di dalam ilmu-ilmu syari’ah dan ilmu alat-alatNya juga ilmu bathinnya syari’ah, karena beliau diberi ringkasan seluruh asma’-asma’ a’dhom warisan dari eyangnya yaitu rosululloh saw, dan oleh karena itu beliau pernah berkata : andaikata seluruh manusia dan jin dijadikan juru tulisku, pasti mereka kelelahan sedangkan ilmuku takkan habis.

Imam Syadzily itu pertama berguru mengambil nasab pada Syaikh Abdissalam al masyisy, kemudian tak mengambil nasab pada siapapun, tetapi justru mengambil nasab berguru pada sepuluh lautan, yang lima di langit dan yang lima di bumi. Maka dari itu ketika ditanya ”siapakah guru anda? Beliau menjawab : pertama yang menjadi nasab guruku ialah : Syaikh Abdul Salam, adapun sekarang saya tak mengambil nasab dari seorangpun, tetapi saya telah berenang (menciduk) ilmu dari 10 lautan yaitu 1- nabi Muhammad saw. 2- S. Abu Bakar ra. 3- S. Umar ra. 4- S. Utsman ra. 5- S. Ali ra. 6- Malaikat Jibril as. 7- M. Mikail as. 8- M. Isrofil as. 9- M. Izrooil as. 10- Ruhul Akbar solawatulloh wasalamushu alaihim ajmaiin.

Imam Syadzili itu adalah lebih ma’rifat-ma’rifatnya orang yang ada pada saat itu maka dari itu Syaikh Takiyuddin bin daqiq Al-’id ra berkata aku belum pernah melihat orang yang lebih ma’rifat pada Alloh dari pada Syaikh Abi Chasan Asyadzili beliau itu adalah orang yang luas dalam ilmu Hakikotnya. Sebagian yang menunjukkan bahwa beliau memiliki ilmu Hakikot Yang Agung ialah beliau pernah berkata : saya pernah diberi kabar gembira seperti ini. ”Hai Ali tak ada majlis ilmu fiqih yang lebih agung di atas bumi ini dari pada majlisnya Syaikh Izziddin Abdissalam sebagai sulton ulama, dan tak ada majlis ilmu hadits yang agung di atas bumi ini dari pada majlisnya Syaikh Abdil A’dim Al-Mundiri, dan tak ada majlis ilmu hakikot yang agung di atas bumi ini dari pada majlismu.

Syaikh Abi Hasab Asyadzili pernah berkata : ”Saya bertemu Rosul lalu saya bertanya apa hakikinya mengikuti? Rosul menjawab : ”Yaitu melihat orang yang diikuti dalam segala tingkah, dan bersama dalam segalanya, dan ada di dalamnya setiap waktu apa saja. Dan Syaikh Abi Chasan Asyadili juga berkata jika kamu ingin benar dalam setiap ucapan maka perbanyaklah membaca surat : ”Qulhuwallahu Ahad dan jika kami ingin mudahnya rizki maka perbanyaklah membaca surat kul a’udu birobbil falaq dan jika kamu ingin selamat maka perbanyaklah membaca surat ”Qul a’udu birobbinnas. Wali quthub Robbani Syaikh Abdul Wahab Assa’roni berkata : sebagian ulama berkata paling sedikitnya memperbanyak bacaan ialah 70 kali setiap hari sampai 700 kali.

Syaikh Abi Chasan berkata : ”Lebih benar-benarnya ucapan ialah ucapan Laailaaha illallaah dalam keadaan bersih. Dan Syaikh Abi Chasan juga berkata jika kamu ingin hatimu tidak jelek, tidak menemui kesusahan dan perihatin, dan tidak terus-menerus ke tempat dosa, maka perbanyaklah membaca : ”Subhaanallaahi wa bihamdihi subhanallaahil adhiim laailaahaillahuwa. Allaahumma tsabbit ’ilma haa fi qolbii wagfirlil dzanbii.

Syaikh Abi Chasan R.A berkata : kamu jangan memilih suatu perkara, dan pilihlah perkara yang tidak dipilih. Dan Syaikh Abi Chasan juga berkata : para wali itu tidak butuh segala sesuatu, cukup dengan mempunyai Alloh, dan mereka cukup bersama Alloh tanpa pemikiran dan pilihan lain. Sedangkan para orang ’alim mempunyai pemikiran dan pilihan untuk kebaikan dan pembicaraan untuk mendapatkan faidah-faidah.

Syaikh Abi Chasan Asyadzili R.A berkata ada satu perkara yang bisa menghancurkan beberapa amal, dan kebanyakan manusia tidak mengingatnya yaitu bencinya hamba pada qodo’ Alloh (ketentuan Alloh), dan juga ada dua kebaikan yang menjadikan tidak akan berbahaya dengan banyaknya kejelekan yaitu rido dengan qodo’ Alloh dan memaafkan hamba Alloh dan beliau juga berkata seorang hamba tak akan bisa menghindar dari neraka kecuali mencegah anggota badannya dari maksiat pada Alloh dan menghiasi dirinya dengan menjaga amanat Alloh dan membuka hatinya untuk melihat Alloh dan membuka lisan dan batinnya untuk munajat pada Alloh dan menghilangkan hijab (tirai) diantara dirinya dan diantara sifat-sifat Alloh dan mensaksikan dirinya terhadap ruh-ruh kalimat Alloh kepada Alloh.

Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”ketika dzikir terasa berat dilisanmu dan banyak sia-sianya dalam ucapanmu dan tergelarnya anggota badan dalam syahwatmu dan buntunya pintu pemikiran dalam kebaikanmu maka ketahuilah sesungguhnya yang seperti itu dari besarnya dosamu atau adanya irodah (kehendak) munafik di dalam hatimu dan tidak ada jalan untukmu kecuali satu jalan yaitu taubat dan berbuat baik, dan mohon perlindungan Alloh, dan ihlas di dalam agama Alloh. Apakah kau tidak mendengarkan firmah Alloh : ”kecuali orang-orang yang mau bertaubat dan berbuat baik, minta perlindungan kepada Alloh dan membersihkan agama mereka, maka mereka itulah orang-orang yang bisa bersama-sama dengan orang-orang mukmin”. Dan Alloh tidak mengatakan dengan perkataan : sebagian dari golongan orang-orang mukmin maka berangan-anganlah dengan perkara ini jika kamu menjadi orang pandai”.

Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”Apabila ilmu kasafmu (terbukanya hati) bertentangan dengan qur’an hadits, maka berpeganglah dengan qur’an dan hadits dan tinggalkan saja ilmu kasafmu dan katakan pada dirimu : Sesungguhnya Alloh menjamin menjaga saya di dalam qur’an hadits, dan tidak menjamin (tidak bertanggung jawab) dari arah ilmu kasaf, ilmu ilham (bisikan), ilmu musyahadah (melihat perkara goib), dan juga para ulama sepakat sebaiknya tidak mengamalkan ilmu kasaf, ilmu ilham, ilmu musyahadah kecuali setelah ditinjau sesuai qur’an hadits”.

Dan beliau juga berkata : ”Bila ada seseorang menghalangimu menuju Alloh maka tetap teguhlah dan mantaplah, Alloh telah berfirman : Hai orang-orang yang beriman bila kalian bertemu menghadapi suatu qoum (golongan) maka tetap teguhlah dan berdzikirlah (berdo’alah) pada Alloh dengan banyak supaya kalian semua beruntung”.
Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”setiap ilmu yang tergerak dalam hati yang digerakkan oleh nafsu dan nafsu merasa lezat dengan ilmu tersebut maka buanglah walaupun ilmu itu haq dan ambilah ilmunya Alloh yang diberikan Rosululloh kemudian ikutlah kepada Rosululloh dan kepada kholifah, kepada para sahabat, dan para tabi’in dan para imam-imam yang mendapat hidayah yang menjauhkan kehendak dan perintah hawa nafsu. Maka kamu akan selamat dari beberapa keraguan dan beberapa prasangka dan beberapa penarik dusta yang menyesatkan yang menyimpang dari hidayah dan haqiqinya hidayah. Dan beliau juga berkata termasuk sebagian dari lebih menjaganya penjaga dari terjerumus ke dalam cobaan terhadap ma’siat dan dosa. Adalah istigfar, Alloh telah berfirman : Dan tidaklah Alloh itu menyiksa mereka (ahli Makkah) sedangkan mereka lagi mohon ampun.”

Syaikh Abil Chasan r.a berkata : ”Bila kamu majlisan (duduk-duduk) dengan para ulama maka janganlah kamu membicarakan kepada mereka kecuali ilmu yang dinukil dari ketentuan qur’an dan riwayat-riwayat hadits yang shohih, adakalanya berfaidah untuk mereka atau kamu yang mengambil faidah dari mereka yang seperti itu adalah keuntungan yang besar dari mereka. Dan jika kamu majlisan dengan ahli ibadah dan ahli zuhud (ahli bertapa) maka duduk-duduklah ke dalam mereka dengan apa yang mereka anggap baik dan buatlah mudah atas masalah-masalah yang mereka anggap sulit dan berilah mereka rasa ma’rifat yang mereka belum merasakannya. Dan jika kamu majlisan dengan ahli shidiqin maka, pisahkanlah dengan apa yang kau ketahui maka kamu akan mendapat ilmu yang tetap. Dan Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”termasuk sulit-sulitnya manusia ialah orang yang senang bisa orang-orang tunduk dengan mu’amalahnya sehingga orang-orang tersebut sesuai dengan segala yang ia inginkan sedangkan dirinya sendiri tidak bisa menemukan kehendak nafsunya sendiri, maka carilah nafsumu dengan memuliakan manusia dan jangan kau mencari manusia agar mereka memuliakanmu, dan jangan kau memaksa kecuali terhadap nafsumu sendiri.”

Syaikh Abil Chasan r.a berkata : ”saya telah menghentikan manfaat dari saya untuk diri saya sendiri, maka bagaimana tidak bila saya memutuskan manfaat orang lain untuk diri saya. Dan saya mengharapkan kepada Alloh untuk kemanfaatan orang lain maka bagaimana tidak bila saya mengharap kepada Alloh untuk kemanfaatan diri saya sendiri. Syaikh Abil Chasan Asyadzili juga berkata : janganlah kau cenderung dengan ilmu dan jangan kepada kekuatan tetapi cenderunglah kepada Alloh. Dan jangan sampai kau menyebarkan ilmumu hanya agar manusia membenarkan dirimu tapi sebarlah ilmumu agar menjadi lantaran Alloh membenarkanmu. Dan dari perkataan beliu tersebut di atas sudah cukup untukmu bila Syaikh Abil Chasan Syadzili itu adalah dari golongan orang-orang ahli ma’rifat, ahli zuhud, ahli membersihkan diri, ahli fiqih (pandai) dalam agama, ahli muroqobah, dan menjadi gurunya orang-orang besar.”

Syaikh Abil Chasan r.a pernah berkata kepada para sahabatnya : ”makanlah dari makanan yang enak-enak dan minumlah dengan minuman lebih lezat lebih segar dan tidurlah dikasur-kasur yang empuk dan pakailah pakaian yang lebih halus, lebih bagus, maka sesungguhnya diantara kalian semua ketika melakukan seperti itu dan mengucapkan Alhamdulillah maka seluruh anggota badan bisa menerima untuk bersyukur. Berbeda dengan makan makanan jelek, roti kasar dengan garam dan memakai pakaian kasar yang jelek dan tidur di atas bumi dan minum dengan air panasnya matahari dan setelah itu mengucapkan Alhamdulillah maka sesungguhnya ucapannya itu tercampur dengan rasa terpaksa dan kurang ikhlas (gerundel) dan sebagian dari rasa benci dengan takdirnya Alloh. Dan sesungguhnya apabila kalian melihat dengan mata hati sudah pasti bisa menemukan kejengkelan dan rasa kebencian tersebut yang kembali kepada dosa bagi orang-orang yang mengambil kenikmatan perkara dunia dengan yakin. Maka sesungguhnya yang dinamakan orang yang mengambil kenikmatan perkara dunia itu ialah melakukan perkara yang telah diwenangkan oleh Alloh swt dan barang siapa punya rasa jengkel dan benci maka sungguh berarti telah melakukan perkara yang diharamkan oleh Alloh swt. Ucapakan seperti ini adalah sebagian dari tanda bahwa Syaikh Abil Chasan r.a sebagian dari golongan ahli muroqobah (mengintai & meneliti) terhadap tingkah lakunya hati dan termasuk sebagian dari golongan ahli syukur.Beliau juga berkata : ”murid toriqoh tak akan meningkat sama sekali kecuali setelah jelas benar-benar cinta kepada Alloh SWT, dan murid tak akan bisa benar-benar cinta Alloh sehingga benci dunia, dan ahli dunia, dan zuhud dengan kenikmatan dunia dan akhirat. Dan beliau berkata lagi : setiap murid toriqoh tentu ada rasa cinta dunia, maka Alloh akan membencinya menurut banyak sedikitnya di dalam cintanya terhadap dunia. Maka murid supaya membuang dunia lepas dari tangannya dan dari hatinya ketika awal masuknya di dalam toriqoh, dan ketika ada murid meminta talqin (pengajaran secara berhadap-hadapan) dengan guru atau mengambil janji terhadap guru sedangkan dia cenderung kepada dunia, maka dia harus kembali dari mana asal tempat datangnya, dan toriqohnya akan membuang dirinya. Maka sesungguhnya paling sedikitnya sebagai dasar murid masuk toriqoh yaitu zuhud di dalam bab dunia, maka barang siapa tidak zuhud di dalam bab dunia maka tidak sah baginya dibangun sesuatu diakhirat”.

Syaikh Abi Chasan Asyadzily pernah berkata : telapakku bisa di atas jidatnya para wali-wali :

Ada di (kalangan) toriqoh itu tidak ada karomah yang lebih besar daripada karomah (berupa) iman, dan manut pada sunah Nabi, siapa orangnya yang sudah diberi iman dan bisa manut pada sunah Nabi, kemudian menginginkan selain yang kedua tadi, (jelas) orang itu hamba yang berpura-pura dan ahli bohong.

Tidak ada dosa besar yang lebih besar dari pada dua perkara : (yaitu) cinta dunia sampai memilihnya (artinya menganggap lebih penting dari pada akhirat) dan terus menerus (berada di dalam) kebodohan sampai ridho. Karena cinta dunia itu sumber setiap kesalahan dan terus menerus (berada di dalam) kebodohan itu sumbernya maksiat.

Kamu jangan terlalu meninggalkan dunia. Yang bisa menjadi sebab gelapnya dunia (menyelimuti harimu) dan menjadi lemah anggota badanmu. Yang akhirnya kamu kembali merangkul dunia setelah keluar dari dunia dengan Himmahmu (cita-citamu) atau fikiranmu atau keinginan atau gerakmu.

Kamu supaya menetapkan perkara lima yang membersihkan badanmu yang ada dalam perkataan yaitu : ”subhaanallaahi wal hamdulullaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru wa laa hau la wa laa quwata illaa billaahi”. Dan perkara lima yang membersihkan badanmu yang ada dalam pekerjaan yaitu solat lima waktu dan membersihkan badan dari rasa memiliki daya dan kekuatan.

Tandanya orang yang mendapat kebahagiaan di akhirat, yaitu : orang yang tahu kebenaran lalu mau tawadu’ pada orang yang ahli kebenaran walaupun melakukan kejelekan apa saja. Dan tandanya orang yang celaka di akhirat yaitu orang yang menentang kebenaran dan menyombongi pada orang yang ahli kebenaran walaupun melakukan kebaikan apa saja.
Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”ichlas yaitu nur dari Alloh yang diletakkan dihati hamba Alloh yang beriman, kemudian nur ikhlas tersebut bercabang menjadi 4 kehendak :
1. Kehendak ikhlas di dalam beramal karena mengagungkan Alloh
2. Kehendak ikhlas karena mengagungkan perintah Alloh
3. Kehendak ikhlas karena mencari pahala dari Alloh
4. Kehendak ikhlas di dalam membersihkan amal dari yang berbau mencari selain Alloh, dan tidak menjaga selain karena Alloh.

Dan Syaikh Abil Chasan juga berkata : ”karomahnya orang-orang sidikin (orang-orang yang bersungguh dalam beriman kepada Alloh) itu ada 5 :
1. Langgengnya dzikir dan ta’at (ibadah kepada Alloh) dengan syarat istiqomah.
2. Zuhud (meninggalkan cinta dunia), senang mengambil sedikit dari dunia.
3. Memperbarui keyakinannya ketika ada macam-macam perkara yang menghalang-halangi kesungguhannya dalam beriman.
4. Resah bila berkumpul dengan orang yang ahli manfaat dan tenang bila berkumpul dengan orang yang ahli madhorot.
5. Apa yang dzohir pada dirinya seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan lain-lain
Yang tidak berlaku di dalam kebiasaan manusia, kejadian yang seperti ini ada waktunya dan ada pada orang yang tertentu dan ada tempat tertentu. Jadi barang siapa yang mencari karomah yang ada dilain waktunya jarang .

Sekali bisa menemukan karomah badan yang seperti itu. Ringkasnya orang yang mencari karomah tidak akan diberi karomah, begitu juga orang yang hatinya membicarakan karimah dan usaha mencari karomah, yang diberi karomah badan itu khusus orang yang tidak melihat dirinya dan tidak melihat amal. Tetapi orang yang sibuk melihat apa yang disukai Alloh selalu melihat anugrahnya Alloh putus dari melihat dirinya dan amalnya.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Ada perkara lima yang barang siapa tidak ketempatan sesuatu dari perkara lima itu, maka dia tidak mempunyai iman :
1. Membenarkan perkaranya Alloh
2. Ridho kepada qodhonya Alloh
3. Pasrah kepada perkaranya Alloh
4. Tawakal kepada Alloh
5. Sabar ketika awalnya menghadapi bala’nya Alloh (bencana dari Alloh)

Syaikh Abil Chasan berkata : ”yang dinamakan ma’rifat yaitu : perkara yang mengajukan dirimu meninggalkan dari selain Alloh dan mengembalikan dirimu kepada Alloh”.
Syaikh Abil Chasan berkata : ”Ada dua perkara yang memudahkan melewati jalan menuju Alloh yaitu :
1. Ma’rifat kepada Alloh
2. Cinta kepada Alloh
Cintamu kepada suatu perkara itu menjadikan buta matamu dan tuli telingamu”

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Bila kamu berkehendak selalu langgeng melihat Alloh dengan mata keimanan dan keyakinan, kamu supaya selalu mensyukuri nikmat Alloh, selalu ridho kepada qodhonya Alloh, dalam al-qur’an telah dikatakan ”apa saja nikmat yang ada pada diri kalian, itu semua dari Alloh, kemudian jika kau mengalami kemadhorotan, tentu kalian kembali minta pertolongan Alloh”.
Sebagian dari perkataan Syaikh Abil Chasan ialah : ”selalu tetaplah mohonlah ampun kepada Alloh walaupun tidak melakukan dosa dan ambillah ibarat dengan istigfarnya Rosululloh saw setelah menerima kabar gembira dari Alloh dan yakin dengan ampunan Alloh atas seluruh dosa yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Ya seperti ini untuk Rosululloh yang ma’sum (yang dijaga dari perbuatan dosa), yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali dan bersih dari dosa. Lalu bagaimana anggapanmu terhadap orang yang tidak sepi dari cela dan dosa sewaktu-waktu”.
Syaikh Abil Chasan berkata : ”Ada satu kelakuan baik yang bila seorang hamba mau melakukan, bisa menjadi pimpinan masyarakat yang ada di masanya, yaitu : berpaling dari dunia (hatinya tidak lekat dengan harta/kedudukan), dan menahan sakitnya hati dari orang yang ahli dunia”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Jika kamu hendak berhutang kepada orang lain supaya hatinya menghadap kepada Alloh, dan berhutang atas namanya Alloh (di dalam hatinya), karena setiap apa-apa yang dihutang oleh hamba atas namanya Alloh maka Alloh akan menanggung pembayarannya”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Barang siapa yang mengajak (masyarakat) kepada Alloh dengan selain apa yang diajarkan oleh Rosululloh maka orang itu ahli bid’ah”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Bila ada orang fakir (murid toriqoh) tidak selalu (ajek) datang sholat lima waktu di dalam berjamaah, tidak perlu kau urusi”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Jika kau menganggap bagus sebagian dari tingkah lakumu yang batin dan dzohir dan kamu kuatir hilangnya, maka supaya kamu membaca : ”masya Alloh Laa Quawwata illa billah”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Setiap karomah yang tidak dibarengi ridho dari Alloh, dan tidak dibarengi ridho orangnya yang karomah itu kepada Alloh, dan tidak dibarengi cintanya Alloh atau cintanya hamba kepada Alloh, orang yang mempunyai karomah tersebut dilulu oleh Alloh (istidroj) yang ditipu oleh syaithon, atau orang yang kurang sempurna, orang yang rusak berantakan”.

Syaikh Abi Chasan ra berkata : wali quthub itu memiliki 10 karomah, barang siapa mengaku memiliki karomah 10 ini atau sebagian dari 10 ini supaya diperlihatkan :
1. Bisa memberi bantuan yang berupa rohmat husus dan penjagaan yang husus dari Alloh.
2. Bisa memberi bantuan sebagai pengganti salah satu wiliyulloh dan pengganti quthub.
3. Bisa memberi bantuan dari malaikat yang menyangga arasy.
4. Dibuka hatinya dari haqiqinya dzat dan mengusai macam-macamnya sifat.
5. Diberi kemulyaan menetapkan dan memisahkan antara dua wujud.
6. Pisahnya keadaan awwal dari keadaan awwal dan apa yang berpisah dari awwal sampai ujungnya dan apa yang telah tetap pada keadaaan awwal.
7. Kemulyaan menghukumi apa yang ada pada sebelumnya awwal.
8. Hukumnya apa yang sebelum awwal.
9. Hukum bagi orang yang tadi mempunyai sifat sebelumnya dan sifat sesudahnya.
10. Ilmu badi’ yaitu ilmu yang meliputi seluruh ilmu dan seluruh yang diketahui, yang lahir dari sirr yang awal sampai ujungnya kemudian kembali kepada awal.
Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Barang siapa yang menghadap mahluq secara keseluruhan sebelum sampai pada tingkat kesempurnaan dirinya, tentu gugur dari perhatiannya Alloh, maka dari itu kalian semua supaya takut dengan penyakit yang besar ini, banyak sekali orang yang senang hatinya menghadapi masyarakat dan merasa puas sebab menjadi orang yang terkenal dan dicium tangannya oleh masyarakat, maka dari itu kalian semua supaya berpegang teguh dengan penjagaan Alloh menuju jalan yang lurus.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Penglihatan mata hati itu sama dengan penglihatan mata kepala, kejatuhan kotoran sedikit saja tidak bisa melihat walaupun tadi sampai buta, kemauan melakukan kejelekan sekali saja itu bisa mengotori pandangan mata hati dan bisa mengeruhkan fikiran dan kehendak (ma’riifat Alloh), dan bisa menghilangkan perbuatan baik sama sekali, melakukan kejelekan yang timbul dari suara hati tersebut, bisa membawa orang yang memiliki kelakuhan jelek itu dari bagian Islam, bila orangnya terus menerus melakukan kejelekan itu, Islam lepas dari orang itu satu bagian-satu bagian, bila sampai menggunjing dan memaki ulama’ dan orang-orang sholeh dan berkasih-kasihan dengan orang, dholim karena cinta dengan kedudukan dihadapan orang dholim tersebut, seluruh bagian-bagian Islam lepas dari orang itu. Kamu jangan sampai kena pengaruh oleh pakaian atau lagak orang yang seperti itu, karena orang yang seperti itu adalah tidak memiliki ruuh Islam, karena ruh Islam itu adalah cinta Alloh dan cinta Rosul Alloh dan cinta Ahirat dan cinta hamba Alloh yang sholih-sholih.

Syaikh Abi Chasan berkata :
Tidak ada taqwa bagi orang yang cinta dunia, yang memiliki taqwa itu hanya orang yang berpaling dari dunia.

Syaikh Abi Chasan berkata :
Jika kamu hendak melakukan suatu ’amal untuk dunia dan akhirot kamu supaya mengucap ”yaa qowiyyu yaa ’aziizu yaa ’aliimu yaa qodiiru yaa samii’u yaa bashiiru.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata : kau tadi akan merasa baunya kedudukan menjadi walinya Alloh bila tidak benci dunia dan tidak benci orang yang ahli dunia.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Setiap kebaikan yang tidak menimbulkan nuur atau ilmu disaat melakukan, itu jangan kau anggap kalau kebaikan itu ada pahalanya, dan setiap kelakuhan jelek yang menimbulkan rasa takut kepada Alloh dan kembali kepada Alloh, itu jangan kau anggap dosa yang berbahaya.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Hati-hati jangan sampai pandangan mu itu berhenti terhadap mahluq, tetapi kau supaya menghentikan pandanganmu terhadap kemanfaatan dan kemadhorotan meninggalkan memandang mahluq, karena seluruh kemanfaatan dan kemadhorotan itu tidak keluar dari mahluq. Kau supaya melihat seluruh kemanfaatan dan kemadhorotan itu keluar dari Alloh terhadap dirinya mahluq, dan kau hendaknya lari kepada Alloh dari mahluq dengan memperhatikan taqdir yang berjalan pada dirimu dan yang berjalan pada diri mahluq, atau taqdir yang memberikan manfaat untuk dirimu atau bermanfaat untuk mahluq, kau jangan sampai takut yang menjadi sebab kau lupa dari Alloh jika kau berbuat seperti itu (mengembalikan taqdir kepada mahluq), kau akan kerusakan.

Syaikh Abi Chasan berkata : Barang siapa meninggalkan ma’syiat pada anggota lahirnya dan membuang cinta dunia pada bathinnya dan selalu menjaga anggota lahirnya dan hatinya dari ma’syiat, orang itu akan menerima tambahan dari Tuhannya dan Alloh menugaskan malaikat yang menjaga orang itu dari hadapat Alloh, dan Alloh akan mengambil dan menarik orang itu pada setiap perkaranya ketika jatuh atau naik, tambahan yang akan diterima yaitu tambahan ilmu dan keyakinan dan kema’ripatan.

Syaikh Abi Chasan berkata : kau jangan menunda-nunda to’at pada sewaktu-waktu pada waktu yang lain maka kau akan disiksa sebab putusnya to’at itu atau sebab putusnya to’at lainnya atau putusnya to’at yang sama dengan to’at itu sebagai tebusan waktu yang kau sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada bagian to’atnya, maka kewajiban menghambakan diri atasmu itu menuntun dirimu dengan hukum ketuhanannya Alloh.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata : dalam menuju wusul kepada Alloh (sampai) itu tidak dengan sifat kependekatan (menjauh dari masyarakat), dan tidak dengan makan syair (makanan yang kasar), atau lebihan rontokan gandum, tetapi sesungguhnya jalan wusul kepada Alloh itu hanya dengan melaksanakan perintah Alloh dan yakin berada di bawah petunjuk Alloh, Alloh telah berfirman : ”Kami telah menjadikan mereka (bani israil) pimpinan masyarakat yang menunjukkan agama kami ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat-ayat kami.

Syaikh Abi Chasan berkata : berhati-hatilah jangan sampai kau terjerumus pada perbuatan maksiat satu kali setelah mengulangi lainnya, karena orang yang melanggar undang-undang Alloh itu dia adalah orang dholim, dan orang yang dholim itu tidak bisa menjadi imam (panutan). Barang siapa yang meninggalkan maksiat dan sabar menghadapi ujian Alloh dan yakin dengan janji-janji Alloh dan ancaman-ancaman Alloh maka dia itulah imam walaupun pengikutnya sedikit.

Syaikh Abi Chasan berkata : Bila Alloh menghina seorang hamba, apa yang menjadi kepentingan nafsunya orang tersebut dibuka oleh Alloh, dan apa yang menjadi aib dirinya dan agamanya (ibadahnya) di tutup oleh Alloh, maka orang yang seperti itu berbolak-balik bersenang-senang menuruti kesenangan hawa nafsunya sehingga menjadi kerusakan agamanya tanpa terasa (sedangkan masyarakat menganggap dia orang utama).

Syaikh Abi Chasan berkata : setiap orang yang mengaku hatinya futuh (dibuka oleh Alloh) tetapi dirinya berpura-pura di dalam to’at ibadah kepada Alloh atau tamak dengan apa yang ada di tangan mahluq Alloh maka orang itu bohong.
TENTANG TASAWWUF

Jadi dalam Islam ini sebenarnya tidak ada pertentangan, yang ada hanya berupa tingkatan pemahaman, kita punya dalil yang bisa menguatkan argumentasi kita, orang juga punya dalil sebagai penguat alasan terhadap suatu ilmu, jadi bukanlah alasan, jika dalam perbedaan pendapat ini menjadikan suatu kecaman terhadap orang lain, lebih utama pengetahun orang lain itu diterima sebagai tambahan bagi penyempurnaan ilmu yang kita miliki bukan dijadikan sebagai bahan untuk memperlebar pertentangan dan permusuhan yang akibatnya akan menimbulkan kekeruhan dalam Islam itu sendiri, dan lebih fatal berakibat menghancurkan Islam itu sendiri tanpa disadari.
Mengapa sebagian orang Islam sendiri mengecam tasawuf? Terhadap aliran yang menfokuskan tujuan untuk membersihkan buah/batin karena asosiasi mereka telah dikeruhkan oleh mistik dan yang sejenis diluar Islam dan sukarnya mereka tidak bisa memisahkan hal tersebut sehingga dengan cepat dan singkat mengambil sesuatu keputusan bahwa tasawuf itu berasal dari aliran-aliran kebatinan/ mistik bukan dari Islam. Hal ini sebenarnya suatu kesimpulan yang terlalu dini (terlalu pagi) kurang berhati-hati jadi aliran tasawuf sebenarnya bukan seperti yang diduga oleh sebagian orang tersebut kalaulah ada keserupaan dalam hal tertentu namun jelas tidak akan sama, dan orang yang menentang tasawuf (toriqoh) justru adalah orang yang menyamakan/mengidentikan aliran tasawuf dengan aliran mistik diluar Islam, perbedaan itulah yang akhirnya mengerahkan pikiran orang tersebut, sedangkan tasawuf yang diluar volusi pikiran orang tersebut, kelak kita memberi segi kesamaan dalam cara peribadatan antara orang Islam dan orang diluar Islam tentu akan kita temukan kalau orang Islam sholat menghadap kiblat yakni ka’bah sedang diluar Islam menyembah berhala apa itu tidak serupa? Tapi jelas tidak sama dalam tujuan dan hakikatnya yang sebenarnya, lantas apakah kita katakan bahwa Islam berasal dari suatu agama yang bukan Islam? Jelas tidak, jelas bukan, demikian juga halnya dengan tasawuf tentuk tidak akan menyamakan bagi orang yang mau berfikir sekaligus merenungkan dan memahami namun kita pun tidak menutup mata bahwa memang ada yang mengaku dari aliran tasawuf yang mendapat pengaruh-pengaruh dari kebudayaan diluar Islam. Jadi kesalah pahaman dalam bidang tasawuf tersebut hanya disebabkan orang yang tidak memahami tasawuf dan hakikotnya yang terkandung didalamnya, jadi yang sebenarnya tidak mengenal sama sekali pengetahuannya tentang tasawuf hanya membaca buku-buku atau hanya sekedar mendengar dari ucapan orang lain dan tidak langsung menanyakan atau mendengar penjelasan dari seseorang yang ahli tasawuf sehingga terjadi kesalah pahaman, suatu contoh dawuhnya Syaikh Ibny Arobi yang menceritakan hakikot tasawuf dengan mempertemukan bahasa yang bukan bahasa umum akhirnya mengundang daya tanggap dari orang lain yang sebetulnya dia tidak tahu tasawuf sehingga keluar ucapan-ucapan yang cukup bermutuh dan kesimpulan yang terlalu dini dan agak kurang berhati-hati karena orang mengira sebagaimana ucapan ibnu ’Araby tersebut sama dengan pisang goreng yang tidak bisa disantap akhirnya orang menyantap pisang goreng ibnu ’Araby tersebut jadi mual perutnya dan akhirnya muntah-muntah dan tentu saja dia jadi sewot dengan Ibnu ’Araby dan mengutuk kepada Ibnu ’Araby, sebab ternyata yang dikira pisang goreng yang sudah siap disantap tersebut adalah merupakan bahan mentah seperti masih jadi tepung, pisang dan alat penggoreng yang tidak bisa dimakan begitu itu. Kalau pun dimakan tidak enak rasanya, (maka ucapan orang tasawuf yang merupakan Isyaroh jangan kau telan begitu saja), begitu juga ucapan-ucapan yang dikeluarkan orang ahli tasawuf, jangan langsung disantap, tapi kita harus juga mengikuti perbuatan mereka dalam memproses pisang goreng tersebut sampai pisang goreng itu jadi dan siap untuk disantap, barulah kita akan merasakan pisang goreng yang mereka produksi. (Jadi jangan mengira ilmu tasawuf itu sebagai klenik, padahal kita wajib belajar ilmu tiga ini yaitu : ilmu fiqih, ilmu tauhid, dan ilmu sufy).
Kalau sudah pagam hal ini kau juga harus memahami ucapan-ucapan ahli tasawuf, ikutlah perbuatan mereka, pelajarilah ilmu-ilmu mereka dan kerjakanlah seluk beluk toriqoh mereka, seperti membersihkan diri lahir batin dari perbuatan tercela, mensucikan hati, benci terhadap dunia, tidak bersifat matrealis, tawaduk, rendah hati, cinta kepada sesama makluk Alloh, mengalahkan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang lain cinta terhadap Alloh dan sebagainya. Nah bila sifat-sifat semacam itu sudah menjadi hiasan bagi diri kita barulah akan mampu memahami setiap kalimat yang diucapkan ahli sufi. Janganlah mengatakan sesuatu atas dasar kebodohan terhadap sesuatu yang kita katakan tersebut, karena kita mungkin saja mengatakan sesuatu tidak benar karena kita tidak memahami yang bakal kita katakan / kita salahkan tersebut dan jangan mengukur ilmu tadi (ilmu Ibnu ’Aroby) disamakan dengan ilmu kita, sebab mungkin kita baru duduk disekolah dasar sedangkan Ibnu ’Aroby sudah duduk ditingkat mahasiswa, jelas otak kita ini tidak mampu mencerna pendapat-pendapat orang yang sudah di universitas, oleh karena itu bila kita hanya berpegang pada suatu ilmu maka mudah sekali menyatakan salah terhadap orang lain atau satu ajaran yang dibawanya karena kita belum memahami ilmunya orang lain, jadi haqiqotnya bukan orang lain yang salah, tapi kita sendiri yang belum mampu mencerna ilmu yang dimiliki orang lain. Untuk mencapai kesempurnaan ilmu, pelajarilah gabungan dari ilmu ketiga itu. Seperti ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Jika salah satu dari ilmu ditinggalkan, membawa kearah terpecah. Bukankah dalam Islam kita diperbolehkan sekedar mempelajari ilmu sihir, ini hanya sekedar untuk mengetahui ilmu tersebut, tapi dilarang untuk mengamalkannya, oleh sebab itu saya menyatakan di dalam Islam tidak ada pertentangan dan pertentangan itu ada di dalam kamus orang yang bodoh, tidak pada orang yang jernih fikirannya.
Jadi apabila ketiga ilmu tersebut dipisahkan akan membuat manusia tidak akan sempurna, sebab dengan belajar ilmu tauhid kita bisa mengenal Alloh, dan mempelajari ilmu fiqhi kita bisa mengetahui bagaimana cara-cara beribadah kepada Alloh, dan dengan belajar ilmu tasawuf kita akan mendapat pelajaran bagaimana agar dapat ihlas dalam melaksanakan amal ibadah, dengan demikian barulah kita akan mendapat mencapai ke suatu tingkat hamba Alloh dan barulah kita akan dapat mencapai derajat ”insan kaamil”. Dengan demikian jelaslah bahwa ketiga ilmu tersebut merupakan mata rantai yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya dan tidak dapat dipisahkan, maka bilamana dipisahkan akan membawa kehancuran dan perpecahan baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Jadi untuk mencapai kesempurnaan yang kita harapkan kita harus mengintegrasikan bagian-bagian dari gabungan ketiga ilmu tersebut. Suatu misal, sama halnya seperti orang yang memisahkan antara air, kopi, dan gula, maka jika integrasi dari tiga unsur itu ditinggalkan salah satu unsurnya, maka kita tidak akan bisa merasakan atau menikmati kopi yang sedap, kalau tidak ada gula kopi pahit namanya, maka rasanya tentu tidak enak, seperti halnya diberi gula, bila hanya kopi dengan gula sedangkan airnya tidak ada juga tidak bisa dinikmati. Air kita umpamakan ilmu tauhid, dan juga pokok dari segala-galanya suatu perbuatan tanpa didasari suatu keimanan tauhid tidak akan menghasilkan apa-apa. Contoh lagi rumah tanpa tiang tidak akan bisa berdiri, sedangkan kopi kita ibaratkan fiqhi dan dinding, dan gula bisa kita ibaratkan tasawuf penyedap dari semua unsur yang telah disebut tadi dan merupakan atap bagi rumah, kalau rumah tanpa atap bukan rumah namanya. Dengan mengintegrasikan ketiga unsur tersebut barulah sempurna menjadi kopi yang sedap dan rumah yang baik, dan agama yang Islamy, maka air ibaratnya ilmu tauhid, kopi ibaratnya ilmu fiqhi gula ibaratnya ilmu tasawuf, jadi apabila ada orang yang menentang ilmu tasawuf, hanya karena orang tersebut belum mengenal atau bodoh sama sekali dengan hakikatnya tasawuf, karena mereka menilah hanya semata-mata menggunakan akal, sedang tasawuf lebih banyak menggunakan rasa (dzauq) sebab jika hanya dengan akal, akal tidak akan sanggup menjangkau mencapai semua itu. Alloh tidak akan bisa dijangkau dengan akal semata karena dia suatu yang goib dan tidak dapat dilihat dengan panca indra, sedangkan akal hanya dapat mencerna yang jelas yang nampak-nampak saja yang mampu dijangkau oleh panca indra dibalik itu semua akal tidak sanggup memproses dan akal tidak akan berfungsi.

SELESAI…

Alih Bahasa : Ust.Bpk.M.Asy hadi bin Abu Baka

Biografi Shahibul Marbath

Al Imam Muhammad bin Ali dilahirkan di Tarim , hafal Al Qur’an, beliau tumbuh dan berkembang dalam asuhan lembut ayahnya yang seorang pejuang, seorang pemimpin kaum, yang menghabiskan usianya untuk hal yang selayaknya dilakukan oleh orang-orang yang merupakan tonggak ilmu dan pendidikan, jawara sastra dan sopan santun, yang mana waktu mereka habis di majelis-majelis Al Quran, tasfsir, Hadist, dan ilmu Usul, mengajar atau menghadiri jama’ah, ibadah, dan majelis amal-amal Solih yang dilakukan oleh orang-orang terkemuka di masa itu.

Al Imam Shahibul Marbath tercermin juga pada diri beliau sifat mulia para pendahulunya, mereka mempraktikkan dalam kehidupan prinsip seimbang dalam masalah agama dan dunia yang terbias dari basis ilmu yang ada pada diri mereka, mereka memberikan porsi perhatian terhadap masalah pertanian yang merupakan profesi keseharian mereka sebagaimana mereka memberikan perhatian terhadap masalah Ilmu dan majelis-majelisnya supaya mereka tidak merasa butuh akan apa yang ada ditangan orang lain.

Demikianlah Al Imam shohibul Marbath tumbuh berkembang dibawah pantauan ayahnya belajar dan mengambil faidah dari perdagangannya, prinsip-prinsipnya, dan methode yang ditempuh untuk mencapai target, Ayahnya sejak dini telah memasrahkannya kepada syekh-syekh yang bangga untuk mencetak Al Imam Shahibul Marbath untuk menjadi orang besar baik secara dhahir maupun bathin, jika kita tahu siapa mereka guru-guru yang mencetak kepribadian sang imam setelah ayah beliau, maka akan hilang rasa takjub kita, mereka adalah:
1. Al Syekh Al Allamah Salim Ba Fadhal
2. Al Imam Salim bin Basri
3. Syekh Al Allamah Ali bin Ibrahim Al Khatib
Al Imam Muhammad bin ali terkenal dengan keterkemukaannya, semua orang mengakui ke salehan dan ketakwaan beliau, orang dating dari segala penjuru dunia demi untuk menimba ilmu, bertabarukan, atau minta ijazah dar beliau.

Pengarang Ghararul Baha a Al Dlau-iy mensifati beliau sebagai seorang yang mumpuni dan ahli di segala bidang ilmu, dalam hal ilmu dan amal pada masanya beliau seakan tidak ada yang mengalahkan .

Diantara orang-orang yang banyak menuimba ilmu dari beliau pada masa itu adalah kedua puteranya Alawi dan Abdullah, Syekh Al Allamah Ali bin Ahmad Ba Marwan, guru dari Al FAqih Al Muqaddam, Al Qadli Ahmad bin Muhammad Ba Isa, Syekh Ali bin Muhammad Al Khatib yang terkenal dengan Shahibul Wa’al, dan dari Dhafar Syekh Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Sa’ad bin Ali (Shahibu Syihir), Syekh Ali bin Abdullah Al Dhafari dan alin-lain.

Perhatian sang Imam terhadap pertanian dan perdagangan

Konon Al imam Muhammad bin Ali condong untuk bekerja mencari rizki halal dan selalu memotivasi untuk mengeluarkan kekayaan bumi lewat pertanian, sebagaimana beliau selalu memotivasi untuk menggali kekayaan ilmu dengan belajar dan membaca, oleh karena itu beliau selalu keluar ke Bait Jubair bersama keluarganya, guna mengawasi penanaman benih kurma, biji-bijian, sayuran dan lain-lain. Kemudian beliau memperluas wilayah kerjanya sehingga menarik banyak pekerja untuk bisa mengambil keuntungan hasil bumi tersebut, Al Imam sangat perhatian dengan musim-musim cocok tanam, beliau selalu menyiapkan gudang-gudang di Tarim dan Bit Jubair yang dipenuhi dengan bebuahan dan bebijian al ini menambah pemasukan sang imam setiap tahunnya, dikatakan bila beliau hendak ke Bait Jubair ketika musim panen dating, para ibu-ibu menyapu gudang-gudang beliau dari sisa-sisa bebijian, sisa-sisa tersebut bisa terkumpul antara 40 sampai 80 Qahawil (baca: satuan volume pada saat itu) atau semisal 10 mud Nabi SAW.

Disamaping cocok tanam beliau juga seorang saudagar yang menjual makanan dan bebijian, terutama dijalan antara Hadhramaut dan Dhafar, karena beliau sudah terbiasa menempuh perjalanan di pesisir Dhafar dengan tujuan berdakwah, cantuk atau sekedar berlibur, sambil membawa barang dagangan, kadang beliau berangkat bersama anak-anaknya dan singgah di daerah Dhafar berbulan-bulan samapi beliau disana dikenal oleh orang dari segala lapisan,beliau berjasa dalam menyebarkan mazhab Imam Syafi’I di Mahrah dan sekitarnya , yang akhirnya kabilah-kabilah Mahrah dan Dhafar sangat menghormati dan menaati beliau, rombongan-rombongan pedagang dari bait Jubair ke Dhafar biasa berangkat dengan kawalan sang Imam, karena orang-orang baduwi dan para tentara tidak berani macam-macam kepada beliau dan para pengikutnya.

Di Dhafar beliau memiliki majlis ta’lim, majelius fatwa syariah, beliaulah yang memasukkan Aqidah Sunniah ke Dhafar, beliau berhasil menyadarkan penduduk Dhafar akan kesalahan mazhab khawarij yang mereka yakini dan mengubah haluan pandangan mereka menjadi Ahlu Sunnah sebagaimana terjadi pada Hadhramaut, dari sisi ini beliau menteladani kakek beliau Al Muhajir, sebab kalau dulu Imam Muhajir menyebarkan mazhab imam Syafii di Hadhramaut, maka Shahibul Mrabath menyebarkan mazhab ini di Dhafar, dan kalau dulu Imam Muhajir berhijrah dari Basrah ke Hadhramaut maka Shahibul Marbath berhijrah dari Hadhramaut ke Dhafar, bila Al Muhajir dulu bisa menenagkan pergolakan antar kelompok dan mazhab di Hadhramaut, maka Shahibu Marabath memiliki peran yang sama di Dhafar,tempat tinggal Shahibul Marbath di Dahfar adalah Marbath disitu beliau terkenal kepemimpinannya dan meluas pengaruhnya.

Kedermawanannya

Al Imam Muhammad bin Ali sejak pertama sudah terkenal dengan ke deramawanan dan kesukaannya untuk membelanjakan hartanya di jalan kebaikandan kebajikan, sampai-sampai orang-orang awam berlebihan dalam menyifati beliau, mereka mengatakan, sang imam menyantuni penghuni 100 rumah dari bangsa jin apalagi dari bangsa menusia, di riwayat yang lain, menyantuni penghuni 120 rumah, tanpa memandang penyifatan yang pertama atau yang kedua mana yang benar, kenyataan ini menunjukkan kelapangan beliau dalam harta dan derma.

Ha ini ditunjukkan juga dengan maraknya tamu-tamu beliau, penulis Al Jauhar Al Syaffaf mengatakan Syekh Muhammad bin Ali berderma kepada orang banyak, suatu saat seseorang meninggal dunia lantasAl Imam menyuruh keluarganya untuk membuat makanan untuk keluarga jenazah, keluarga beliau mengatakan kita tidak memiliki makanan, tepung ataupun adonan, lantas beliau mengatakan kumpulkan takhamir (baca : sisa adonan tepung yang masih melekat di tempatnya) dulu orang-orang selalu menyisakan ditempat adonan bagian kecil dari adonan tersebut, setelah dikumpulkan dan dimasak terkumpullah 7 bak roti.

Penulis Al Gharar menyifati beliau sebagaimana berikut :

إمام نجيب في العلوم معظم حوى شرفي مجد بعقد مفصل

Seorang panutan mulya yang diakui keagungan ilmunya yang menyandang dua keutamaan tepisah

رؤوف عطوف ذو سخاء و همة مجيد حميد بالمهابة معتلي

Lemah lembut , berkamauan tinggi dan dermawan, mulia terpuji berwibawa tinggi

حليم سخي عالم ذو نزاهة و علم و جاه حازه مع تفضل

Pemaaf, dermawan, berilmu, consisten, berilmu, pangkat, dan keutamaan

شريف منيف شاكر ربه على مزيد من الإنعام بالله الممتلي

Mulya, terhormat, berderajat syukur tinggi atas tiap nikmat dan tambahan Tuhannya

Al Imam Haddad mensifati beliau dikitab Mimiyah beliau sebagai berikut:

و صاحب المرباط إمام جامع

Shahibul Mirbath panutan sempurna
تفرع منه أصل كل إمام

Nasab para panutan kembali padanya

ألئك وراث النبي و رهطه

Mereka pewaris Nabi dan kelompoknya

و أولاده بالرغم للمتعامي

Putra-putranya sekalipun bagi orang yang pura-pura buta

 

Para penulis biografi mensifati sang imam

Bermacam cara digunakan para penulis biografi untuk mensifati beliau, hal ini semakin menunjukkan ketinggian derajat beliau, penulis (Ghararul Baha-a Al Dhauiy) mensifati beliaud dengan : beliau adalah imam panutan, ahli fiqih, guru yang murni, guru besar yang terkenal memiliki karamah dan keistimewaan jelas, kebarakahan nyata, derajat mulya, kepribadian yang lurus, singa diantara singa-singa.

Penulis kitab Al Gharar mensifati beliau dengan: beliau adalah singa yang menyandang segala keutamaan, maha guru, peninggalan para ulama yang mulya, pendidik dan panutan murid, Syaikhul Islam, tonggak orang-orang terhormat, melampaui jangkauan para pendahulunya, mendahului orang-orang utama dalam berlomba, lebih tinggi dari segala derajat tinggi, sangat dermawan, banyak menyantun, ringan tangan, tenaga ahli, pemilik kesempurnaan orang-orang sempruna, dan kemauan, salah satu orang yang mencapai derajat Al Arif billah, kekasi Allah, kakek yang sempurna, memiliki kemurnian yang tinggi, salah seorang ulama thariqat dan pembimbing kearah hakikat, penempuh tingkatan-tingkatan agama, peniti jalan Nabi SAW, sampai pada: Imam bertakwa, sanagt mumpuni disegala bidang ilmu, satu-satunya ahli ilmu dan amal, ahli zuhud dan wara’ dimasanya, beliau menjadi tempat tujuan para santri dari segala penjuru dunia untuk menimba ilmu darinya, karena beliau adalah harta karun ilmu yang terpemdam, beliau pemelopor amar ma’ruf dan nahi munkar, orang yang melihatnya akan terkagum melihat keutamaan-keutamaan nya, beliau memiliki wibawa yang mewarnai hidup beliau dan kebagusan yang tampak di dahi beliau, beliau selalu mendapat rumor positif dari segala lapisan, ilmu dan keutamaan dari Allah menempel pada beliau, para raja dan penguasa tunduk pada beliau ilmu beliau memancar di seantero Yaman, hadhramaut dan Dhafar, terlahirkan dari beliau para panutan yang memiliki ilmu, zuhud, dan kemulyaan.

Keluarga dan anak cucu shahibul Mirbath

Dalam kitab Al Gharar halaman 131 disebutkan bahwa ibu Shahibul Mirbath dan saudaranya Husain adalah Syarifah Fatimah binti Syekh Muhammad bin Ali bin Jadid, adapun keturunana Shahibul Marbath:
1. Alawi bin Muhammad Shahibul Marbath:
Seorang yang dermawan, alim, consisten, mermadzhab Syafi’i dan Asy’ary, meninggal di Tarim pada tahun 613H, meninggalkan 3 orang putra :
1. Ahamd bin Alawi, beliau adalah orang yang pertama kali bertaswwuf sebelum Al Faqih Muqaddam, meninggal beberapa waktu sebelum beliau, Ibnu Hassan dalam Tarikhnya mengatakan, beliau tidak meninggalkan anak kecuali seorang putri yaitu Syaikhah Al Arif Billah Ummu Al Syuyukh Fathimah bin Ahmad, beliau adalah ibu Syekh Ali dan Syekh Abdullah Ba Alawi, Syekh Ahmad meninggal pada 650H, belajar fiqh pada Syekh Ali bin Ahmad Ba Marwan.
2. Abdul Malik bin Alawi, beliau memiliki keturunan di (Bruj) India, berriwayat hidup bagus, tidak diketahui data tentang wafat beliau, dikatakan kapal beliau ketika pulang dari haji ditiup angina dan berlabuh di India lalu disana beliau hidup menikah dan beranak.
3. Abdurrahman bin Alawi, pemilik keutamaan dan peniti Thariqah, zuhud, wara’, dan ahli fiqh, diantara kitab yang beliau hafal Al wasith karangan Imam Ghazali, berputra satu bernama Ahmad yang terkenal dengan orang yang paling mendalami Al Wajiz dan menghafalnya, dan gemar membaca kitab-kitab AL Ghazali dan Abu Ishak Al Syairazi, kitab-kitab tersebut dibaca pada Al Faqiih Abdul Rahman bin Abi Ubaid, Ali bin Ahmad bin Abi Marwan, dan Al Faqiih AL Muqaddam.
2. Abdullah bin Al Imam Muhammad Shahibul Mirbath:
Imam Al Muhadist (baca: Ahli Hadist yang meriwayatkan hadist) berilmu luas sekaligus ahli mengamalkan ilmunya beliau terhitung satu-satunya yang mencapai derajat ini, Al Imam Muhammad bin Ali Al Qal’iy menyebutkan di juz pertama kitab Jami’ Al Turmudzi didalam ijazah beliau yang kemudian diikuti oleh Al Imam Syekh Abu Al Qasim bin Faris bin Madli : Al Imam Abdullah bin Muhammad membaca kitab tersebut dan Ibnu Madli mendengar bacaan beliau. Model Ijazah beliau sebagai berikut: Aku mengijazahi keduanya kitab Jami’ Abi Isa Al Tirmidzi dan lainya. Hali ini terjadi pada tahun 575 H.
3. Ali bin Al Imam Muhammad Shahibul Marbath:
Beliau mengikuti jalan ayahnya, beliau ini lah ayah Al Faqiih Al Muqaddam, pelindung serta pendidiknya, beliau meninggal dunia di Tarim.
4. Ahmad bin Al Imam Muhammad Shahib Al Mirbtah :
Beliau termasuk Ulama yang mengamalkan ilmunya, beliau tidak berketurunan kecuali putri beliau satu-satunya yaitu : Syaikhah Zainab Ummul Fuqaraa (baca : ibu orang-orang faqir) beliau adalah istri Al Faqiih Al Muqaddam dan ibu putra-putranya, beliau meninggal pada 12 syawwal 699H.

Al Imam Muhammad bin Ali di Dhafar

Al Imam Muhammad bin Ali meninggal di kota Mirbath Dhafar kuno (sekarang masuk wilayah Oman,Pen) pada tahun lima ratus enam puluh sekian hijriah , di sana terdapat tempat tinggal beliau, makam, dan riwayat hidup terpuji beliau. Sebab dengan kebaikan-kebaikan dan manfaat-manfaat yang diberikan Allah dan memancar dari tangan beliau dan menyinari hati setiap orang beliau, akhlaq terpuji beliau, kewara’an beliau dalam berdagang, kemauan dan tekad beliau yang kuat, ini semua menjadika beliau diberikan oleh Allah banyak Karamah, juga menyebabkan keseganan orang kepada beliau. Kesabaran beliau dalam berdakwah dan methode dakwah beliau yang menggunakan cara hikmah dan mauidhah hasana menjadikan hati orang-orang badui lunak.

Oleh sebab ini meninggal beliau membawa pengaruh besar pada kejiwaan mereka, karenanya para pecinta dan pengagum beliau merasa tenang dengan adanya makam beliau disana, konon makam beliau menjadi salah satu tempat tujuan ziarah terkenal di Dhafar, karena para murid dan orang-orang yang pernah menimba ilmu dari beliau serta penerus mereka tidak henti-hentinya mengunjungi makam beliau silih berganti.

Orang-orang shaleh yang dalam hidupnya memiliki hubungan kuat dengan syariah khususnya syariah islam, peninggalan mereka tetap hidup sebab para generasi yang memiliki cara pandang normal dan dengan kesadaran penuh tetap memegang teguh peninggalan-peninggalan tersebut,

Di Mirbath Al Imam Muhammad bin Ali selepas kwafatan beliau serasa beliau tetap hidup sebab majelis-majelis hadhrah dan riwayat beliau tetap dijaga dan diingat, hati ribuan generasi telah terbiasa dengan mengingat prinsip-prinsip, sopan santun, dan karakter-karakter beliau yang mulia. Bahkan ilmu beliau menjadi perekat tali kasih antara penduduk setempat dengan orang-orang pedalamannya di satu sisi, disisi lain menjadi bukti sejarah hubungan kuat antara Yaman dan Oman . juga menjadi teladan bagi generasi selanjutnya dalam hal penyatuan pengaruh ilmu dan praktiknya, serta pnyebaran prinsip perdamaian, cinta dan kasih saying diantara sesama tanpa mlirik kejalan kekerasan dan penggunaan senjata dan perang.

Wawasan ilmiah tentang sejarah tercermin padaWawasan tentang prinsip para pelaku sejarah, mengembalikan wawasan ini dengan methode modern yang dimuati dengan Syariah islamiyah yang murni dari limbah siasat merupakan cara jitu bagi umat islam khususnya dan umat manusia pada umumnya untuk mengetahui hakikat kehidupan baik secara materi ataupun spiritual.

Peninggalan para kekasih Allah dan para pejuang expansi islam di dunia merupakan contoh jelas dari isi wawasan ini, makam keluaraga nabi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dan terlatih oleh tangan-tangan mereka, jika benar-benar dimanfaatkan untuk memperbarui dan merangsang tekad para pemuda yang telah terpolusi oleh limbah peradaban baru, akan berdampak besar dalam membentuk generasi yang menyandang dalam dirinya dua hal yaitu, keutamaan hubungan dengan para solihin dan prinsip-prinsip mereka juga kehidupan modern beserta efek ilmiyah dan praktisnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s